<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845</id><updated>2012-01-24T11:41:17.472-08:00</updated><category term='merenung'/><category term='gereja 3.0'/><category term='dialog'/><category term='poem'/><category term='artikel'/><category term='seni'/><category term='gereja dan masyarakat'/><title type='text'>impian, kenangan dan celotehan saya</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>42</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-5313215304889220218</id><published>2012-01-24T11:37:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T11:41:17.489-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja dan masyarakat'/><title type='text'>Tidak Hanya Dari Kata Orang: Short Course on Islamic Studies Komisi Dialog Antar Agama Sinode GIA</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/--AMMoy2auDY/Tx8JP5vmqnI/AAAAAAAAAEg/ZNhbdp8cFo0/s1600/rony%2Bponpes.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/--AMMoy2auDY/Tx8JP5vmqnI/AAAAAAAAAEg/ZNhbdp8cFo0/s320/rony%2Bponpes.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701285822077512306" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;oleh: Rony C. Kristanto, M.Th (Ketua Komisi Dialog Antar Agama Sinode GIA, 2008-2012)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi Islamologi di STT umumnya hanya sebanyak 2 SKS. Itupun tidak dengan narasumber tangan pertama, artinya pengajarnya juga Muslim. Bahkan Seringkali mata kuliah Islamologi masih menggunakan pendekatan apologetis dan jauh dari kesediaan untuk sungguh-sungguh belajar dan mendengarkan dari pemahaman rekan-rekan Muslim sendiri. &lt;br /&gt;Padahal salah satu konteks utama kita di Indonesia adalah perjumpaan dengan umat Islam. Karena itulah Komisi Dialog Antar Agama Sinode GIA berinisiatif memfasilitasi para pengurus Majelis Daerah dan Pendeta GIA dalam lingkup Kota Semarang untuk mempelajari Islam secara lebih utuh dari tangan pertama. Bukan hanya dalam tataran teoritis namun juga pengalaman dialog secara langsung serta kunjungan ke basis kultural Islam, yakni Pondok Pesantren.&lt;br /&gt;Dalam acara yang berlangsung selama 3 kali tersebut, peserta mendapat pengenalan mengenai profil NU yang disampaikan oleh Bp Abu Hapsin, Ph.D (Wakil Ketua PW NU Jateng, Ketua FKUB Jateng dan Dosen IAIN Walisongo, Semarang). Profil Muhammadiyah yang disampaikan oleh Bp M.Tafsir, M.Ag (Sekretaris PW Muhammadiyah Jateng dan dosen IAIN Walisongo). Pengenalan mengenai ragam Islam Nusantara dan persebarannya disampaikan oleh Tedi Kholiludin, M.Si (Pengurus Lakpesdam NU Jateng, Direktur eLSA dan Kandidat Doktor Sosiologi Agama dari UKSW, Salatiga). Topik yang lebih spesifik mengenai isu Islam dan Politik disampaikan oleh Abraham S. Wilar (Direktur Asosiasi Teolog Indonesia), seorang teolog kristen sekaligus Islamolog muda yang sedang menempuh studi s3 di ICRS, Yogyakarta. Sementara topik seputar Isu Syariat Islam disampaikan oleh Bp Solek, MA (Dosen IAIN Walisongo). Dalam sesi-sesi tersebut Rony C. Kristanto selaku Ketua Komisi Dialog Antar Agama menjadi moderator dan fasilitator diskusi.&lt;br /&gt;Selain sesi di kelas, peserta diajak berkunjung ke Pesantren Al-Itqon, Bugen, Tlogosari Semarang. Pengenalan seperti ini penting agar para peserta tidak hanya memahami realitas keberislaman secara text book. Apalagi kalau hanya melihat di media massa yang hanya menyuguhi wajah Islam yang intoleran, lekat dengan terror. Maka melalui kursus ini juga dimaksudkan untuk membaca Islam, yang pada nyatanya tidak tunggal.&lt;br /&gt;Di Pesantren Al-Itqon rombongan disambut hangat oleh pengurus Yayasan Al-Wathaniyyah yang menaungi pesantren tersebut. Kyai Sholahuddin Shodaqoh atau yang biasa dipanggil Gus Sholah, salah satu pengasuh Pesantren Al-Itqan memberi ucapan selamat datang di Al-Itqan. Tak lupa, Gus Sholah menyampaikan duka yang mendalam atas tragedi Bom di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Kepunton, Solo pada Minggu (25/9).&lt;br /&gt;Menurut Gus Sholah, pesantren betapapun ia adalah institusi tradisional, tetaplah menghargai perbedaan. “Dalam Islam, toleransi itu bukan barang aneh. Kalau ada orang Islam yang tidak toleran, itu justru jadi aneh” tutur Gus Sholah. Prinsip paling penting yang diajarkan dalam Islam ketika berhadapan dengan perbedaan adalah ta’aruf atau saling mengenal. “Tentu bukan hanya kenal namanya, tetapi juga budayanya dan lain sebagainya” lanjut Gus Sholah.&lt;br /&gt;Khoirul Anwar salah satu pengurus Pesantren Al-Itqon menambahkan kalau pesantren sering disebut-sebut media sebagai sarang kelompok garis keras. “Pandangan ini sebenarnya keliru, karena yang menjadi produsen para teroris itu adalah pesantren dalam tanda kutip”, tutur Khoirul. Menurut alumnus Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta itu, yang disebut pesantren sejak awal adalah lembaga pendidikan Islam tradisional yang menjaga aspek moderatisme dan menghindari ekstrimisme. “Kalau ada pesantren yang mengabsahkan kekerasan, itu bukan dari kalangan pesantren Nahdlatul Ulama (NU)” tegas Khoirul. Pesantren yang berada di bawah garis perjuangan NU selalu terbuka untuk beradaptasi dengan nilai baru yang lebih baik sembari mempertahankan nilai lama yang baik. &lt;br /&gt;Hasil akhir dari kursus singkat ini bukan sekedar pengetahuan formal, namun diharapkan menjadi sebuah awal bagi masing-masing peserta untuk memiliki keberanian menyapa, menghargai dan belajar berelasi lebih lanjut dengan rekan-rekan Muslim yang ada di lokalnya masing-masing. (Rony C. Kristanto)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-5313215304889220218?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/5313215304889220218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2012/01/tidak-hanya-dari-kata-orang-short.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/5313215304889220218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/5313215304889220218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2012/01/tidak-hanya-dari-kata-orang-short.html' title='Tidak Hanya Dari Kata Orang: Short Course on Islamic Studies Komisi Dialog Antar Agama Sinode GIA'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/--AMMoy2auDY/Tx8JP5vmqnI/AAAAAAAAAEg/ZNhbdp8cFo0/s72-c/rony%2Bponpes.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-4301881239579740093</id><published>2012-01-24T11:27:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T11:32:02.820-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja dan masyarakat'/><title type='text'>Pentakostalisme dan Dialog Lintas Iman: Memandang ke Depan dari Sisi Lain</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-1HxhTBNebtE/Tx8HJMKJJxI/AAAAAAAAAEU/MmJTiiL5x3Y/s1600/rony%2Bsttj.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 277px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-1HxhTBNebtE/Tx8HJMKJJxI/AAAAAAAAAEU/MmJTiiL5x3Y/s320/rony%2Bsttj.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701283507738322706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto, M.Th&lt;br /&gt;(Artikel ini ditulis sebagai pengantar diskusi "Realitas Kekerasan dalam Gereja dan Masyarakat" yang diadakan oleh DEMA STT Jakarta dan Aosiasi Teolog Indonesia di Aula STT Jakarta, 29 September 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan tanpa perenungan akan melahirkan kedangkalan. Karena itu saya berupaya memberikan perspektif berdasar pengamatan dan pengalaman saya dalam melakukan praksis dialog interfaith sembari berkecimpung dalam pelayanan kejemaatan dalam lingkup gereja beraliran Pentakosta. &lt;br /&gt;Saya tidak ingin sekedar mengulang bahasan yang terus berulang dalam topik-topik ini, namun memilih untuk “memandang ke depan” dalam artian mencoba melihat realitas yang bergerak begitu cepat dan mau tidak mau menjadi kenyataan yang akan dihadapi beberapa tahun mendatang.  Dan “dari sisi lain” lebih berdasarkan pada pilihan untuk melihat secara apresiatif namun tetap kritis terhadap gereja dan kenyataan yang dihadapinya. &lt;br /&gt;Saya mengawali dengan kilasan reflektif terhadap kenyataan keberpihakan gereja, lalu melihat pergeseran yang sedang terjadi dalam kekristenan, upaya untuk mengakomodir (secara antisipatif) berbagai perubahan tadi dan usulan praktis yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja berpihak pada siapa?&lt;br /&gt;Pasca Reformasi 98 sebenarnya saya menaruh harap bahwa gereja tak lagi di bawah kungkungan istana seperti pada masa rezim sebelumnya. Jika dulu gereja buka suara sejauh terkait dengan kepentingan internalnya yang terganggu, saya berharap mendengar suara gereja terkait dengan isu ketidakadilan, pelanggaran HAM dll. Namun sebatas ingatan saya, demo besar-besaran pasca Reformasi hanya dilakukan oleh berbagai elemen kekristenan terkait dengan RUU Sisdiknas yang berhimpit erat dengan terganggunya kepentingan gereja. &lt;br /&gt;Tapi coba lihat saja berbagai isu seperti lumpur Lapindo dan penyerangan terhadap penganut Ahmadiyah, di mana  suara gereja? Saya menaruh hormat pada keterlibatan Ketum PGI bersama tokoh-tokoh agama yang lain dalam mengecam pemerintahan SBY. Tapi apakah itu cerminan suara gereja anggota? Dan sejauh mana gereja lokal terlibat dalam isu-isu di lokal mereka masing-masing?&lt;br /&gt;Dalam pengalaman saya untuk merespon berbagai kasus seperti penyerangan terhadap penganut Ahmadiyah maka dengan berbagai dalih yang ‘bijak’ para ‘tokoh’ memilih untuk menghindar. Alhasil ketika mengadakan konferensi pers di halaman kampus IAIN Walisongo Semarang hanya kawan-kawan muda dari LPM JUSTISIA Fakultas Syariah yang hadir dan bersama merumuskan pernyataan sikap, sesaat kemudian menyusul seorang Pandita Buddha. &lt;br /&gt;Tapi perhatikan bedanya ketika Terry Jones berniatan membakar Al-Quran. Undangan untuk menjalin silaturahmi dengan pemuka-pemuka Islam direspon dengan kehadiran puluhan pendeta berbagai gereja di kota Semarang. Mengapa responnya begitu berbeda? Tentu karena mengasumsikan bahwa keterlibatan dalam membuka suara bagi Ahmadiyah bisa mengancam keberadaan gereja, sebaliknya jika mengecam Jones maka keamanan gereja bisa terjamin. Suaranya masih sebatas kepentingannya sendiri.&lt;br /&gt;Tentu saya tak coba melihat permasalahan ini secara hitam-putih saja. Seakan memberi pembenaran pada gereja jika selama ini dia ‘dikorbankan’ entah sebagai katarsis kebencian ataupun dalam pengalihan isu. Tapi kapan gereja dirusak/dibakar gedungnya dan ditekan secara politik karena keberpihakannya kepada rakyat (people; the oppressed)? Apakah sikap ‘menghamba kepada Kaisar’ selama ini berbuah hasil manis dengan penjagaan terhadap aset-asetnya? &lt;br /&gt;Saya merasa bahwa gereja memilih untuk ‘memperkokoh liang dan memperindah sarang’ hingga ketakutan utama bagi keberpihakannya pada rakyat lebih dikarenakan keengganan kehilangan ‘tempat untuk meletakkan kepala’ (lihat Mat 8: 20). Bila kita semakin tak serupa dengan yang kita ikuti, maka jangan-jangan kita bukan lagi gereja (baca: bukan lagi kristen).  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mencermati ‘arus utama’ yang baru&lt;br /&gt;Salah satu fenomena global yang juga bisa diamati dalam gerak kekristenan di Indonesia adalah bergesernya ‘kiblat’ kekristenan. Pertumbuhan penganut kekristenan di Asia, Afrika dan Amerika Selatan didominasi oleh kekristenan yang bercorak Pentakostal/Kharismatik. Kelompok ini biasanya dinilai tertutup (eksklusif secara teologis) dan dengan demikian menutup diri dalam dialog dengan kelompok-kelompok kekristenan yang lain (apalagi dengan agama yang lain). &lt;br /&gt;Pada tahun 1960an saja kalangan Pentakosta masih digolongkan sebagai bidat oleh kelompok Protestan arus utama waktu itu.  Namun disana-sini sekarang relasi sudah membaik, meski kecurigaan dan olok-olok masih juga mewarnai. Tapi satu hal yang tak dapat dipungkiri adalah beralihnya ‘arus utama’ kekristenan dari kalangan prostestan ke pentakosta/kharismatik. Mungkin pernyataan ini terasa provokatif dan bisa terus diperdebatkan. Tapi saya mengajak dengan jernih mencermati realitas yang ada di sekeliling kita (khususnya dalam konteks urban). &lt;br /&gt;Dalam sebatas amatan saya terhadap gereja-gereja Protestan di kota Semarang maka jumlah kaum muda di gereja-gereja tersebut relatif kecil. Pada umumnya kebaktian kaum muda dihadiri belasan orang saja, padahal itu dalam lingkup gereja yang memiliki jumlah anggota jemaat dewasa cukup besar. Bandingkan dengan gereja-gereja pentakosta/kharismatik yang ibadah kaum mudanya bisa dihadiri puluhan hingga ratusan orang. Memang harus diakui bahwa sebagian dari jumlah itu merupakan ‘migrasi’ dari gereja-gereja protestan. &lt;br /&gt;Saya pikir kita sudahi perdebatan tentang ‘curi-mencuri domba’ dan isu seputar itu. Tapi fokus menghadapi kenyataan semacam ini yang sedang terjadi. Bila kaum muda adalah masa depan gereja, maka bagaimana masa depan gereja yang minim kaum muda? Dan jika Pentakosta/Kharismatik adalah salah satu realitas kekristenan ke depan, maka seperti apa masa depan relasi antar agama. Benarkah seperti yang diprediksi oleh Jenkins  bahwa ‘perang dunia ketiga’ adalah ‘clash of religions’ antara kelompok Kristen fundamentalis dan Islam Fundamentalis?&lt;br /&gt;Banyak sanggahan sudah diberikan kepada Jenkins termasuk oleh beberapa teolog Indonesia.  Memang tulisan itu provokatif, namun saya pikir kita patut membandingkannya dengan kenyataan yang sedang terjadi dan berubah dengan cepat di sekitar kita. Pertumbuhan pesat (secara kuantitatif) dari kalangan Pentakosta/Kharismatik mau tidak mau menunjukkan indikasi pentingnya peran dan keterlibatan kelompok ini dalam upaya mewujudkan peran gereja yang lebih luas dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Selama ini gereja-gereja protestan memang terlihat lebih concern dalam menyikapi isu-isu sosial (setidaknya secara teologis). Namun kini saya melihat adanya kenyataan di lapangan tentang keterlibatan kalangan kharismatik dalam merespon persoalan sosial, meski sebagian masih secara karitatif, namun di sana-sini saya melihat upaya pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi oleh gereja-gereja kharismatik. Mereka berbicara topik ‘transformasi’ dan ‘misi holistik’. Yang sinis dan pesimis memang akan terus melihat tindakan-tindakan ini semata sebagai ‘misi terselubung’. Namun dalam pengalaman saya berinteraksi dengan kelompok-kelompok ini maka agenda mereka memang perubahan di masyarakat. Dengan keterlibatan itu mereka berharap bisa menjadi saksi Kristus. Pemberitaan Injil ala kalangan Kharismatik tak bisa diidentikan dengan kelompok evangelical yang cenderung verbal dan apologetis. Bila sebelumnya kita hanya melihat kelompok ini dicirikan oleh ‘signs and wonder’, maka kini keterlibatan sosial menjadi ‘trend’ baru. &lt;br /&gt;Saya pikir yang perlu dilakukan oleh gereja-gereja protestan yang ‘melek’ teologi (akademis) adalah mendampingi dan ‘mereparasi’ teologi operatif yang dijalankan oleh kalangan Pentakosta/Kharismatik ini dan bukannya terjebak pada upaya ‘menghabisi’ dan berpolemik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperluas ‘lingkar dialog’&lt;br /&gt;Sebatas pengalaman saya dalam dialog lintas agama. Maka aktivis dialog dari kristen umumnya datang dari gereja-gereja prostestan. Mereka adalah produk dari STT yang bercorak ekumenis. Begitu juga dengan partner dialog khususnya dari kelompok Islam umumnya berasal dari latar belakang NU dan mereka yang studi di IAIN/UIN dan sejenisnya. &lt;br /&gt;Beberapa tahun terlibat dalam aktivitas interfaith, maka saya melihat pola-pola yang berulang. Kelompok yang mengklaim dirinya ‘pluralis’ akan berkumpul dengan ‘sesamanya’. Mereka cenderung ‘alergi’ terhadap kelompok yang dilabeli sebagai ‘eksklusif’ atau ‘fundamentalis’. Aktivitas dialog terjadi, relasi harmonis antar pemeluk agama bisa berjalan tapi sebatas kelompok yang merasa ‘pluralis’ itu tadi.&lt;br /&gt;Dalam hal inilah klaim-klaim tadi patut dipertanyakan. Benarkah mereka ‘pluralis’ atau sama eksklusifnya dengan yang dilabeli ‘fundamentalis’. Pernahkah berupaya merangkul dan mengajak kelompok lain dalam kekristenan yang selama ini dianggap ‘alergi’ dengan dialog? Agak janggal jika bisa berelasi baik dengan agama lain namun malah ‘mengkafirkan’ yang seagama. &lt;br /&gt;Apalagi jika mencermati pertumbuhan pesat dari kalangan Pentakosta/Kharismatik maka dialog lintas iman harus melibatkan mereka di dalamnya. Sejak tahun lalu saya bersama beberapa rekan yang terlibat dalam dialog interfaith berupaya untuk melibatkan kelompok-kelompok dalam Islam maupun Kristen yang selama ini ada di luar ‘lingkar dialog’. &lt;br /&gt;Beberapa rekan di Jogja mulai merintis pertemuan dengan kelompok-kelompok yang dianggap eksklusif tadi. Pembicaraan tidak selalu harus terkait aspek teologis. Namun esensi dialog ada dalam saling mendengarkan dan pengalaman perjumpaan itu sendiri. Selama ini kita melabeli kelompok lain tanpa pernah secara langsung berelasi dengan mereka. &lt;br /&gt;‘Anomali’ yang terjadi dalam praksis dialog agama di lingkup Gereja Isa Almasih Pringgading juga patut menjadi catatan tersendiri. Dalam lingkup kota Semarang saja misalnya, hampir tidak dijumpai prakarsa dialog oleh gereja-gereja protestan apalagi keberadaan bidang khusus untuk relasi antar agama dalam lingkup gereja lokal. Saya pikir aktivitas dalam lingkup GIA Pringgading ini bisa menepis apa yang dianggap ‘mustahil’ selama ini oleh ‘aktor-aktor’ dialog intefaith.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reproduksi ‘narasi damai’&lt;br /&gt;Tentu tak dapat dipungkiri jika catatan perjumpaan Islam-Kristen di Indonesia (khususnya secara politis) lebih banyak dipenuhi pengalaman tak menyenangkan (kalau tak mau dibilang traumatis dan melukai). Namun di sisi lain ada narasi damai yang terserak dan menjadi pengalaman sehari-hari bagi umat di akar rumput. Namun narasi damai ini tak pernah diceritakan ulang atau dipublikasikan kepada khalayak lebih luas. Kisah-kisah semacam ini sebenarnya ada di sekitar kita namun minim mendapat perhatian.&lt;br /&gt;Harus diakui kalau kita dibesarkan dalam budaya yang ‘mahal’ memberi apresiasi. Lebih mudah untuk melihat sisi lemah/kegagalan/hal yang tidak bisa dilakukan. Dalam perbincangan seputar gereja dan masyarakat jauh lebih sering disorot ketidakmampuan gereja dalam menjalankan peran sosial dan profetisnya. Apakah separah itu sehingga tidak ada percikan kisah-kisah keterlibatan gereja, baik secara institusi maupun dalam kiprah umatnya secara personal yang bisa dikisahkan ulang untuk menjadi inspirasi? Jangan-jangan cara kita mereproduksi kisah tak jauh beda dengan media yang berslogan ‘bad news is good news’. &lt;br /&gt;Di tengah minimnya publikasi seputar peran gereja di ruang publik, maka diperlukan inisiatif untuk melacak kisah-kisah perjumpaan yang damai dan positif. Mungkin pengalaman ini sifatnya personal dan lokal namun jangan meragukan kekuatan dari kisah-kisah yang dituturkan. Apalagi jika kisah-kisah itu dipadukan dengan kisah-kisah yang memiliki legitimasi dalam kehidupan mereka, dalam hal ini adalah kisah dalam Kitab Suci. &lt;br /&gt;Mudahnya berbagi dengan keberadaan jejaring sosial di internet bisa dimanfaatkan dengan menyebarluaskan narasi damai yang dikumpulkan ini. Setidaknya model semacam ini memberi kesempatan pada siapa saja untuk terlibat dan juga bisa menyentuh lebih banyak orang yang selama ini jauh dari hiruk-pikuk dialog yang (masih saja) elitis dan akademis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang ke Depan&lt;br /&gt;Diperlukan cara memandang yang baru terhadap kalangan Pentakosta/Kharismatik. Klaim-klaim sepihak dan sebutan ‘arus utama’ dan ‘arus pinggiran/sampingan’ semestinya mulai ditanggalkan. Selain itu dialog juga mestinya menggandeng yang dianggap berbeda bahkan berseberangan. Bukankah disitulah esensi dari dialog? Kita sedang dihadapkan pada sebuah perubahan yang berlangsung begitu cepat dan menggeser pola-pola relasi. Aktivis dialog lintas iman pun semestinya tanggap dan semakin dipermudah dengan ‘dunia yang semakin mendatar’ ini. Kemungkinan-kemungkinan semakin terbuka, bahkan kelompok yang tadinya dianggap eksklusif justru tampil secara aktif dalam kancah dialog. Cara kita memandang perlu terus diperbarui, termasuk sisi pandang kita pun perlu digeser.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-4301881239579740093?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/4301881239579740093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2012/01/pentakostalisme-dan-dialog-lintas-iman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4301881239579740093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4301881239579740093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2012/01/pentakostalisme-dan-dialog-lintas-iman.html' title='Pentakostalisme dan Dialog Lintas Iman: Memandang ke Depan dari Sisi Lain'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-1HxhTBNebtE/Tx8HJMKJJxI/AAAAAAAAAEU/MmJTiiL5x3Y/s72-c/rony%2Bsttj.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-764770458266036246</id><published>2012-01-24T11:23:00.001-08:00</published><updated>2012-01-24T11:25:49.241-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja 3.0'/><title type='text'>Stay Connected with The Youth</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ttIqwK8BpKk/Tx8FcxB5X8I/AAAAAAAAAEI/eJ4ZynSSQj4/s1600/connect.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ttIqwK8BpKk/Tx8FcxB5X8I/AAAAAAAAAEI/eJ4ZynSSQj4/s320/connect.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701281645030105026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;@ronyckristanto (facebooker dan penghuni twitterland; founder of Oikos Fellowship)&lt;br /&gt;-artikel ini pernah dipublikasikan di Majalah Berita GKMI, Juni 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mapping&lt;br /&gt;Bicara kaum muda selalu menggairahkan. Mengapa? Mereka hidup dalam masa peralihan karena itu begitu dinamis ritmenya. Trend begitu cepat beralih, mulai dari cara berpakaian, selera makanan, jenis musik, hingga potongan rambut. Bahkan sekarang merambah ke peralatan elektronik seperti HP, Netbook hingga Tablet PC membidik mereka sebagai segmen utama.&lt;br /&gt;Bila generasi yang lahir tahun 80an tumbuh, dipengaruhi  dan menghabiskan sebagian besar waktunya di depan pesawat TV. Hingga mereka kerap dinamai generasi MTV. Maka generasi 90an tak lagi serupa. Generasi baru ini stay connected. Mereka adalah generasi OnLine. Yang mempengaruhi hidup mereka kini adalah internet. Rata-rata mereka menghabiskan 70% waktunya di depan layar PC, Netbook, smartphone ataupun Tablet. Mereka berteman dengan lebih dari 200 orang di Facebook serta memiliki kisaran follower 70an orang di Twitter. &lt;br /&gt;Jargon generasi 80an dimana saya dibesarkan tak lagi relevan dengan mereka. Saya teringat masa ketika saya masih di SMP dan SMU. CD adalah barang mewah. Kaset bajakan masih merebak dimana-mana. Tapi kini kita tak hanya dihadapkan pada CD bajakan namun tawaran mengunduh gratisan mulai dari lagu, gambar hingga film disodorkan di depan kita dengan klik beberapa kali saja.&lt;br /&gt;Jaman ketika perpustakaan sekolah diisi oleh buku-buku berdebu dan pelajar kutu buku telah bergeser. Kini buku digital alias e-book bisa diunduh secara gratis. Mereka yang membawa e-book reader atau Tablet PC dianggap keren dan mewakili kelas sosial tertentu. Kini Tablet PC tak hanya dimonopoli merk bergengsi buatan USA. Namun Tablet PC murah made in China menyerbu pasaran. Saya membayangkan beberapa tahun mendatang pelajar sekolah tak lagi membawa tas berat berisi buku- buku teks itu. Namun cukup menenteng tas tipis berisi Tablet. Kelak harganya akan terjangkau seperti HP yang kini juga dapat dimiliki siapa saja.&lt;br /&gt; Kita tak hanya dihadapkan pada perubahan, tapi juga pada kemajuan teknologi dan keterhubungan antar manusia lewat jejaring sosial. Begawan marketing Hermawan Kartajaya dalam buku terbarunya “Anxieties/Desires” memprediksi bahwa ke depan pemberi pengaruh bukan lagi ‘Generasi Tua’ tetapi ‘Youth’, bukan lagi ‘warga negara biasa’/citizen tetapi Netizen/’warga dunia maya’. Dan hal ini sudah semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir ini. &lt;br /&gt;Lihat saja dukungan yang mengalir bagi Barack Obama lewat Facebook dan Twitter. Kumpulan massa berjumlah puluhan ribu yang berhasil digalang dan melakukan demonstrasi di sebuah negara eropa timur. Kalang kabutnya beberapa pemerintahan diktator ketika mengetahui rekaman kekejaman mereka berhasil diunggah ke YouTube serta dikaitkan ke akun facebook. Sehingga beberapa negara dengan arogan memblokir akses warganegaranya ke situs-situs tersebut. Belum lagi kehebohan yang ditimbulkan oleh Wikileaks dengan mempublikasikan berbagai kawat diplomatik negara adikuasa. Atau juga solidaritas sosial yang berhasil digalang melalui broadcast message via jejaring sosial ketika beberapa bencana melanda tanah air kita. Hal-hal yang tak terbayang di tahun 90an kini telah menjadi realitas baru bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relevant&lt;br /&gt;Lalu bagaimana kita dapat terhubung dengan generasi baru ini? Satu-satunya cara untuk terhubung adalah masuk ke dalam ‘dunia’ mereka. Kita tak bisa sekedar mengamati dari luar, lalu membaca berbagai referensi mengenai Facebook atau Twitter. Mengetahui jargon-jargonnya tapi tidak pernah OnLine bersama mereka. Itu tidak akan membuat kita terhubung, mengapa? Karena di era social network ini relasi tak lagi vertikal. Orangtua, Guru bahkan Pendeta tak bisa lagi menempatkan dirinya sebagai sumber pengetahuan absolut.  &lt;br /&gt;Sekarang kita mendapat kosakata baru sebagai padanan kata mencari/searching yakni ‘googling’. Anda yang belum pernah mendengarnya berarti berjarak semakin jauh dari generasi baru ini. Sambil mendengarkan anda berkotbah, mengajar ataupun mengomel,  mereka bisa mencari berbagai info dengan mengetikan kosa kata kunci yang dimaksud, lalu klik search dan terpaparlah akses tak berbatas ke berbagai situs yang memuat frasa tersebut. Atau shortcut lainnya ialah masuk ke Wikipedia dan membaca keterangan yang cukup untuk membantah berbagai argumen absolut yang kita paparkan secara vertikal dan satu arah itu.&lt;br /&gt;Relasi di social network menjadikan dunia lebih mendatar. Generasi baru ini hidup dengan pola hubungan yang horizontal. Kita tak bisa memaksa mereka berteman di facebook, yang harus kita ajukan adalah tawaran/permintaan untuk berteman, meski di dunia nyata kita adalah pembimbing/guru mereka. Kita tak bisa pula memaksa mereka untuk jadi follower di twitter, meski di gereja mereka di bawah bimbingan kita. &lt;br /&gt;“Tunggu dulu, bermutu nggak tweet-nya dan asyik nggak statusnya” itu pertimbangan mereka untuk terhubung di dunia maya . Begitu mereka merasa kita tak relevan dengan mereka. Hanya hadir untuk memata-matai atau mungkin mengkotbahi mereka dengan cara  berkomentar di statusnya. Maka jangan heran kalau dalam sekali klik kita akan lenyap karena di remove dari pertemanan atau sekejap dia akan un-follow. Atau lebih parah lagi yakni akun kita di-block atau bahkan di-report as spam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Online &lt;br /&gt;Kalau paparan saya sejak awal artikel telah membingungkan anda. Selain karena banyaknya kosakata yang asing namun juga detail yang tak anda pahami. Atau bahkan anda meragukan realitas dari kehidupan generasi baru ini. Maka itu satu pertanda bahwa anda selama ini offline dan disconnected dengan The Youth. Atau bisa jadi anda mewakili Old Man dan Citizen.&lt;br /&gt;Meski anda punya otoritas di dunia nyata tapi anda bukan siapa-siapa bagi mereka di dunia maya. Sikap yang selalu berulang dari generasi tua adalah kritik berlebih, ketakutan tak beralasan dan juga kebanggaan takabur pada generasinya sendiri. Mereka selalu mengatakan bahwa generasi mendatang akan menjadi a-sosial, mereka akan asyik dengan dirinya sendiri di depan layar, tingkat kepeduliannya rendah terhadap permasalahan sosial dan seterusnya. &lt;br /&gt;Padahal ketakutan serupa rupanya juga mengemuka ketika pesawat telepon mulai masuki ke rumah-rumah. Para pengkritik waktu itu menakutkan kalau privasi akan terganggu, relasi sosial akan berubah, kejutan dalam menerima kunjungan akan hilang dan sebagainya. Namun kenyataannya sekarang tidak hanya telepon rumah namun telepon genggam pun sudah jadi bagian wajar dari keseharian dan kita memiliki pola baru dalam relasi. Dan tentu menggelikan kalau sekarang kita membaca tentang kritik itu.&lt;br /&gt;Pilihannya ada pada kita. Mau mengkritik mereka dan menjadi outsider yang menempatkan mereka sebagai yang ‘cupu’/tidak tahu apa-apa. Terus terlena dengan kebanggaan akan jaman kita sendiri yang rupanya sudah begitu berjarak dengan mereka. Menceramahi status-status yang dianggap cengeng ataupun memberi komentar dengan cara berkotbah. Maka jangan heran kalau kita di remove, block atau lantas mereka menampilkan dirinya dalam mode off-line agar disconnected. &lt;br /&gt;Atau mau online dan stay connected dengan The Youth sehingga kita bisa terhubung dengan mereka. Hadir secara horizontal dengan menjadi teman dalam pencarian. Pemberi jempol/like ketika mereka update status yang inspiratif. Pemberi semangat yang positif ketika mereka sedang meluapkan curhatnya lewat stasus. Ataupun me ReTweet ketika tweet mereka layak dibaca oleh follower anda. Kalau yang kedua ini jadi pilihan anda, maka Welcome to OnLine and Flat World.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-764770458266036246?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/764770458266036246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2012/01/stay-connected-with-youth_24.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/764770458266036246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/764770458266036246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2012/01/stay-connected-with-youth_24.html' title='Stay Connected with The Youth'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ttIqwK8BpKk/Tx8FcxB5X8I/AAAAAAAAAEI/eJ4ZynSSQj4/s72-c/connect.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-7755846361393589254</id><published>2011-09-24T11:21:00.000-07:00</published><updated>2011-09-24T11:25:56.245-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja dan masyarakat'/><title type='text'>“Muhammadiyah yang Saya Kenal”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-t-g-GTMAU1Y/Tn4gmDXjJZI/AAAAAAAAAD0/HkvO9uAfHFA/s1600/muhammadiyah-4.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 279px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-t-g-GTMAU1Y/Tn4gmDXjJZI/AAAAAAAAAD0/HkvO9uAfHFA/s320/muhammadiyah-4.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655994020135118226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto, M.Th&lt;br /&gt;(Ketua Komisi Dialog Antar Agama Sinode Gereja Isa Almasih)&lt;br /&gt;*artikel ini dipublikasikan dalam Tabloid PW Muhammadiyah Jawa Tengah Edisi Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjumpaan dengan Muhammadiyah&lt;br /&gt;Kalau saya ditanya “apa kesan terhadap Muhammadiyah?” maka dengan cepat saya akan menjawab “Sekolah dan Rumah Sakit.” Dua institusi itulah yang mudah ditemui, paling tidak di 3 (tiga) kota yang pernah saya tinggali selama beberapa tahun, yakni Solo, Jogja dan Semarang. &lt;br /&gt;Tentu realitas tak sesederhana amatan saya berdasarkan pengalaman keseharian itu. Namun dugaan saya kesan saya tersebut tak melenceng jauh dari aktivitas utama yang dijalankan Muhammadiyah. Guyonan  itu pula yang kerap dilontarkan Pak Tafsir dalam beberapa kesempatan berjumpa di berbagai forum.&lt;br /&gt;Sedangkan kalau saya ditanya secara institusional maka saya merasa bahwa Buya Syafii Maarif adalah representasi tokoh Muhammadiyah yang saya kagumi secara intelektual maupun personal. Perpaduan antara wawasan kebangsaan, penghargaan terhadap kemajemukan serta ketegasan dalam bersikap merupakan ciri mendasar dari seorang Guru Bangsa.&lt;br /&gt;Sedangkan kalau ditanya secara lebih personal maka saya akan mengatakan bahwa Pak Tafsir merupakan representasi Muhammadiyah yang mengesankan. Tentu hal itu saya katakan bukan karena saya diminta untuk menulis bagi Tabloid Cermin ini. Tapi karena perjumpaan itu terjadi berkali-kali dalam berbagai kesempatan yang berbeda.&lt;br /&gt;Saya masih ingat perjumpaan pertama kali ketika kami sama-sama menjadi pembicara dalam sebuah seminar nasional di IAIN Walisongo, Semarang. Selang beberapa saat kemudian kami berjumpa di sebuah Konferensi Internasional yang diadakan oleh UGM dan saya teringat bahwa beliau diundang karena mendapat Maarif Award di tahun itu. &lt;br /&gt;Perjumpaan itu tidak berhenti pada level formal-akademis. Beberapa kali kami bersama-sama hadir satu panggung bersama Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) dalam Pengajian Gambang Syafaat di halaman Masjid Baiturahman Simpang Lima, Semarang. Di tahun 2009 juga Pak Tafsir berkenan hadir memenuhi undangan saya dalam acara “Kidung Damai dari Semarang” yang diadakan di halaman Gereja Isa Almasih Pringgading, Semarang. Di akhir tahun 2010 yang lalu Pak Tafsir juga mengajak mahasiwanya berkunjung serta berdialog di Gereja Isa Almasih Pringgading, Semarang. &lt;br /&gt;Dengan senyuman yang mengembang dan berbagai joke yang dilontarkan juga sapaan hangatnya, Pak Tafsir hadir menjadi sosok “tak biasa”. Cak Nun pernah berkomentar kalau biasanya Kiai NU yang senang guyonan, bahkan sampai menjadi Presiden pun tetap humoris, tapi setelah bertemu dengan Pak Tafsir ternyata orang Muhammadiyah pun juga lucu dan itu langka katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Jembatan&lt;br /&gt;Mengapa saya memulai tulisan saya ini dengan berbagai kisah perjumpaan personal? Karena menurut saya perjumpaan personal itulah dialog yang sejati. Bisa saja kita datang ke seminar, lokakarya ataupun konferensi yang membahas berbagai topik akademis dengan judul rumit seputar “dialog antar agama”, namun benarkah kita mengalami “perjumpaan” dalam acara tersebut? Seringkali yang terjadi adalah acara yang seremonial dan formal. Orang saling bersalaman ketika diperkenalkan, mengikuti acara lalu pulang dan tidak pernah berjumpa lagi, bahkan mungkin sudah lupa kalau bersua di jalan beberapa hari kemudian. &lt;br /&gt;Memang dialog pada tataran elit dan akademis itu tetap dibutuhkan. Bagian mereka ialah memproduksi berbagai landasan pemikiran pada tingkat strategis. Namun bagaimana dengan masyarakat dalam hidupnya sehari-hari? Sesungguhnya merekalah pelaku dialog. Entah dalam hidup bertetangga, di pasar, sekolah, rumah sakit, serta berbagai ranah kehidupan mereka saling berjumpa. Namun memang umumnya perjumpaan itu pasif. Sebab biasanya orang tak membawa ataupun mendiskusikan identitas keagamaannya di ruang-ruang semacam itu. &lt;br /&gt;Mestikah kita mempertanyakan latar belakang keyakinan seorang penjual ikan bandeng di pasar? Atau menanyakan agama dari penarik becak ataupun pengemudi taksi yang kita tumpangi? Ketika kita dapat dengan nyaman membeli dari siapa saja dan menumpang kepada siapa saja, maka sejatinya kita telah berdialog. Kita telah berjumpa dan bersedia menerima perbedaan sebagai kenyataan yang tak terpisahkan dari keseharian hidup kita di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik Temu&lt;br /&gt;Namun kenyataan kehidupan menunjukkan fakta-fakta yang berbeda. Di sana-sini kita jumpai kecurigaan, konflik bahkan tak jarang diikuti kekerasan dan pengrusakan. Sungguhkah pelakunya adalah masyarakat yang sehari-hari dengan harmoni berjual-beli di pasar tadi? Rasanya koq sulit dipercaya jika mereka adalah pelakunya. &lt;br /&gt;Ada banyak kemungkinan yang dibicarakan para ahli tentang pemicu pelbagai konflik tersebut. Diantaranya ditengarai adanya tingkat kemiskinan yang masih cukup tinggi serta rendahnya tingkat pendidikan. Jika memang dua hal itu merupakan faktor utama, maka konflik sesungguhnya bukan di ranah agama dan tidak dicetuskan oleh agama. Namun agama terseret karena identitas personal dari para pelakunya. Tetapi berkali-kali kejadian-kejadian itu dinamakan sebagai “kerusuhan berlatarbelakang agama.”&lt;br /&gt;Kemiskinan dan kebodohan adalah hal universal yang tak pandang agama. Bisa dialami oleh siapa saja yang beragama apapun. Maka keduanya adalah persoalan kemanusiaan yang mendasar. Ini yang disebut sebagai “titik temu”. Seringkali agama-agama bingung ketika harus berdialog, muncul ketakutan-ketakutan dan juga kecurigaan. Ada yang takut mencampuraduk ajaran, ada pula yang takut mengkompromikan keyakinan. Namun sesungguhnya dialog bisa mengambil sisi lain di sekitar agama. Yakni persoalan-persoalan sosial yang mendasar itu tadi.&lt;br /&gt;Kalau selama ini Muhammadiyah bergerak dalam pendidikan dan kesehatan, maka kedua bidang tersebut bisa menjadi jembatan “titik temu” dalam dialog dengan agama-agama lain, juga dengan kekristenan. Orang yang memerlukan pendidikan dan layanan kesehatan tentu tak pandang agama. Apalagi mereka yang kesulitan mendapat akses pendidikan serta kesehatan yang terjangkau. Dalam hal inilah agama-agama dihadapkan pada tantangan nyata, yakni persoalan kemanusiaan. Bagaimanakah agama akan bersikap? &lt;br /&gt;Haruskah kita berkutat pada persoalan-persoalan lama, memberi batas-batas kaku pada layanan pendidikan dan kesehatan? Semestinya Pendidikan dan Kesehatan bisa jadi “Misi dan Dakwah bersama”. Tak lagi dalam paradigma lama. Kekristenan (dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang dimiliki) bersama dengan Muhammadiyah yang memiliki potensi serupa semestinya bersinergi dan tak lagi membangun rivalitas sempit. Bukankah kita semua dipanggil untuk memanusiakan manusia? Semoga kita tak harus menunggu terjadi lebih banyak lagi konflik yang menyeret agama karena semakin tingginya kemiskinan dan terus merosotnya kualitas pendidikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-7755846361393589254?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/7755846361393589254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2011/09/muhammadiyah-yang-saya-kenal.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/7755846361393589254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/7755846361393589254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2011/09/muhammadiyah-yang-saya-kenal.html' title='“Muhammadiyah yang Saya Kenal”'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-t-g-GTMAU1Y/Tn4gmDXjJZI/AAAAAAAAAD0/HkvO9uAfHFA/s72-c/muhammadiyah-4.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-2792056866058637509</id><published>2011-09-24T11:14:00.000-07:00</published><updated>2011-09-24T11:20:40.181-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja dan masyarakat'/><title type='text'>“Ketuhanan yang Berkebudayaan”</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-8atB-Jsl4rw/Tn4fX_6UuXI/AAAAAAAAADs/42k7x3SEWp8/s1600/soekarno%2Bsholat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 213px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-8atB-Jsl4rw/Tn4fX_6UuXI/AAAAAAAAADs/42k7x3SEWp8/s320/soekarno%2Bsholat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655992679177435506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto, M.Th (Rohaniwan GIA Pringgading, Semarang dan Pengajar STT Abdiel, Ungaran)&lt;br /&gt;*artikel pernah diterbitkan di Buletin Sinode GIA*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amarah diletupkan dan darah ditumpahkan, semua diberi pembenaran atas dasar penegakan ‘kemurnian’ agama. Itulah peristiwa yang menyentak nurani kita bersama dalam peristiwa Monas, 1 Juni 2008, bahkan berturut-turut setalh itu kiat bisa melihat aksi brutal semacam ini masih terus terjadi. Sungguh ironis ketika sekelompok warga bangsa yang hendak memperingati hari lahir Panca Sila, yang menjadi payung kemajemukan seluruh elemen bangsa, justru menjadi korban dari nilai yang hendak mereka perjuangkan. &lt;br /&gt;Serangan terhadap kelompok yang memperjuangkan kemajemukan ini, sebenarnya merupakan serangan terhadap Panca Sila itu sendiri. Karena sejak awal berdirinya Negara ini konsensus untuk menghindari kepentingan kelompok yang satu di atas kepentingan kelompok yang lain merupakan landasan bagi terwadahinya segenap komponen bangsa yang sungguh beragam ini.&lt;br /&gt;Merujuk pada pemikiran Bung Karno dalam pidato pertamanya tentang Panca Sila pada 1 Juni 1945 di hadapan sidang BPUPKI, di dalam uraiannya mengenai “bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa” dikatakan bahwa hendaknya tiap-tiap orang di Indonesia ber-Tuhan. Namun bukan ber-Tuhan hanya menurut konsep ataupun tradisi agama tertentu saja, tetapi “hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa.” Dalam hal ini disadari adanya keberagaman konsep keyakinan di Indonesia. Karena jika kita dengan serius mempelajari tradisi agama-agama, maka sebenarnya perbedaan konsepsi keyakinan, terutama antara agama-agama yang sering disebut dengan Abrahamic Religion dengan yang digolongkan dalam Wisdomic Religion, apalagi dengan Cosmic Religion memiliki jurang perbedaan yang begitu lebar menganga. Karena itu tentu konsep negara yang berketuhanan tidak dimaksudkan untuk mengambil salah satu konsep untuk dipakai sebagai pengukur bagi yang lain. Namun lebih merujuk pada sebuah payung yang cukup lebar untuk menaungi dan memberi ruang hidup dan gerak yang leluasa bagi semua konsepsi yang ada.&lt;br /&gt;Pemikiran Bung Karno tidak berhenti sampai disitu, beliau melanjutkan dengan statemen yang sebenarnya merupakan universal value dari agama, yakni bahwa rakyat tidak hanya sekedar ber-Tuhan, namun “hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan”. Apa maksudnya pernyataan ini? Hal ini dijelaskan dalam kalimat berikutnya, bahwa beragama “dengan tiada ‘egoisme agama.’ Dalam konteks kehidupan berbangsa yang menjadi nilai mendasar adalah kelangsungan kehidupan bersama. Agama bukan untuk dicari ‘yang paling’, namun terutama untuk diamalkan dan dijalankan “dengan cara yang berkeadaban” dan menurut Bung Karno, cara yang berkeadaban itu ialah “hormat-menghormati satu sama lain.” &lt;br /&gt;Inilah cara beragama yang mengedepankan nilai kemanusiaan, agama yang memanusiakan manusia. Karena tak dapat dipungkiri, dalam berbagai tragedi yang melibatkan agama, disana kita bisa menjumpai kekejaman yang melampaui kekerasan yang terjadi karena alasan yang lain. Secara akal sehat mungkin akan sulit bagi kita untuk memahami logika berpikir para pelaku kekerasan berjubah agama ini. Namun rentang panjang sejarah agama-agama telah membuktikan hal ini. Demikian pula dengan peristiwa yang belakangan ini kerap melanda tanah air kita. &lt;br /&gt;Konflik yang menyeret dan menunggangi agama hampir selalu berhasil memnggiring para penganut agama untuk melakukan apa saja demi membela keyakinannya tersebut. Apalagi jika ada simbol-simbol keagamaan yang diusik, seperti tempat ibadah atau kitab suci. Amarah bisa dengan begitu mudahnya meluap, dilampiaskan dalam aksi anarkis, bahkan tak jarang menumpahkan darah dan menghilangkan nyawa. Ini semua terjadi selain karena pemahaman keagamaan yang sempit, tafsir yang tidak memperhatikan konteks dari teks, juga didukung oleh rendahnya tingkat pendidikan dan parahnya kemiskinan. &lt;br /&gt;Namun yang lebih mendasar sebenarnya ialah keberadaan kita sebagai manusia. Dimana perjuangan dari agama dan nilai-nilainya sebenarnya ialah demi manusia itu sendiri dan kemanusiaannya. Keberadaan hakiki sebagai manusia itulah yang dapat mempertemukan semua orang, karena kita lahir tanpa membawa apapun, kecuali kemanusiaan kita. Kemanusiaan itu pula yang menjadi alasan kemunculan agama dan berbagai perangkatnya. Namun yang terjadi kerapkali justru kebalikannya. Ketika agama sudah establish, maka yang menjadi tujuan bukan lagi kemanusiaan, namun justru peraturan. Jadi manakah yang terutama, hukum, ritual, dan ajaran untuk kepentingan manusia atau manusia untuk kepentingan perangkat tersebut? Semestinya semua diadakan untuk memanusiakan manusia, bukan untuk menindas kemanusiaan atas dalih ajaran ataupun keyakinan.&lt;br /&gt;Agama yang berpihak pada kemanusiaan semacam inilah yang menggemakan pemikiran Bung Karno 63 tahun yang silam. Karena dengan model beragama semacam ini kita memiliki sebuah ‘jembatan perjumpaan’ dengan ‘yang berbeda’. Dimana model jembatan ini menurut pemikiran dan perenungan, juga sedikit pengalaman saya adalah bentuk yang kontekstual di Indonesia. Dalam uraiannya tentang berbagai bentuk teologi agama-agama, Paul Knitter (2008: 160) memang menjelaskan bahwa model ini memang salah satu jalan, namun “jalan lain ini sangat penting dan sangat menjanjikan.” Mengapa demikian? Karena kita sedang bersama-sama menghadapi dan menghidupi “dunia yang penuh kepedihan dan krisis.”&lt;br /&gt;Bukankah realitas kepedihan dan krisis adalah realitas besar yang kita hadapi bersama di Indonesia, bahkan ini adalah sebuah realitas universal yang dihadapi oleh semua agama dan dapat dirangkum dalam satu kata: penderitaan (Knitter, 2008: 162). Kita bisa melihat dalam konteks Indonesia permasalahan kemiskinan, penderitaan (akibat konflik, kerusuhan), ketidakadilan (sosial, ekonomi, gender), diskriminasi (ras, gender), kerusakan lingkungan yang parah, serta berbagai permasalahan lokal lainnya. Permasalahan diatas ‘tidak mengenal agama’, dalam artian menimpa pemeluk agama apapun tanpa kecuali. &lt;br /&gt;Agama masih memainkan peran penting dalam kehidupan kita di Indonesia, sedang di sisi lain berbagai penderitaan tadi sangat mencolok dan memporak-porandakan segala segi kehidupan kita, lantas pertanyaannya ‘sejauh mana agama telah berpihak terhadap yang menderita?’ atau justru selama ini peran penting agama justru dipakai menjadi alat legitimasi kekuasaan penguasa, untuk meninabobokan yang miskin, terpinggirkan, dan terdiskriminasi? Untuk memberi mereka iming-iming janji Sorga, bahwa segala penderitaan mereka akan mendapat gantinya di alam yang lain? Sehingga dengan demikian mereka tidak akan banyak menuntut terhadap kekuasaan yang korup?&lt;br /&gt;Semestinya dengan peran agama dan realitas penderitaan ini, agama-agama di Indonesia dapat menemukan sebuah titik temu yang tidak dicari-cari di dalam tradisi dan ajaran berbagai agama, namun justru mencarinya di sekeliling agama-agama. Sebab di sekeliling itulah mereka dapat dengan mudah dan cepat menemukan masalah yang dihadapi bersama, yang tidak dapat disangkal, sesuatu yang lebih bisa dikenal dan sangat mendesak, yakni pengalaman penderitaan bersama. Inilah titik temu yang sangat sulit diragukan (bahkan mungkin oleh para postmodernis), dimana pengalaman penderitaan bersama ini “merupakan panggilan dan tantangan bagi mereka semua” (Knitter, 2008: 164). &lt;br /&gt;Inilah yang menjadi semacam standar penguji akan ‘makna agama yang berpihak’, karena, seperti dirangkumkan oleh Knitter: “Seandainya ada agama yang menyangkal pengalaman ini dan menolak tantangan penderitaan manusiawi ini, maka, agama semacam itu telah kehilangan relevansinya, juga validitasnya. Kalau ada agama yang sama sekali tidak berbicara tentang berbagai bentuk penderitaan yang telah diungkapkan sebelumnya, apapun sikap lain yang dianutnya akan menjadi tidak menarik atau menggangu” (Knitter, 2008: 164).&lt;br /&gt;Namun demikian, menurut Amaladoss (Knitter, 2008: 166) untuk masuk dalam pengalaman bersama itu umat beragama harus bersedia “mengalami tangan mereka kotor.” Dalam artian ini tidak lagi menjadi dialog elit dan abstrak, namun justru turun ke tingkat orang kebanyakan, yakni mereka yang bergulat dengan kemiskinan dan penderitaan, rakyat pada umumnya, dimana para ahli dan pemimpin agama tidak lagi menceramahi maupun mengkhotbahi mereka, namun justru bersedia ‘mendengarkan’ suara dan rintihan mereka, tidak hanya yang audible (terdengar secara fisik) namun juga melalui kehidupan yang dijalani bersama dengan mereka. Dalam dialog kehidupan semacam ini, tidak lagi menjadi persoalan apakah agamaku lebih sempurna dari agamamu, ataukah Tuhanku lebih hebat dari tuhanmu (karena mungkin yang lain dianggap menyembah ilah palsu), karena yang terutama adalah masyarakat dapat ditolong, mendapat makanan, pendidikan, pelayanan kesehatan, konflik diredam, dan  lingkungan dilindungi. &lt;br /&gt;Inilah yang juga disimpulkan oleh Bung Karno”, yakni bukan ber-Tuhan secara beringas, namun “berbudi pekerti yang luhur”, bukan pula memaksakan keyakinan dan konsepsinya namun “hormat-menghormati satu sama lain” hingga kita dapat menghidupi “Ketuhanan yang Berkebudayaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-2792056866058637509?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/2792056866058637509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2011/09/ketuhanan-yang-berkebudayaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/2792056866058637509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/2792056866058637509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2011/09/ketuhanan-yang-berkebudayaan.html' title='“Ketuhanan yang Berkebudayaan”'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-8atB-Jsl4rw/Tn4fX_6UuXI/AAAAAAAAADs/42k7x3SEWp8/s72-c/soekarno%2Bsholat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-8974244113183034610</id><published>2011-09-24T10:59:00.001-07:00</published><updated>2011-09-24T11:00:54.071-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja dan masyarakat'/><title type='text'>Menjadi Besar dan Terkemuka karena Melayani dan Menghamba</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-BkfLMa_-nCw/Tn4arKm2UTI/AAAAAAAAADk/WlUemXae8Rc/s1600/liem%2Bkhiem%2Byang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-BkfLMa_-nCw/Tn4arKm2UTI/AAAAAAAAADk/WlUemXae8Rc/s320/liem%2Bkhiem%2Byang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655987510907916594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Permenungan mengenai Sikap Politik Gereja)&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto, M.Th (Rohaniwan di GIA Pringgading, Semarang dan Pengajar di STT Abdiel, Ungaran)&lt;br /&gt;Sebuah tulisan yang didedikasikan bagi Pdt. Prof. Dr. Liem Khiem Yang (Pendeta Gereja Isa Almasih, Guru Besar Emeritus STT Jakarta, dan Ketua Umum Yayasan LAI)&lt;br /&gt;*artikel ini pernah dimuat di buletin Sinode GIA*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tertatih sosok beruban itu dipapah untuk duduk di kursi roda. Wajahnya nampak sedikit letih. Namun dengan erat ia menjabat setiap tangan yang terulur kepadanya. Cara berbicaranya tak terlalu jelas, suaranyapun lirih terdengar. Hingga pengeras suara pun mesti didekatkan untuk memperjelas perbincangan pagi itu di sebuah ruang di STT Abdiel, Ungaran.&lt;br /&gt;Lelaki berusia 77 tahun itu ialah Guru Besar Emeritus di STT Jakarta, sebuah sekolah teologi bergengsi dan pertama di negeri ini. Bahkan hingga kini ia masih dipercaya menjadi Ketua Umum Yayasan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Namun ada satu lagi identitas yang tidak pernah ditinggalkannya, meski kita mungkin tak lagi mengenalnya. Ia adalah Pendeta Gereja Isa Almasih, yang ditahbiskan pada tahun 1956 di GIA Pringgading, Semarang sebagai utusan untuk melayani Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). &lt;br /&gt;Ya, namanya adalah Liem Khiem Yang. Warga GIA yang pertama kali belajar teologi secara formal pada tahun 1950. Entah berapa dari warga ataupun pendeta dalam lingkup GIA yang masih mengingat namanya, meski nama itu tercantum jelas dalam buku peringatan 10 tahun Sing Ling Kauw Hwee. &lt;br /&gt;Sejak mengetahui sosok Liem Khiem Yang lewat buku sejarah GIA, dan kemudian melalui beberapa buku karangannya yang saya miliki, terbersit kekaguman saya dan keinginan untuk menjumpainya. Sudah lewat sepuluh tahun sejak pertama kali nama itu saya kenal, akhirnya (12/2/2010) saya berkesempatan berjumpa, menjabat tangannya dan bahkan berbincang dengan akrab. Seperti seorang cucu dengan kakek yang lama tak bersua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungan Liem dan Politik?&lt;br /&gt;Saya diminta oleh redaksi untuk menulis mengenai “wacana politik bagi kekristenan”. Mungkin sampai disini anda merasa bahwa pengantar saya mengenai sosok Liem dan perjumpaan yang saya alami itu sama sekali tidak ada keterkaitannya dengan politik. &lt;br /&gt;Ungkapan seperti itu pulalah yang pernah disampaikan 17 tahun yang lampau (1993) oleh Alm Pdt Eka Darmaputera dalam tulisannya mengenai sosok Liem, yang diberinya judul “Liem Khiem Yang dan Kotbah Yesus di Bukit: Mencari Sosok Kehadiran Kristen di Indonesia” (M.L Sinaga, ed., 2007: 178). &lt;br /&gt;Apa tidak terlalu mengada-ada untuk mengaitkan Liem dengan semua itu? Dengan berseloroh pak Eka mengatakan “bahwa ada sedikit unsur mencari-cari, memang tak dapat tidak mesti saya akui”. Namun kemudian ia melanjutkan “bahwa sekarang ini umat Kristen sedang berada dalam proses mencari. Mencari sosok kehadiran yang ‘pas’ di tengah-tengah masyarakat yang sedang membangun ini.”&lt;br /&gt;Sudah lewat 17 tahun sejak tulisan itu dibuat, juga pak Eka telah terlebih dahulu berpulang. Tetapi nampaknya usulan pak Eka untuk kita menengok pada sosok Liem ini belum banyak dikonfirmasi oleh gereja-gereja, bahkan oleh GIA sendiri. &lt;br /&gt;Karena itu, melalui tulisan ringkas ini saya ingin mengajak kita yang berada dalam lingkup GIA ini untuk merenungi sosok Liem Khiem Yang sebagai alternatif bagi ‘wacana politik’ kita. Politik tidak dalam artian praktis dan sempit, yakni berpartai, terkait dengan pemilu, maupun gonjang-ganjing skandal yang disuguhkan pada kita bak reality show. &lt;br /&gt;Orang kristen (umat maupun pimpinan Gereja) biasanya baru sibuk mencari informasi mengenai politik jika menjelang pemilu. Ataupun jika ada isu-isu yang dirasa akan menggangu kenyamanan posisi kita, serta mengancam hak yang telah kita miliki selama ini. &lt;br /&gt;‘Wacana politik’ disini justru berbicara tentang bagaimana gereja itu mengenali konteks hidupnya yang terus berubah dengan cepat dan lalu mencoba menjawabnya. Dan sikap politik gereja tidak dikaitkan dengan keberpihakannya pada calon tertentu, pada partai tertentu atau pada ideologi tertentu. &lt;br /&gt;Seperti yang dikatakan oleh Pdt A. A. Yewangoe, mengutip Karl Barth, “dengan menjadi gereja, maka gereja toh telah melakukan politik”. Apa maksudnya “menjadi gereja”?, dijelaskan lebih lanjut oleh Yewangoe bahwa “ketika gereja sungguh-sungguh melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan kesaksiannya, pada saat itulah gereja menjalankan tugas politiknya.” (2009; 1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang Sedang Kita Hadapi&lt;br /&gt;Pada masa pra-kemerdekaan, di masa kekristenan masih ditopang kuat oleh zending, maka kehadiran kekristenan di nusantara ini dicirikan oleh pelayanan pendidikan dan kesehatan. Banyak sekolah dan rumah sakit yang didirikan, juga pendidikan tenaga pengajar dan kesehatan. Hingga awal kemerdekaan corak ini masih terasa.&lt;br /&gt;Pada pergerakan kemerdekaan hingga awal orde baru, pemikir-pemikir kristen yang merupakan produk pendidikan Belanda mewarnai berbagai ranah kehidupan. Namun tahun berlalu dan generasi muda Muslim yang terdidik dengan baik mulai tumbuh, mereka masuk dalam berbagai area secara merata. Terjadi kepanikan di sebagian kalangan kristen atas perubahan ini. &lt;br /&gt;Tentu harus diakui bahwa akhir-akhir ini kalangan Muslim moderat juga menyadari adanya kebangkitan fundamentalisme Islam, yang cenderung eksklusif serta dirasa menjadi ancaman bersama bagi kelangsungan kebersamaan kita sebagai bangsa. Tapi banyak kalangan Kristen yang sama sekali buta terhadap peta perubahan ini. Dan masih hidup dalam mimpi tentang “kejayaan masa lalu”. &lt;br /&gt;Apa yang dibahasakan sebagai creative minority (minoritas yang kreatif), menurut pak Eka adalah “kesombongan tanpa bukti” (M. L. Sinaga, ed., 2007; 181-182). Karena masih ada anggapan bahwa sekalipun kita kecil secara jumlah namun besar secara mutu. Saya sepakat dengan pak Eka bahwa pernyataan ini takabur. &lt;br /&gt;Namun juga tak kalah banyaknya orang Kristen yang hanya meratapi dan menyalahkan pihak lain, dalam hal ini saudara-saudara Muslim. Menyamaratakan semuanya sebagai lawan yang ingin menegakkan Syariat Islam. Tanpa pernah menyadari bahwa juga ada kepelbagian sikap politik, baik di kalangan ormas maupun partai politik berbasis massa Islam.   &lt;br /&gt;Perubahan peran, posisi tawar, dan penurunan kualitas di lingkungan kekristenan. Serta di sisi lain terjadinya perubahan lanskap politik ini perlu digumuli dengan serius. Tidak cukup dengan mengenang “kejayaan masa lalu”(kalau pernah ada), ataupun menyalahkan pihak lain (yang tidak sepenuhnya salah). Diperlukan kesediaan untuk terus menerus mempelajari perubahan konteks, keterbukaan untuk bekerjasama dengan pihak lain terutama kalangan Muslim moderat, serta seturut dengan itu ialah keberanian untuk mengubah model kehadiran kekristenan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Liem yang Seperti Apa?&lt;br /&gt;Saya memilih untuk mengambil beberapa gambaran mengenai sosok Liem Khiem Yang dalam uraian pak Eka. Tentu karena menurut saya pak Eka cukup mengenal sosok Liem dari dekat, selain juga adanya keterbatasan pengenalan saya secara personal dengan beliau.&lt;br /&gt; “Siapa pun akan mengatakan bahwa Liem bukanlah seorang superstar yang spektakuler. Ia jauh dari itu!”  Rupanya sosok Liem ini sekalipun dibesarkan dalam tradisi Pentakosta namun jauh dari kesan gemerlap yang kini seakan menjadi ukuran keberhasilan di lingkungan ini. &lt;br /&gt;Selain itu ia juga “seorang yang amat low profile, rendah hati, amat ‘merakyat’.” Pak Eka mengisahkan bagaimana ketika Liem yang pulang dari Jerman setelah menyelesaikan studi doktornya, namun tidak memiliki tempat tinggal. Dan, menurut Pak Eka, reaksi Liem sepertinya biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;“Tetapi saya tahu dan semua orang tahu, ia adalah seorang yang mempunyai prinsip, dan bisa amat keras kepala. Ia tidak pandai berdebat, namun juga tidak gampang menyerah. Ia tak pandai berpidato, berkotbah atau merangkai kata-kata, namun siapapun yang mau menyimak apa yang dikatakannya akan menyadari betapa banyak kata-kata mutiara di dalamnya. Liem adalah seorang yang berilmu padi: runduk karena berisi. Dihormati tidak ditakuti. Rendah hati tanpa rendah diri. Dalam perjalanan karirnya, ia begitu tampak tanpa ambisi. Sikapnya polos, tulus, tanpa pretensi.” (M. L. Sinaga, 2007; 183). Demikian uraian bernas Pak Eka tentang Liem yang dikenalnya.&lt;br /&gt;Meskipun baru berbincang dalam pertemuan kurang dari 2 jam di kampus STT Abdiel, saya bisa menangkap kerendahan hati itu. Tatkala saya menanyakan kepada beliau tentang perubahan-perubahan dan keberhasilan yang dicapainya ketika memimpin STT Jakarta. Dengan tenang dan lirih beliau menjawab “kalau mengenai itu, biar orang lain yang menilai, masa saya bercerita tentang diri saya sendiri.” Ketika saya desak lagi dengan pertanyaan mengenai perubahan-perubahan dalam beberapa aspek yang dibuatnya, ia malah menggeleng pelan dan berkata “tidak ada, biasa saja.”&lt;br /&gt;Ah, semakin langka saja rasanya mencari sosok semacam ini. Tak sudi bercerita tentang kebanggaan pribadi, karena keberhasilan tidak diukur dari pencapaian diri sendiri. Beda dengan birokrat masa kini yang semakin sibuk menghitung berapa lagi aset yang bisa dimiliki, dan bukannya sumbangsih apa yang bisa diberi bagi negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja yang Melayani dan Menghamba: Sebuah Sikap Politik&lt;br /&gt;Realitas yang berubah, mau tidak mau, memaksa kekristenan mereposisi dirinya. Tak bisa lagi sekedar membanggakan anggota yang bertambah, gedung yang semakin megah, ataupun ibadah yang lebih gempita. Bisa saja kita tetap dengan kebanggaan internal, tapi jangan meratap jika tiba-tiba peran kita tak lebih dari empat dinding bangunan tempat ibadah. Dan suara kita tak lagi dihiraukan, karena kita terlalu lama melongok ke ‘seberang sana’, lupa bahwa kaki masih memijak bumi. &lt;br /&gt;Yesus tak pernah melarang kita untuk menjadi besar dan terkemuka, namun tidak dengan ukuran dan cara yang sama dengan penguasa dunia ini. Coba kita simak sejenak perkataan Yesus: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mat 20: 25-28)&lt;br /&gt;Bertolak belakang dengan cara kekuasaan, Yesus menawarkan jalan pelayanan dan penghambaan. Inilah sikap politis Yesus, yang dikatakan oleh Paulus S. Widjaja, mengutip Yoder dalam The Politics of Jesus, sebagai “sebuah politik alternatif, yaitu sebuah jalan yang lebih baik untuk melakukan segala sesuatu, bahkan sekalipun hal-hal yang dilakukan gereja itu tidak populer” (2004; 54).&lt;br /&gt;Tapi mungkin kita selama ini sudah silau oleh yang spektakuler, risau jika minim secara kuantitas, ingin yang serab megah dan siap saji. Tak lagi sudi menempuh proses. Bahkan terkadang enggan menyebut kata ‘salib dan derita.’ Teologi kita lalu menjadi teologi kemenangan dan kesuksesan. Ya, saya tak menampik bahwa Yesus telah menang dan sukses, tapi lewat jalan dan cara apa? &lt;br /&gt;Kristus yang bangkit dan mulia itu juga adalah Yesus yang menderita, mati dan disalibkan. Seperti yang diungkapkan Fletcher (2007: 229-230), “Kita biasa menyatakan Yesus adalah Kristus. Sesungguhnya tidak kalah pentingnya menyatakan, Kristus adalah Yesus, yang berarti bahwa Kristus identik dengan seseorang yang dikenal secara historis sebagai Yesus dari Nazareth.” &lt;br /&gt;Ini sangat penting, karena jika akar sejarah ini terputus, maka menurut Fletcher (2007: 230) “Kristus akan cenderung berubah menjadi suatu gagasan mistik atau suatu dogma yang terisi keinginan dan idaman kita.” &lt;br /&gt;“Sang Kristus adalah Yesus yang tersalib” apa maksudnya pernyataan ini? Kesinambungan antara sosok dan pribadi historis dengan sosok iman itu kerap terputus. Sehingga mudah melupakan salib karena telah mendapatkan Juruselamat yang bangkit dan mulia. Namun demikian, dalam peristiwa Yesus dari Nazareth, Salib bukan sekedar pendahuluan yang dapat diabaikan setelah adanya kemenangan melalui kebangkitan. Karena “Paskah bukan kemenangan atas salib, melainkan kemenangan salib itu sendiri” (Fletcher, 2007: 231). &lt;br /&gt;Kemampuan melihat kesinambungan antara salib dan kebangkitan, akan membawa kita melihat bahwa kebangkitan itu adalah ‘kemenangan salib’. Salib yang nampaknya adalah kekalahan, karena berakhir dengan penderitaan dan kematian. Tetapi dengan kebangkitan Yesus, maka itu adalah sebuah pembenaran yang diberikan oleh Allah. Bahwa yang dilakukan Yesus adalah jalan yang benar. Yakni perkataan, perbuatan, perjuangan, dan keberpihakannya kepada yang miskin, tertindas dan diabaikan yang kemudian membawanya pada kematian di atas salib, merupakan konsekuensi dari perjuangannya yang nir-kekerasan. &lt;br /&gt;Sekalipun hal itu awalnya nampak sebagai kegagalan, namun kebangkitannya adalah penegasan bahwa jalan yang ditempuh Yesus yang kemudian membawanya ke salib adalah jalan yang benar. Yang direstui oleh Allah, dan kita diajak masuk dalam jalan itu. Dengan keberanian dan pengharapan, bahwa seperti Kristus yang telah dibangkitkan setelah menempuh jalan itu, maka kitapun juga akan dibangkitkan oleh Allah. &lt;br /&gt;Bukankah jalan pelayanan dan penghambaan seperti itu pula yang diteladankan oleh Liem Khiem Yang. Liem jauh dari kesan spektakuler. Ia pun menempuh jalan yang tidak populer bagi kita di lingkungan Pentakosta, yakni menempuh studi teologi akademis formal hingga purna dan kemudian bergelut dengan penerjemahan Kitab Suci dalam senyap. Penampilannya bersahaja dan suaranya tak menggelegar. Namun dalam kesederhanaannya kita bisa menjumpai kehadiran Kristus. Melihat hidupnya orang bisa berkata inilah seorang pengikut Kristus, seorang ‘Kristus kecil’, seorang Kristen!&lt;br /&gt;Seperti itu pulalah semestinya Gereja bisa menghadirkan dirinya, lewat politik pelayanan dan penghambaan. Sebuah sikap politik alternatif yang tidak oportunis dan tidak haus kekuasaan. Gereja yang tidak arogan dan tidak eksklusif, yang mau belajar dan rendah hati, yang tidak hanya bermisi ‘kepada’ tetapi bermisi ‘bersama’ yang lain. Bukan sekadar demi bendera denominasi ataupun organisasi. Tapi demi terwujudnya Kerajaan Allah yang penuh damai sejahtera bagi negeri. Gereja yang besar karena melayani dan terkemuka karena menghamba. &lt;br /&gt;Selamat melayani dan menghamba dengan rendah hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-8974244113183034610?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/8974244113183034610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2011/09/menjadi-besar-dan-terkemuka-karena.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/8974244113183034610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/8974244113183034610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2011/09/menjadi-besar-dan-terkemuka-karena.html' title='Menjadi Besar dan Terkemuka karena Melayani dan Menghamba'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-BkfLMa_-nCw/Tn4arKm2UTI/AAAAAAAAADk/WlUemXae8Rc/s72-c/liem%2Bkhiem%2Byang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-4131162572304628484</id><published>2011-03-08T22:01:00.001-08:00</published><updated>2011-03-08T22:09:09.986-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>KEJERNIHAN NURANI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-6tIFW3xF_78/TXcY7Dy5HDI/AAAAAAAAADY/TdN1Z-TMfCA/s1600/gus-dur.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 250px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-6tIFW3xF_78/TXcY7Dy5HDI/AAAAAAAAADY/TdN1Z-TMfCA/s320/gus-dur.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581957666059131954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KEJERNIHAN NURANI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Tulisan untuk Mengenang K.H Abdurrahman Wahid &lt;br /&gt;(7 September 1940 - 30 Desember 2009)-Guru Bangsa, Pejuang Pluralisme &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya masih kelas 5 SD, parkiran sepeda di belakang sekolah memang biasanya sepi. Dari jarak tak begitu jauh saya melihat adik kelas sedang dinakali oleh seorang siswa SMP yang juga sekompleks dengan SD kami. Tiba-tiba saja si pelajar SMP itu mulai melayangkan pukulannya ke adik kelas saya itu. Entah berbekal keberanian dari mana, tiba-tiba saya berlari dan dari arah belakang saya meloncat naik ke punggung anak SMP itu, yang tentu posturnya lebih bongsor dari saya. Saya memeganginya erat lalu meneriakinya untuk berhenti memukul. Rupanya dia juga tak menyangka akan ditunggangi seperti itu. Mungkin karena kaget seketika ia melepaskan cengkeramannya dari kerah baju adik kelas saya itu, sembari berusaha menurunkan saya dari gendongannya. Sesaat kami beradu mulut, lalu karena mulai banyak yang berkerumun, ia pun memilih untuk berlari meninggalkan kami.&lt;br /&gt;Saya bukanlah seorang pemberani yang heroik menantang dan melawan siapa saja, sangat jauh dari sosok semacam itu. Sampai saat ini pun kalau mengingat peristiwa itu, tak habis pikir juga darimana datangnya dorongan untuk berbuat senekat itu melawan anak SMP yang berbadan lebih kekar. Namun, kalau saya renungkan bisa jadi itu semua didorong oleh kepolosan seorang anak yang tanpa banyak pertimbangan dan berpikir panjang memilih mengikuti nuraninya. Mungkin dorongan dari terusiknya rasa keadilan, ketika melihat adik kelas yang bertubuh kecil diperlakukan sewenang-wenang oleh murid SMP yang beberapa tahun lebih tua itulah yang menggerakkan saya untuk menunjukkan keberpihakan pada yang teraniaya.&lt;br /&gt;Nurani semacam itu masih jernih pada seorang anak yang belum banyak dipengaruhi oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Pertimbangan yang dipakai si anak bukanlah hitung dagang yang menakar untung-rugi bagi dirinya, menang-kalah juga bukan persoalan penting baginya. Yang terutama ialah mengikuti suara nurani yang meneriakinya untuk beranjak lari. Seiring pertumbuhan usia, kejernihan semacam itu semakin tertutupi oleh bentukan-bentukan keluarga, masyarakat dan pendidikan. Biasanya yang lebih kuat mendominasi ialah arus besar dari prinsip yang berlaku di masyarakat. Ketika arus besar di masyarakat cenderung korup, apatis dan individualistis, maka seperti itulah suara yang membayangi nurani kita, kejernihannya semakin memudar.&lt;br /&gt;Tapi dalam catatan sejarah di pelbagai rentangan jaman, selalu saja ada orang yang memiliki kejernihan-kejernihan itu. Mereka yang menentang arus besar masyarakat, orang-orang yang enggan begitu saja mengikuti pilihan kebanyakan orang. Biasanya mereka memang dianggap eksentrik, nyeleneh bahkan kadang dicap sebagai kurang waras. Namun di kemudian hari barulah waktu yang membuktikan. Bahwa suara mereka ialah suara kenabian. Dalam rekaman sejarah para Nabi, mereka selalu menjadi orang-orang yang terpinggirkan, suaranya diabaikan, bahkan tak jarang sengaja dibungkam. Mereka berteriak-teriak sendirian, bahkan tak jarang konsekuensinya ialah kematian. &lt;br /&gt;Lalu, dalam kenangan saya berkelebat sosok Abdurrahman Wahid, yang akrab kita sapa Gus Dur. Memang saya tak pernah mengenal sosoknya secara personal, namun saya membaca tulisannya, mengikuti kiprahnya yang direkam media cetak, ataupun mendengarkan ceramah dan menonton talkshow-nya di televisi. Masih segar dalam ingatan saya ketika beliau tampil terdepan menyuarakan keberpihakannya pada mereka yang dipinggirkan, entah karena alasan politis, ideologis ataupun atas dasar perbedaan pandangan doktrinal. &lt;br /&gt;Diantaranya ketika tak segan ia menulis kata pengantar untuk buku “Aku Bangga Jadi Anak PKI” yang ditulis oleh dokter Ribka Tjiptaning Proletariyati. Dalam sebuah talkshow di televisi Gus Dur berujar “bapaknya dan bapak saya itu memiliki tujuan perjuangan yang sama, hanya jalan untuk mencapainya saja yang berbeda.” Bukan berarti Gus Dur sepakat dengan komunisme, tapi ia meletakkan persoalan itu pada proporsinya, bahwa negara tak berhak melarang sebuah faham, ideologi atau keyakinan. Demikian juga ketika beliau tak sepakat dengan pelarangan terhadap Ahmadiyah, tentu bukan karena kesepahaman teologis, namun ada kiprah historis mereka dalam perjuangan kemerdekaan dan hak berkeyakinan yang tak bisa begitu saja dilarang, apalagi bila coba dibungkam dengan cara kekerasan. &lt;br /&gt;Dalam banyak hal pendapat dan cara pandangnya dianggap kontroversial, namun kalau kita jernih menelisik maka ada pola-pola yang terungkap. Ada benang merah penghubung semua sikap, tindak dan pernyataan Gus Dur, yakni keberpihakan terhadap yang diperlakukan tidak adil dan sewenang-wenang. Darimana semua itu berpangkal? Tentunya kepekaan pada suara nuranilah yang melandasi. Tanpa merawat kejernihan suara itu, maka hanya kepentingan diri yang mengemuka dan hitungan untung-rugi yang menguasai. &lt;br /&gt;Hingga ketika diminta untuk berdoa dalam peringatan 3 hari wafatnya Gus Dur di tengah bundaran Tugu Muda kota Semarang, dengan lirih saya berujar “Melalui sosoknya kami semua mengalami sapaan Tuhan, melalui keberpihakannya kami diajak untuk masuk dalam perjuangan yang sama, seperti Yesus dari Nazareth yang telah menunjukkan keteladanan hidup yang serupa, memilih mati di atas salib yang nista daripada menjual diri pada iblis demi kekuasaan dunia, maka ya Tuhan beranikan kami menempuh jalan itu dan mengikuti teladan-Mu seperti yang telah kami lihat  dalam hidup Kiai Haji Abdurrahman Wahid.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-4131162572304628484?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/4131162572304628484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2011/03/kejernihan-nurani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4131162572304628484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4131162572304628484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2011/03/kejernihan-nurani.html' title='KEJERNIHAN NURANI'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-6tIFW3xF_78/TXcY7Dy5HDI/AAAAAAAAADY/TdN1Z-TMfCA/s72-c/gus-dur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-971199287393464973</id><published>2011-01-26T18:36:00.000-08:00</published><updated>2011-01-26T18:38:29.286-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>Kau Tetap Doraemonku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/TUDakpYvC5I/AAAAAAAAADM/lDP2JMg6B-s/s1600/doraemon-anatomi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/TUDakpYvC5I/AAAAAAAAADM/lDP2JMg6B-s/s320/doraemon-anatomi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566689462549678994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ah, kini aku melihatmu dengan cara baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kau datang dengan segala kecanggihan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk menolong dan menyelamatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kegagalan dan kesialan tak juga urung enyah dariku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selengkap apapun isi kantongmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku masih saja penidur yang tak kunjung cerdas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perengek kala Giant dan Suneo mencela,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;juga kala deadline PR ku tiba,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apalagi bila Shizuka mengiba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi baru ku tersadar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebatanmu tak jua mengubahku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala kemudahanmu semakin memanjakanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru ku perlu hadirmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melebihi pintu kemana saja dan baling-baling bambu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagai teman melampaui robot masa depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mesti kau kabulkan lagi pintaku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pun tanpa isi kantong ajaibmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau tetap Doraemonku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Rony C. Kristanto, Setelah membaca cover belakang sebuah DVD bajakan film Doraemon, 19/02/2010)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-971199287393464973?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/971199287393464973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2011/01/kau-tetap-doraemonku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/971199287393464973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/971199287393464973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2011/01/kau-tetap-doraemonku.html' title='Kau Tetap Doraemonku'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/TUDakpYvC5I/AAAAAAAAADM/lDP2JMg6B-s/s72-c/doraemon-anatomi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-2276323015789816958</id><published>2010-01-27T19:42:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T19:44:44.669-08:00</updated><title type='text'>Banten Lama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/S2EIJw-8crI/AAAAAAAAAC4/38s2HX1ubVs/s1600-h/banten+lama.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/S2EIJw-8crI/AAAAAAAAAC4/38s2HX1ubVs/s320/banten+lama.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431631589446283954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari terik menyengat&lt;br /&gt;Iringan manusia tergesa melangkah&lt;br /&gt;Penjaja cinderamata berteriak setengah memaksa&lt;br /&gt;Penukar koin dan peminta melanggengkan siklus antara mereka&lt;br /&gt;anak kecil menengadahkan tangan&lt;br /&gt;kutawarkan gorengan tapi mereka menggeleng&lt;br /&gt;rupiah yang diminta&lt;br /&gt;ziarah tak lagi sunyi&lt;br /&gt;penuh gemuruh pedagang&lt;br /&gt;riuh kepentingan&lt;br /&gt;ziarah tak lagi pencarian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rony C. Kristanto, Setelah mengunjungi Banten Lama, 3/7/2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-2276323015789816958?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/2276323015789816958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2010/01/banten-lama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/2276323015789816958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/2276323015789816958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2010/01/banten-lama.html' title='Banten Lama'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/S2EIJw-8crI/AAAAAAAAAC4/38s2HX1ubVs/s72-c/banten+lama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-1365186570636517158</id><published>2010-01-27T19:24:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T19:30:14.055-08:00</updated><title type='text'>Belajar Mendengar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/S2EECoZ0i-I/AAAAAAAAACw/vm1lLzneYhI/s1600-h/dengar.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 282px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/S2EECoZ0i-I/AAAAAAAAACw/vm1lLzneYhI/s320/dengar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431627068837497826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang duduk melingkar sambil berbincang santai, mungkin itulah gambaran yang terlintas dalam benak kita ketika mendengar kata ‘dialog’. Dialog mewakili sebuah kedewasaan cara berpikir dan bersikap dalam menghadapi sebuah persoalan. Sebagai contoh, orang tidak menyelesaikan permasalahan dengan adu kekuatan fisik namun bersedia untuk berunding dan mendengarkan penjelasan dari orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita menganggap berbicara dan mendengar dari orang lain sebagai hal yang wajar. Tapi tunggu dulu, masalahnya ialah siapa yang dimaksud dengan ‘orang lain’? Berbicara dengan orang lain yang kita kenal dan memiliki pandangan yang sama tentu merupakan hal yang mudah. Tetapi tentu situasinya menjadi berbeda, jika kita mesti berbicara dengan orang yang belum kita kenal dan berbeda cara berpikirnya. Bisa diduga akan ada kekakuan dan juga ketidaknyamanan di kedua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah gambaran dari ‘dialog’, tidak semudah dan seindah yang terdengar di telinga ketika kata ‘dialog’ itu diucapkan. Belum lagi kalau pada kata ‘dialog’ itu dilekatkan kata ‘agama’, menjadi ‘dialog agama’, berbagai permasalahan baru sudah menanti di depan kita. Lho koq malah menjadi permasalahan? Bukankah agama identik dengan pesan-pesan untuk menerima, menolong, dan menghargai semua orang tanpa perbedaan, bukankah agama sarat dengan nilai-nilai cinta kasih tanpa pamrih?&lt;br /&gt;Ya, memang itulah nilai universal yang menjadi golden rules (kaidah kencana) dalam agama-agama. Tapi kita juga tidak bisa menutup mata, bahwa teks keagamaan juga mengandung pesan-pesan eksklusif yang terkadang jika dibaca secara harafiah dan dicomot terlepas dari konteksnya akan menjadi penutup pintu dialog dengan agama-agama lain (dan penganutnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kekristenan (protestan) sendiri wacana ‘dialog agama’ baru secara formal menjadi agenda Dewan Gereja Dunia (DGD)/World Council of Churches (WCC) pada tahun 1971. Setelah sekitar empat abad usia protestanisme, barulah terbersit keterbukaan untuk berdialog dengan agama-agama lain. Itupun bukan diikuti dengan sambutan yang memuji dan mendukung upaya dialog tersebut, namun justru muncul penolakan keras dari “mereka yang khawatir bahwa keterlibatan dalam dialog akan mengarah pada kemungkinan adanya pengkianatan terhadap misi kristen.” (Ariarajah, 2008: 109). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan yang besar bahwa akan ada aspek-aspek yang terpaksa ‘dikorbankan’ atau hilang jika melakukan dialog agama, pada umumnya mencakup ‘tiga ketakutan klasik’, meminjam istilah Ariarajah, yakni: terjadinya sinkretisme (mencampuraduk agama), mengkompromikan keunikan Kristus, dan hilangnya urgensi bermisi. Kuatnya penolakan ini sampai-sampai mengakibatkan ‘tidak adanya dialog tentang dialog’. Yang dimaksud ialah dalam pembahasan mengenai pokok ‘dialog agama’ dalam persidangan DGD tersebut tidak ada peluang untuk menjelaskan mengenai arti, cakupan, dan pentingnya dialog agama. Serta di lain pihak tidak ada kesediaan untuk mendengarkan penjelasan mengenai dialog agama, ini diakibatkan besarnya ketakutan dan kecurigaan dari para peserta terhadap ‘dialog agama’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang menarik, para penganjur ‘dialog agama’ ini rupanya muncul dari para peserta Asia, yang memang menghadapi dan menghidupi masyarakat majemuk sebagai sebuah situasi nyata di dalam kesehariannya. Sebagai contoh, Lynn de Silva dari Sri Lanka mengatakan bahwa dialog agama diperlukan “untuk menghilangkan arogansi, agresi, dan negativisme yang dilakukan para penginjil yang telah mengaburkan Injil dan membuatnya menjadi karikatur tentang agama yang agresif dan militan.” (Ariarajah, 2008:112)  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya ‘dialog agama’ masih merupakan barang baru dalam lingkup kekristenan, pro-kontra juga masih ada di sana-sini. Upaya untuk memulainya tentu tidak mudah, namun realitas kita di Indonesia memang memanggil kita untuk mulai membuka pintu dialog. Kemajemukan agama adalah bagian tak terpisahkan dari keseharian hidup kita, yang diperlukan adalah keberanian melangkah dan kesediaan untuk mendengarkan dari mereka yang berbeda. Karena dialog tidak hanya mencakup kesediaan untuk berbicara, tetapi terlebih ialah kelapangan hati dan kejernihan pikir untuk mendengar dari yang lain. Selamat belajar mendengar!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-1365186570636517158?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/1365186570636517158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2010/01/belajar-mendengar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/1365186570636517158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/1365186570636517158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2010/01/belajar-mendengar.html' title='Belajar Mendengar'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/S2EECoZ0i-I/AAAAAAAAACw/vm1lLzneYhI/s72-c/dengar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-4808115219739398459</id><published>2010-01-27T19:15:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T19:21:30.718-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Makanan sebagai Titik Temu Agama-agama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/S2ECrf5ugUI/AAAAAAAAACo/IfW39HpDywM/s1600-h/makan+bersama.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 256px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/S2ECrf5ugUI/AAAAAAAAACo/IfW39HpDywM/s320/makan+bersama.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431625571906781506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saya kecil, kurma selalu menjadi salah satu sajian yang dihidangkan dalam keluarga kami. Ibu saya biasanya membeli kurma itu dari toko di seberang rumah kami, yang dimiliki oleh seorang Muslim keturunan Arab. Kurma memang menjadi sajian khas di bulan Ramadhan, namun siapa saja bisa menikmatinya, tanpa memandang keyakinan. Siapa saja bisa menikmati Kurma tanpa dia harus menjadi seorang Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan semestinya bisa menjadi jembatan perjumpaan bagi umat beragama. Namun dalam kenyataannya masih cukup sering makanan justru menjadi sumber konflik. Ketika, misalnya, ada institusi keagamaan Kristiani yang memberikan bantuan makanan dan bahan pokok lainnya, maka segera muncul ketakutan bahwa ini “beras Kristen” atau “mie Kristen”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa Kolonialisme di Indonesia memang pernah terjadi pembagian beras untuk anak-anak yang belajar di sekolah Kristen, seperti yang dilakukan oleh Jan Pieterzoon Coen, seorang Gubernur Jenderal Belanda di Batavia. Hal inilah yang awalnya memunculkan istilah “rice Christian” (Kristen Beras). Namun ditegaskan oleh Prof. Ahmad Syafii Maarif, seorang Guru Bangsa dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, bahwa “cara-cara Coen ini tidak pernah efektif, karena pada umumnya iman yang bisa dibeli dengan benda adalah sebuah iman yang berkualitas rendah.” (2009: 81) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat disayangkan kalau sebagai sesama warga bangsa kita masih diusik oleh ketakutan adanya “beras yang beragama” ataupun “beras yang mengagamakan” orang lain. Rasa lapar dan makanan adalah hal yang netral dan universal. Setahu saya belum ada agama yang menjadikan penganutnya menjadi tahan lapar tanpa makan dan juga belum ada agama yang membuat orang yang menganutnya otomatis menjadi kenyang. Rasa lapar tidak diskriminatif, ia bisa dialami oleh penganut agama apapun. Demikian juga dengan netralitas makanan, seperti kurma yang tidak pernah menjadi Islam, demikian juga beras tidak pernah menjadi Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu memprihatinkan kalau makanan justru menyebabkan penganut agama berkonflik. Karena menurut Masao Takenaka, seorang Teolog Kristen dari Jepang, salah satu cara mewujudkan damai adalah dengan berbagi makanan. Dalam bukunya “Nasi dan Allah” ia mengungkapkan bahwa huruf China untuk kata ‘damai’(Wa) terdiri dari dua kata yakni: ‘nasi’ dan’ mulut’. Takenaka mengungkapkan bahwa “kita tidak akan mendapat kedamaian, kecuali kalau kita membagi nasi bersama semua orang. Kalau setiap mulut dalam dunia yang didiami orang penuh dengan makanan sehari-hari, maka kita akan memiliki damai di bumi.” (1993: 19) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau demikian, bukankah upaya kita membangun damai di Indonesia ini juga harus dimulai dengan kesediaan agama-agama untuk terlibat dalam upaya memberi makan pada sesama manusia, dengan ketulusan dan tanpa memandang agama. Agama-agama ditantang untuk menggali dari tradisinya mengenai rujukan untuk berbagi makanan dengan sesamanya dan kemudian mempraktekkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi Kristiani, dijumpai adanya teladan langsung dari Yesus yang memberi makan roti dan ikan kepada 5.000 orang dan 4.000 orang. Pemberian makan kepada ribuan orang ini dilakukan oleh Yesus bukan sebagai strategi agar mereka menjadi pengikutnya, namun karena hati-Nya tergerak oleh belas kasihan melihat orang banyak yang kelaparan (Markus 6: 34; 8: 2). Hal ini bisa dibuktikan ketika selesai memberi mereka makan sampai kenyang, bahkan hingga tersisa, kemudian “Yesus menyuruh mereka pulang” (Markus 8: 9). Sama sekali tidak ada upaya memanipulasi para penerima roti dan ikan untuk menjadi ‘Kristen roti’ ataupun ‘Kristen ikan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian perdamaian dapat diwujudkan dengan sebuah landasan universal, yakni kesediaan membagi makanan dengan mereka yang membutuhkan, yang tentunya memiliki dukungan teologis dari semua tradisi keyakinan yang ada. Hal ini sekaligus menjadi kontribusi agama-agama melawan gejala keserakahan dan kerakusan yang semakin menguat. Dimana banyak orang yang berpesta dengan kemewahan, namun di sekelilingnya lebih banyak lagi orang yang harus mengais sampah untuk mengganjal perutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu sepatutnya membagi makanan tidak lagi menjadi ‘titik tengkar’ yang menghantui benak orang-orang yang akan menerima bantuan dari saudara-saudaranya yang berbeda agama. Namun berbagi makanan justru menjadi ‘titik temu’, dimana berbagai tradisi agama-agama yang berbeda dapat menjalin harmoni tanpa mengingkari dasar-dasar keyakinannya. Sehingga kita dapat duduk makan bersama dan kalimat doa “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” benar-benar menjadi kenyataan. Bukan kalimat doa yang hanya berpusat pada diri dengan meminta ‘berikanlah pada saya makanan saya’, tetapi kepada ‘kami’. Makanan itu cukup bagi ‘kami’juga bagi ‘kita’, karena kalau kita bersedia membaginya, sesungguhnya makanan itu cukup bagi semua orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-4808115219739398459?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/4808115219739398459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2010/01/makanan-sebagai-titik-temu-agama-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4808115219739398459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4808115219739398459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2010/01/makanan-sebagai-titik-temu-agama-agama.html' title='Makanan sebagai Titik Temu Agama-agama'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/S2ECrf5ugUI/AAAAAAAAACo/IfW39HpDywM/s72-c/makan+bersama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-7161737315414796354</id><published>2009-12-30T02:26:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T02:27:15.684-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>Pesta telah Usai</title><content type='html'>Orang beranjak&lt;br /&gt;Kursi dilipat&lt;br /&gt;Sampah berserak&lt;br /&gt;Meja ditumpuk&lt;br /&gt;Musik senyap&lt;br /&gt;Lampu meredup&lt;br /&gt;Kelelahan melanda&lt;br /&gt;Senyum mengembang&lt;br /&gt;Haru merebak&lt;br /&gt;Pesta telah usai&lt;br /&gt;Mimpi sudah selesai&lt;br /&gt;Jalan panjang kini membentang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rony C. Kristanto, Pesta telah Usai, dari perjalanan Semarang-Kopeng setelah melewati sisa pesta, 18/07/2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-7161737315414796354?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/7161737315414796354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/12/pesta-telah-usai.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/7161737315414796354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/7161737315414796354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/12/pesta-telah-usai.html' title='Pesta telah Usai'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-1784062899123886155</id><published>2009-12-30T01:53:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T02:00:59.218-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>Setelah melewati “waria” di “Tanggul Indah”</title><content type='html'>Malam itu aku melintas,&lt;br /&gt;setelah reda dari hujan yang deras&lt;br /&gt;Wajah-wajah sumringah menebar ajakan,&lt;br /&gt;tubuh-tubuh semampai menawari kehangatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah gigitan dingin dan tamparan angin mereka bertahan, &lt;br /&gt;menjagai riasan biar tak digerus hujan, &lt;br /&gt;sembari terus mematut diri di cermin bundar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampak seorang melambai, &lt;br /&gt;bahkan menepukkan tangan,&lt;br /&gt;bersemangat ia mengundangku datang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembari terus berlalu aku bergumam,&lt;br /&gt;kenapa orang hanya bisa mencela,&lt;br /&gt;tak pernahkah hirau pada juang mereka selepas hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjajakan yang masih tersisa, &lt;br /&gt;karna ruang lain tersegel buat mereka&lt;br /&gt;Belum sempat mereka berkisah,&lt;br /&gt;taburan serapah sudah mencerca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, &lt;br /&gt;ya suatu kali aku akan singgah,&lt;br /&gt;mendengarkan kisah paduan dua dunia…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Rony C. Kristanto, Semarang, 28/12/2009, 23.40)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-1784062899123886155?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/1784062899123886155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/12/setelah-melewati-waria-di-tanggul-indah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/1784062899123886155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/1784062899123886155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/12/setelah-melewati-waria-di-tanggul-indah.html' title='Setelah melewati “waria” di “Tanggul Indah”'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-4531383475433053138</id><published>2009-12-30T01:29:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T01:39:42.063-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='merenung'/><title type='text'>Menyembah Yesus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/Szsf1CWmlvI/AAAAAAAAACg/CkL0WG0jwGo/s1600-h/menyembah_1.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/Szsf1CWmlvI/AAAAAAAAACg/CkL0WG0jwGo/s320/menyembah_1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420961572495726322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matius 2: 11a “Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampak seseorang sedang berjalan sambil berjongkok dan kepala menunduk, kemudian ketika sampai di depan singgasana, segera ia menangkupkan kedua belah tangan lalu mengangkatnya hingga ke bawah dagu. Itulah ekspresi menyembah yang dilakukan oleh seorang abdi kepada rajanya. Semua tindakan tadi sebenarnya mewakili sikap hati seorang abdi yang menempatkan dirinya berada di bawah perintah atau dengan kata lain takluk kepada Rajanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap tubuh jongkok, menunduk dan mengangkat tangan adalah tampak luar dari penaklukan yang telah terlebih dahulu ada terjadi di batin. Sama seperti ketika orang-orang Majus bersusah payah mencari “Raja yang baru dilahirkan” itu, begitu masuk dan melihat bayi Yesus maka mereka segara “sujud menyembah Dia”, lalu “membuka tempat harta bendanya dan menghaturkan persembahan kepada-Nya” (Mat 2:11). Ungkapan penyembahan mereka itu mewakili sikap hati mereka yang takluk pada Yesus. Bukan sekedar tampilan lahiriah yang nampaknya menyembah dan mempersembahkan harta benda. Apa buktinya? Selesai menyembah Yesus, maka orang-orang Majus memutuskan untuk tidak mematuhi perintah Herodes. Karena Herodes sebenarnya menyuruh mereka melaporkan hasil kunjungan mereka kepadanya dengan alasan ingin menyembah (Mat 2: 8) padahal sesungguhnya justru ingin membunuh (Mat 2: 13), hingga akhirnya ia memerintahkan membunuh semua anak berusia di bawah dua tahun di sekitar Betlehem (Mat 2: 16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa orang Majus berani untuk melawan Herodes yang adalah Raja yang berkuasa pada waktu itu? Inilah bukti penyembahan kepada Yesus. Sesungguhnya ketika kita memilih untuk menaklukan diri kepada Yesus, maka kita dihadapkan pada konsekuensi untuk menghadapi kekuasaan lain di dunia ini yang korup, menindas dan tidak adil terhadap sesama manusia. Sudahkah kita menyembah Yesus?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-4531383475433053138?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/4531383475433053138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/12/menyembah-yesus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4531383475433053138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4531383475433053138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/12/menyembah-yesus.html' title='Menyembah Yesus'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/Szsf1CWmlvI/AAAAAAAAACg/CkL0WG0jwGo/s72-c/menyembah_1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-1838870857419475816</id><published>2009-12-30T01:10:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T01:19:19.326-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='merenung'/><title type='text'>Ketekunan dan Jalan Pintas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SzsZoir3hqI/AAAAAAAAACY/GuyfAWfS1lo/s1600-h/tekun.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SzsZoir3hqI/AAAAAAAAACY/GuyfAWfS1lo/s320/tekun.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420954760766785186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakobus 5: 11a “Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat terakhir ini ada tayangan televisi yang menampilkan hasil penelusuran terhadap jenis-jenis makanan yang mengandung bahan-bahan yang semestinya tidak boleh dikonsumsi manusia, seperti pewarna kain, formalin, dan boraks. Para pedagang ini ingin memperoleh keuntungan yang besar dengan modal yang sedikit dam cara yang mudah. Mungkin sesaat mereka bisa menangguk keuntungan besar. Namun begitu konsumen mengetahui hal ini, maka seketika itu juga konsumen akan meninggalkan produk tersebut. Inilah mentalitas ‘jalan pintas’. Orang tidak mau bersusah payah menjaga mutu, membangun kepercayaan pelanggan, dan sedikit mengurangi keuntungan namun dapat berbisnis secara berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Godaan bagi kita untuk menempuh jalan ini memang sangat besar. Apalagi kalau semakin banyak orang memilih menempuh ‘jalan pintas’ semacam ini. Rasanya sangat sepi ketika kita harus menempuh ‘rute resmi’. Tidak banyak orang yang bersedia menjalaninya. Tapi kita diingatkan bahwa sejak jaman dahulu para nabi yang selalu berbicara kebenaran juga dihadapkan pada tantangan, penolakan dan penderitaan. Itulah sebabnya Rasul Yakobus menasehatkan agar kita bersabar, maksudnya tekun menjalani hidup dalam kebenaran. Seperti petani yang sabar menanti hujan menyirami ladangnya hingga tiba musim panen. Seperti Ayub yang tetap tekun dan akhirnya Tuhan yang menjadi pembelanya. Dalam menempuh jalan sunyi sambil menantikan hasil akhir itu kita diajak untuk tetap bertekun “karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-1838870857419475816?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/1838870857419475816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/12/ketekunan-dan-jalan-pintas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/1838870857419475816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/1838870857419475816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/12/ketekunan-dan-jalan-pintas.html' title='Ketekunan dan Jalan Pintas'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SzsZoir3hqI/AAAAAAAAACY/GuyfAWfS1lo/s72-c/tekun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-5073664218802188028</id><published>2009-12-30T00:58:00.001-08:00</published><updated>2009-12-30T01:00:59.098-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='merenung'/><title type='text'>Kebaikan Hitam-Putih ala Reality Show</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SzsWauZuF0I/AAAAAAAAACQ/barFb4q0Vq4/s1600-h/reality+tv.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 280px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SzsWauZuF0I/AAAAAAAAACQ/barFb4q0Vq4/s320/reality+tv.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420951224858842946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampak seorang anak perempuan kecil bertampilan lusuh berjalan kesana kemari menemui orang-orang untuk menukarkan baju kumal yang dibungkus dalam tas plastik. Si anak menuturkan pada orang-orang yang dimintai tolong bahwa baju yang dibawanya sudah dua tahun ini dipakai untuk merayakan natal dan sudah robek disana sini. Dengan memelas ia meminta pada orang-orang itu untuk menukari baju yang dibawanya itu dengan baju yang keadaannya lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang ibu yang bersedia menukari baju itu, tapi suaminya memilih untuk memberi uang saja dan janggalnya si anak serta merta menolak tawaran pemberian uang itu. Sampai-sampai si ibu dan suaminya beradu mulut mengenai perbedaan solusi pemberian pertolongan yang akan mereka pilih. Si ibu bersikukuh mengantar anak itu ke toko untuk membelikan baju, tapi si anak malah mengatakan “tidak usah saja bu, bapaknya sepertinya tidak setuju, bapaknya marah ya”, lalu perlahan si anak beringsut pergi meninggalkan pasangan itu yang malah bersitegang akibat ulah si anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian anak itu bertemu dengan seorang ibu paruh baya yang berpenampilan sederhana, dialog lembali terulang dan si ibu bersedia memberi uang pada si anak sebesar Rp. 15.000,- (limabelas ribu rupiah). Namun tetap saja si anak menolak karena ia hanya mau bajunya ditukar dengan baju lain. Padahal si ibu jelas berada jauh dari rumahnya dan tidak ada toko di sekitar tempat itu, lantas mau ditukar dengan apa dan dengan baju darimana? Dengan agak jengkel si ibu mengatakan ”lha adanya ya baju yang saya pakai ini, tapi apa ya mau ditukari dengan baju ini, kan kebesaran?”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertemu dengan orang-orang yang tidak mengabulkan dengan tepat seperti permintaannya, sampailah si anak pada seorang ibu penjual minuman dan makanan kecil, setelah dialog awal terulang maka (bisa ditebak), si ibu ini bersedia menukari pakaian itu dengan pakaian anaknya, lalu si ibu mengambilkan pakaian pengganti itu di rumah yang katanya tidak seberapa jauh dari tempatnya berjualan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tak berapa lama munculah seorang pria yang memesan segelas minuman pada si ibu, sambil berbasi-basi menanyakan jualan dan keluarga ibu ini, lalu ia mengajak ibu itu duduk di sebelahnya dan menyodorkan segepok uang limapuluh ribuan berwarna biru. Akhirnya bisa ditebak, si ibu menangis terharu, lalu berlari pulang dan menceritakan pengalamannya mendapat uang itu kepada seisi rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua adegan tadi saya saksikan dalam tayangan reality show televisi berjudul ”Minta Tolong” pada hari Senin, 28 Desember 2009. Saya masih ingat ketika dulu acara ini masih bernama ”Tolong”, tidak ada perbedaan siginifikan selain perbedaan pada nama acara. Namun, bisa jadi karena setiap episode baru memerlukan jenis permintaan tolong yang baru pula, maka semakin lama jenis permintaan tolong yang diajukan nampak semakin mengada-ada (Jawa: nganeh-nganehi) dan terkesan memaksa untuk menuruti tepat seperti keinginan si peminta tolong (seperti pada adegan si anak yang tidak mau diberi uang dan hanya mau ditukari baju). Maka cukup banyak ”calon penolong” yang berkerut keningnya mendengar permintaan si anak yang cukup nganeh-nganehi tersebut. Lalu biasanya ekspresi kebingungan dan juga tak jarang kejengkelan si ”calon penolong” ini diekspose sedemikian rupa, hingga mengesankan mereka sebagai si ”jahat” yang enggan menolong. Begitu pula adegan ketika si peminta tolong meninggalkan calon penolongnya, nampak ekspose ekspresi wajah si ”calon penolong” seakan menampilkan sosok pelit dan kejam yang tidak berbelas kasihan pada si anak kecil kumal ini. Ekspose ini tak ubahnya hiperbola dalam tayangan sinetron di televisi swasta nasional yang menampilkan kontras ekstrim antara sosok ”si jahat” dengan mata melotot, ekspresi wajah bengis serta nada suara yang cenderung selalu meninggi setiap kali berbicara kepada si ”baik” yang berbicara dengan gemulai, pelan, serta berwajah sendu bahkan lebih sering dihiasi tetesan air mata. Pemilahan semacam ini mendangkalkan pemahaman kita terhadap kompleksnya realitas kehidupan. Orang hanya diajak menggolongkan kebaikan pada si lemah dan si pemberi pertolongan, padahal orang yang tidak memberi pertolongan pada saat itu (misal pada si anak tadi) belum tentu tidak mau atau tidak bersedia menolong, tapi bisa jadi memang tidak memiliki pakaian untuk menukar, atau sudah menwarkan bantuan dalam bentuk lain tapi malah ditolak, atau bisa jadi ia pernah punya pengalaman traumatis ditipu ketika hendak menolong orang yang mengiba bantuan dengan modus operandi serupa, sehingga orang yang tidak menolong dalam acara itu tidak serta merta bisa diklasifikasikan sebagai ”si jahat” atau ”si pelit”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu saya memiliki kecurigaan lain, karena selama ini ”reality show” tidaklah selalu menampilkan realitas, maka yang patut dipertanyakan ”apakah semua adegan dalam tayangan itu terjadi secara kronologis?” (dalam artian proses perjalanan si anak dari meminta tolong pada satu orang ke orang lain hingga akhirnya sampai klimaks pada ”si malaikat penolong” tadi memang demikian adanya dalam real time?), karena tidak realistis ketika melihat setiap tayangan itu selalu terjadi dengan kronologi yang endingnya tertebak, yang hipotesisnya selalu terbukti, yakni ada orang-orang yang terkesan lebih mampu (dari penampilan fisik dan pakaian) namun ”tidak bersedia menolong” dan lalu sebagai puncaknya adalah orang yang ”terkesan juga menderita”, namun justru mau menolong. Apakah dalam pengambilan gambar selama puluhan episode itu tidak pernah sekalipun ada orang ”mampu” yang memberikan pertolongan, atau bisa jadi hal itu terjadi dalam realitas namun memang disisihkan dari tayangan ini karena dramatisasi ekspresi pada klimaks acara akan dirasa kurang menggetarkan pemirsa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian hadiah uang pada ”si penolong” bisa saja membawa kita berpamrih atas pertolongan yang kita berikan, sehingga pernah dalam sebuah adegan ada orang yang bertanya ” ini acara Tolong atau bukan?”, orang akan ”berjudi” untuk memberi pertolongan pada orang-orang yang meminta bantuan, ”siapa tahu ini acara Tolong”. Meskipun ”mungkin” yang diharapkan oleh acara ini adalah ajakan berbuat kebaikan bagi sesamanya, meski tidak perlu disangkali kalau acara ini selain menghasilkan keuntungan bagi produsernya juga wajib menyajikan ”hiburan” bagi pemirsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, yang juga membuat saya risi adalah kalimat ”saya mau baju baru untuk natalan seperti teman-teman yang lain”. Kalau saya yang bertemu dengan anak kecil itu, bisa jadi saya termasuk kategori ”orang jahat ala reality show Minta Tolong”. Bukan karena tidak mau menolong, tapi mengidentifikasi natal dengan baju baru tentu jauh dari makna natal itu sendiri. Mensyaratkan baju baru dan bagus untuk natal sama sekali bukan cerminan pesan natal. Tapi justru ini adalah ”budaya belanja dan kemewahan” yang hendak ditentang oleh kisah natal mula-mula, yakni kelahiran yang sederhana di kandang domba yang bau, sebuah solidaritas bagi kaum papa, bukan dengan cara memanjakan dan memberikan kemewahan, namun memberikan martabat pada mereka untuk berjalan dengan kepala tegak dan berani memperjuangkan hidupnya, karena Sang Mahakuasa itu berkenan hadir dalam kelemahan dan kesederhanaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya secara esensial Reality Show ”Minta Tolong” masih lebih mendidik dibanding reality show lain yang hanya menjual aib, makian, pertengkaran dan tangisan itu, namun kalau tujuan awal acara ini sesudah tergerus trend industrialisasi media, maka apa mau dikata, saya hanya bisa berkata ”selamat menjual orang miskin.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-5073664218802188028?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/5073664218802188028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/12/kebaikan-hitam-putih-ala-reality-show.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/5073664218802188028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/5073664218802188028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/12/kebaikan-hitam-putih-ala-reality-show.html' title='Kebaikan Hitam-Putih ala Reality Show'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SzsWauZuF0I/AAAAAAAAACQ/barFb4q0Vq4/s72-c/reality+tv.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-4102200656863207838</id><published>2009-10-11T23:32:00.000-07:00</published><updated>2009-10-11T23:39:35.511-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni'/><title type='text'>Benih yang Jatuh dan Mati</title><content type='html'>Refleksi 4 Tahun “Perziarahan” Rumah Seni Yaitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto (Penikmat Seni)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genap 4 (empat) tahun usia Rumah Seni Yaitu (RSY) Semarang pada 19 Agustus 2009 yang lalu. Dalam suasana ulang tahun ini diadakan pameran lukisan Antonius Danang Bramasti, SJ bertajuk “Perziarahan”. Pameran yang menampilkan lukisan meditatif dari Danang Bramasti yang juga seorang Pastor ini seakan menjadi refleksi keberadaan RSY itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema “perziarahan” menggiring pada pemaknaan terhadap perjalanan itu sendiri dan bukan terutama pada pencapaian. Sehingga perjalanan RSY selama empat tahun ini tidak harus selalu diukur dengan perhitungan matematika ekonomi. Yang menurut Tubagus P. Svarajati, pemilik RSY, tentu jauh dari mendatangkan kelimpahan material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kemudian diukur dari kelahiran perupa-perupa baru di Semarang, maka nampaknya aspek ini pun masih menjadi kegelisahan Tubagus. Sebab menurutnya masih lebih banyak perupa dari luar Semarang yang dipamerkan karyanya di RSY. Sedangkan perupa semarang sendiri masih lebih memilih untuk mengitari galeri komersial yang lebih prospektif secara finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, seperti yang dikatakan Landung Simatupang dalam pembukaan pameran “Perziarahan” (7/8/09) keberadaan RSY yang ada di sebuah perkampungan ini mengingatkannya pada Bengkel Teater yang didirikan Almarhum WS Rendra di Jogja. Disana anak-anak kampung dengan leluasa menonton latihan teater, orang-orang biasa bercampur dengan penikmat seni dan kritikus ikut menyaksikan berbagai pertunjukkan. &lt;br /&gt;Seni memenuhi kodratnya menjadi milik publik (baca: orang biasa).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga bisa teramati dari peserta diskusi lukisan “Perziarahan” (21/8/09) yang rata-rata masih berusia muda dan bahkan hampir tidak ada perupa Semarang yang hadir disana. Berbagai pameran yang berbeda telah menghasilkan keragaman pengunjung. Mereka itulah peziarah-peziarah yang menyinggahi RSY sebagai oase dalam perjalanan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oase yang Mengering&lt;br /&gt;Namun bagaimana kalau oase itu mengering? Mata air yang disinggahi ratusan bahkan ribuan peziarah ini kabarnya akan ditutup oleh si empunya. Alasannya klasik yakni kendala finansial. Sontak beberapa peserta diskusi kemudian menanyakan keseriusan niat itu. Diskusi lanjutan tentang kelangsungan hidup RSY itulah yang menggiring saya mempertanyakan peran kita yang pernah disejukkan oleh RSY namun tidak terlibat merawatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memang akhirnya RSY ditutup, maka dalam konteks perziarahan kita mesti bisa menerimanya. Bukankah itulah esensi ziarah? Bukan seperti wisata yang menghendaki kemudahan dan tercapainya sebuah tujuan. Karena ziarah lebih pada menghidupi perjalanan itu sendiri. Ziarah tidak mengharuskan pencapaian tertentu yang spektakuler. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau “perziarahan” adalah pameran terakhir di RSY, maka itu juga menjadi sketsa RSY. Setidaknya RSY pernah ada dan menziarahi kehidupan masyarakat kampung jambe (dimana RSY berada), beragam komunitas yang pernah menghadiri pameran disana, kota Semarang dan bahkan dunia seni rupa Indonesia. Karena Tubagus tidak punya keharusan apa-apa untuk melanjutkan keberadaan RSY. Kita juga tidak layak menuntut, karena kehadiran kita juga tidak memberi kontribusi ekonomis bagi kelanjutan RSY. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian yang Sakramental&lt;br /&gt;Bisa jadi nantinya RSY akan menjadi seperti tumpukan koper tua yang dipamerkan dalam “Perziarahan”. Koper-koper peninggalan para pastor senior itu pernah begitu berharga pada suatu masa. Namun kemudian terabaikan dan ditumpuk begitu saja di gudang. Sampai ketika Romo Danang menemukan koper-koper itu dan menceritakannya pada Tubagus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koper-koper itu kemudian dipakai menjadi objek lukisan. Bahkan kemudian ikut dipamerkan menjadi karya instalasi yang dijuduli “jejak senior”. Sontak tumpukan koper usang berdebu itu menjadi barang seni. Usai pameran koper-koper itu akan disimpan di Museum Katedral Jakarta, karena baru disadari nilai historisnya yang tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun masih ada kisah koper lain milik seorang pastor yang justru, oleh rekan Romo Danang, dijadikan tempat menyimpan makanan ternak. Apakah koper tempat makanan ternak itu kehilangan nilai estestis dan historisnya? Atau justru memenuhi kodratnya sebagai peziarah yang tidak lagi melekat pada kesementaraan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa nasib RSY nantinya? Melanjutkan hidupnya sebagai ruang berkesenian,  terekam dalam catatan sejarah seni, atau beralih fungsi menjadi lahan komersial. Dalam ziarah ketiganya sah. Kalau toh RSY harus ditutup (baca: mati). Maka kematiannya adalah kematian yang sakramental. Karena jika benih itu tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, maka benih itu tidak dapat melanjutkan kehidupannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kebetulan atau tidak jika Tubagus sendiri dalam menata lukisan Romo Danang kemudian menempatkan lukisan “tunas kelapa” di urutan terakhir. Sehingga perziarahan itu bukan perjalanan mencari kepastian, namun keberanian menghidupi ketidakpastian. Kematian itu bukan akhir, namun malahan sebuah awal yang baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika RSY benar akan ditutup sebagai ruang seni. Maka penutupan itu justru akan membuatnya hidup. Peziarah yang pernah mereguk kesegaran darinya akan berbondong mengerahkan upaya menghidupkan RSY yang baru. Mereka kemudian tidak sekedar jadi penikmat namun juga perawat. Maka,sebagai ucapan ulang tahun ke empat dan bisa jadi yang terakhir, saya ucapkan: “selamat berziarah RSY.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-4102200656863207838?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/4102200656863207838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/10/benih-yang-jatuh-dan-mati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4102200656863207838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4102200656863207838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/10/benih-yang-jatuh-dan-mati.html' title='Benih yang Jatuh dan Mati'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-4325578105761938769</id><published>2009-10-07T10:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T10:32:04.544-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>tak hanya kata</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;kayu,&lt;br /&gt;paku,&lt;br /&gt;duri,&lt;br /&gt;dera,&lt;br /&gt;darah,&lt;br /&gt;siksa,&lt;br /&gt;caci,&lt;br /&gt;kelu,&lt;br /&gt;ngilu,&lt;br /&gt;ragu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...kau bela rasa dan drita &lt;br /&gt;tak cuma kata...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(07/05/08, 00:01, Semarang)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-4325578105761938769?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/4325578105761938769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/10/tak-hanya-kata.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4325578105761938769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4325578105761938769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/10/tak-hanya-kata.html' title='tak hanya kata'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-5172942041925949648</id><published>2009-10-07T10:28:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T10:29:59.072-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>bukan doraemonmu</title><content type='html'>&lt;em&gt;Aku ingin begini &lt;br /&gt;aku ingin begitu...&lt;br /&gt;ingin ini, ingin itu banyak sekali&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hasrat slalu menuntut&lt;br /&gt;tak kuasa tubuh menurut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;semua ku mau&lt;br /&gt;semua ku pinta&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kerap kusangka&lt;br /&gt;terkabulnya doa bukti kuasaNya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;semua-semua dapat dikabulkan&lt;br /&gt;dapat dikabulkan dengan kantong ajaib&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kucari,&lt;br /&gt;kupinta,&lt;br /&gt;kuketok,&lt;br /&gt;bukankah sgalanya Kau punya&lt;br /&gt;katanya smua Kau cipta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aku ingin terbang bebas di angkasa&lt;br /&gt;hei baling-baling bambu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mustahil tak ada bagiMu&lt;br /&gt;pun bagiku &lt;br /&gt;karna ku meyakiniMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lirih Kau membisik,&lt;br /&gt;...lidahku pernah kelu&lt;br /&gt;...asaku lenyap&lt;br /&gt;...kuseru iapun senyap&lt;br /&gt;inginku bukan mauMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;na na na&lt;br /&gt;aku sayang sekali,&lt;br /&gt;doraemon&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapaklah jejakKu,&lt;br /&gt;kerap meliku berbatu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karna Ku bukan doraemonmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (6/5/08, 23:12, Semarang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-5172942041925949648?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/5172942041925949648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/10/bukan-doraemonmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/5172942041925949648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/5172942041925949648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/10/bukan-doraemonmu.html' title='bukan doraemonmu'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-5351873000412943972</id><published>2009-10-07T10:23:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T10:25:47.600-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>hadirmu</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;smua menanti hadirMu,&lt;br /&gt;mengharap kuasaMu,&lt;br /&gt;memohon mujizatMu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seru, lagu,&lt;br /&gt;puji, sembah, sujud...&lt;br /&gt;apalagi yang Kau perlu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau berjalan tertatih,&lt;br /&gt;bukan itu cuma nenek tua&lt;br /&gt;Kau berceloteh riang,&lt;br /&gt;diam kau ganggu hadiratnya!&lt;br /&gt;Kau mencari hiburan,&lt;br /&gt;siapkan batu buat merajamnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ah...memang hadirMu tak slalu sperti bayangku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (06/05/08, 23:50, Semarang)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-5351873000412943972?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/5351873000412943972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/10/hadirmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/5351873000412943972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/5351873000412943972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/10/hadirmu.html' title='hadirmu'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-5907163314782479229</id><published>2009-10-07T10:21:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T10:23:20.926-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>kau ada</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kucari... &lt;br /&gt;tak kudapat&lt;br /&gt;kupinta...&lt;br /&gt;tak Kau beri&lt;br /&gt;kuketok...&lt;br /&gt;tak kau sahut,&lt;br /&gt;apalagi Kaubuka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak mengapa&lt;br /&gt;karna kutau Kau ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6/5/08, 23:36,Semarang)&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-5907163314782479229?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/5907163314782479229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/10/kau-ada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/5907163314782479229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/5907163314782479229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/10/kau-ada.html' title='kau ada'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-1132085595195812614</id><published>2009-10-07T10:18:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T10:21:46.927-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poem'/><title type='text'>aku adalah aku</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;aku pintu,&lt;br /&gt;tapi tak bisa kemana saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku jalan,&lt;br /&gt;namun berbatu dan debu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku kebenaran,&lt;br /&gt;tak buat didebatkan&lt;br /&gt;apalagi dipaksakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku hidup, &lt;br /&gt;tuk dijalani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku adalah aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku bukan imanmu&lt;br /&gt;bukan pula kitabmu&lt;br /&gt;apalagi dogmamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak sperti sangkamu,&lt;br /&gt;harapmu,&lt;br /&gt;maumu,&lt;br /&gt;bahkan doamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku adalah aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak cukupkah itu bagimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau slalu ingin membungkusku,&lt;br /&gt;menjagaku,&lt;br /&gt;membelaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau rayu aku dengan doamu&lt;br /&gt;kau suap aku dengan hartamu&lt;br /&gt;mengiba dengar air matamu&lt;br /&gt;kau paksa aku menjadi maumu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi aku adalah aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak cukupkah aku bagimu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6/5/08, 23:29,Semarang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-1132085595195812614?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/1132085595195812614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/10/aku-adalah-aku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/1132085595195812614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/1132085595195812614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/10/aku-adalah-aku.html' title='aku adalah aku'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-7339046630960685165</id><published>2009-08-21T23:15:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T23:16:38.713-07:00</updated><title type='text'>Menyoal Hoakiau dalam "Liputan Khas"</title><content type='html'>Menyoal Hoakiau dalam “Liputan Khas”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto (Pemerhati Ketionghoaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya satu bulan terakhir ini Kompas Jateng menampilkan rubrik “Liputan Khas Hoakiau”. Berbagai liputan dari kawasan pecinan ini diberi ruang setengah halaman di edisi Sabtu. Tidak biasanya liputan seputar diskursus ketionghoaan muncul dalam ruang reguler. Biasanya liputan semacam ini lebih insidentil atau hanya menjelang Imlek saja. &lt;br /&gt;Sebagai seorang keturunan Tionghoa yang dibesarkan dalam era Orde Baru, kemunculan rubrik semacam ini tentu menggembirakan bagi saya. Selain karena adanya ruang ekspresi dan penghargaan bagi kiprah etnis Tionghoa, diberinya ruang khusus bagi komunitas Tionghoa ini juga bisa menjadi media bagi sosialisasi kiprah komunitas Tionghoa dalam berbagai bidang kehidupan. &lt;br /&gt;Dalam amatan saya ruang ini potensial menawarkan kekhasan multikultural yang dihidupi oleh komunitas Tionghoa. Namun tentunya untuk memperluas cakupan fungsi ruang ini diperlukan kompetensi dasar seputar diskursus ketionghoaan. Karena jika tidak, maka liputan-liputan ini akan sekedar menjadi romantisme bagi “generasi tua” Tionghoa yang pasca Reformasi seakan terhanyut dalam euforia resinifikasi. Sehingga liputan ini justru akan melahirkan eksklusifitas etnis Tionghoa sekaligus menuai prasangka dari etnis lain.&lt;br /&gt;Salah satu hal mendasar yang patut dipertanyakan adalah penggunaan istilah “Hoakiau”. Istilah itu sendiri berasal dari kata hua dan qiao. Hua mengacu pada suku Hua yang sekitar 5.000 tahun yang lalu mendiami daratan China bagian utara dan merupakan cikal bakal dari suku terbesar yang sekarang ada di China. Sedangkan Qiao secara harfiah bermakna “tinggal sementara di luar negeri” dengan tekanan utama pada kata “sementara” (Wibowo, 1999: 102-103). &lt;br /&gt;Dengan demikian secara etimologis istilah Hoakiau merujuk pada orang dari suku Hua yang bepergian ke luar daratan China untuk sementara waktu. Entah kepergian itu untuk berdagang, wisata, atau keperluan lain. Waktunya bisa dalam bilangan minggu, bulan, atau bahkan tahun. Tetapi dengan tegas  Wibowo (1999: 103)mengungkapkan bahwa “yang jelas orang-orang ini tidak selama-lamanya tinggal di luar negeri. Pada suatu waktu mereka kembali ke C[h]ina.” &lt;br /&gt;Sejak jaman pemerintahan Qing, Kuomintang, hingga kekuasaan Komunis penggunaan istilah Hoakiau dan pengakuan kewarganegaraan bagi orang Tionghoa yang ada di luar daratan China memiliki motif politis dan ekonomis. Antara lain dibutuhkannya modal dari para Hoakiau, terutama seiring kebijakan ”Reformasi dan Keterbukaan” yang dicetuskan Deng Xiao Ping pada tahun 1978. Namun, munculnya reaksi dari negara-negara Asia Tenggara terhadap nasionalisme Hoakiau memaksa pemerintah China merumuskan ulang kebijakan kewarganegaraan tersebut (Suryadinata, 1999: 248-251).&lt;br /&gt;Sedangkan di Indonesia, sebenarnya semenjak Zhou Enlai dan Ali Sastroamijoyo menandatangani perjanjian penghapusan Dwi Kewarganegaraan pada tahun 1955, maka penggunaan istilah Hoakiau telah mengalami penyempitan makna. Hoakiau tidak lagi berlaku bagi semua orang Tionghoa yang berada di luar daratan China, namun hanya bagi mereka yang memilih untuk tetap berkewarganegaraan RRC. Sedangkan bagi mereka yang memilih kewarganegaraan lokal (dalam hal ini menjadi WNI) tidak dapat lagi disebut Hoakiau. Mereka yang telah melepaskan kewarganegaraan RRC ini harus sepenuhnya tunduk pada perundangan Indonesia dan tidak ada lagi perlindungan dari pemerintah RRC.&lt;br /&gt;Sejak tahun 1984, barulah pemerintah RRC memperkenalkan istilah baru bagi orang Hua yang ada di luar daratan China namun tidak lagi menjadi warganegara China. Sebutan bagi mereka adalah Wai Ji Hua Ren atau “orang Hua yang berwarganegara asing” (Wibowo, 1999: 124). Dengan munculnya penggunaan istilah Huaren ini maka menjadi jelas pembedaan antara mereka yang “tinggal sementara” dan “menetap”, antara yang warganegara RRC dan WNI.&lt;br /&gt;Karena itu patut dipertanyakan alasan penggunaan istilah Hoakiau dalam “Liputan Khas” ini. Apakah rubrik ini memang dimaksudkan untuk memberi ruang bagi etnis Tionghoa di Indonesia yang masih merupakan warganegara RRC? Atau yang dimaksud sebenarnya adalah etnis Tionghoa Indonesia yang kini lebih tepat disebut Huaren itu? Saya bisa mengatakan bahwa yang dimaksud sebagai “Hoakiau” disini bukanlah Hoakiau secara etimologis dan yuridis itu. Melainkan sebenarnya yang dimaksud adalah Huaren. &lt;br /&gt;Coba cermati saja ragam liputan yang disajikan selama ini seperti misalnya Sekolah Nasional Karangturi yang merupakan sekolah bagi peranakan Tionghoa yang didirikan karena  mereka tidak bisa masuk dalam Tiong Hoa Hwee Koan yang berkiblat ke China daratan (Kompas Jateng, Sabtu 27/6/2009). Lihat juga profil Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) yang merupakan organisasi sosial bagi peranakan Tionghoa di Surakarta (Kompas Jateng, Sabtu 4/7/2009). Kalangan peranakan ini umumnya sudah hidup beberapa generasi di Indonesia, melakukan kawin campur, pada umumnya kehilangan kemampuan berbahasa China dan mayoritas dari mereka adalah Warga Negara Indonesia. Tentu “jauh panggang dari api” untuk menggolongkan mereka sebagai Hoakiau.&lt;br /&gt;Ruang “Liputan Khas” yang disajikan ini dapat menjadi sumbangsih media bagi penjernihan berbagai stereotipe negatif yang selama ini dilekatkan pada etnis Tionghoa. Dan hal itu bisa dimulai dengan penelusuran rekam sejarah keterlibatan etnis Tionghoa dalam perjuangan bangsa. Sehingga Huaren yang dengan kesadaran telah memilih kewarganegaraan Indonesia ini tidak begitu saja disamakan dengan Hoakiau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-7339046630960685165?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/7339046630960685165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/08/menyoal-hoakiau-dalam-liputan-khas.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/7339046630960685165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/7339046630960685165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/08/menyoal-hoakiau-dalam-liputan-khas.html' title='Menyoal Hoakiau dalam &quot;Liputan Khas&quot;'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-6151543787632980090</id><published>2009-08-21T23:03:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T23:17:22.286-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dialog'/><title type='text'>Menyoal Kebebasan Beragama di Indonesia</title><content type='html'>Menyoal Kebebasan Beragama di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan dengan Elga Sarapung (Direktur INTERFIDEI, Yogyakarta), Romo Aloys B. Purnomo, Pr (Komisi HAK Keuskupan Agung Semarang), dan Tedi Kholiludin (Direktur eLSA, Semarang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Rony C. Kristanto &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 64 tahun yang lalu konstitusi dasar kita sebenarnya sudah memberikan jaminan bagi kebebasan beragama di negeri ini. Coba simak saja bunyi pasal 29, ayat 2 UUD 1945 berikut ini: “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu” (Cetak miring dari penulis). &lt;br /&gt;Adanya pasal mengenai kebebasan beragama ini mencerminkan keluasan cakrawala berpikir para pendiri bangsa ini. Namun sekarang ini ada pertanyaan yang mengusik kita bersama, yakni ‘bagaimana para penerusnya (pemerintah) memahami dan menjamin terpenuhinya kebebasan tersebut?”&lt;br /&gt;Beberapa tahun terakhir kita kerap disuguhi berita penyerbuan terhadap aliran-aliran kepercayaan, pelarangan kelompok keagamaan baru, sweeping terhadap buku-buku yang berbeda sudut pandang dan juga penutupan tempat-tempat Ibadah. Aksi anarkis semacam ini menjadi hal yang sepertinya semakin akrab dengan keseharian kita. &lt;br /&gt;Pemberitaan media massa terhadap kelompok massa yang melakukan aksi kekerasan semacam ini seakan justru menjadi pembenar bagi aksi anarkis tersebut. Kelompok radikal semacam ini kecil jumlahnya namun menjadi besar karena sorotan kamera dan tayangan layar kaca.&lt;br /&gt;Di sisi lain pemerintah sepertinya setengah hati untuk mengambil tindakan terhadap kelompok-kelompok semacam ini. Tentu kita masih ingat dengan penyerbuan terhadap kelompok massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) oleh kelompok lain yang mengenakan atribut keagamaan, namun melakukan pemukulan dengan menggunakan bambu bahkan senjata tajam. Sampai saat ini kita belum melihat tindakan hukum terhadap orang yang sudah jelas bertanggungjawab dan menggerakan kelompok semacam ini. &lt;br /&gt;Jelas fakta dan realita semacam ini menjadi keprihatinan kita bersama. Karena itulah terkait dengan tema “Kemerdekaan Sejati” kali ini coba dihadirkan diskusi seputar kebebasan beragama di Indonesia yang bias menjadi perenungan bagi kita semua.&lt;br /&gt;Kebebasan Beragama: Makna dan Dasar &lt;br /&gt;Menjawab pertanyaan mengenai makna kebebasan beragama, maka Elga Sarapung yang adalah Direktur DIAN/INTERFIDIE (Institut Dialog Antar Iman) Yogyakarta menjawab “"bila orang, siapa pun dia dan beragama atau berkeyakinan apa pun (asal bukan yang mengajarkan kekerasan dan hal-hal yang tidak manusiawi) merasa aman, merasa tidak terganggu dan juga tidak mengganggu yang lain. Itulah kebebasan yang sesungguhnya.” Kemudian mbak Elga, begitu ia biasa disapa, juga menambahkan bahwa “itu termasuk rasa aman berada dekat orang yang ekstrim sekalipun, tidak adanya ketakutan untuk dimusuhi atau dicap sesat.” &lt;br /&gt;Senada dengan Elga, maka Romo Aloys Budi Purnomo, Pr yang juga menjadi Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (Komisi HAK) menegaskan bahwa kebebasan adalah “saat tiap individu merdeka dalam memilih agama dan dapat menjalankan agamanya tersebut tanpa tekanan dari pihak manapun.” &lt;br /&gt;Hal ini dilengkapi oleh penjelasan Tedi Kholiludin, yang adalah Direktur eLSA (Lembaga Studi Sosial dan Agama) serta aktif di LAKPESDAM Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, bahwa ”kebebasan beragama atau berkeyakinan harus dipahami dalam dua kerangka, yang pertama yakni kebebasan untuk meyakini apa yang oleh manusia dianggap sebagai kebenaran absolut (hakiki). Sementara yang kedua kebebasan beragama juga harus berarti bahwa ia bebas mengekspresikan ajaran agamanya.” Namun ditegaskan oleh Tedi bahwa kebebasan mengekspresikan itu “harus memperhatikan aspek lain seperti hukum dalam sebuah negara.” Menurut Tedi ini yang penting untuk digaris bawahi agar tidak terjadi benturan antara satu kelompok keagamaan dengan kelompok keagamaan lainnya.&lt;br /&gt;Ketiga narasumber sependapat bahwa kebebasan beragama memiliki landasan dalam Kitab Suci masing-masing agama. Mbak Elga menuturkan bahwa Tuhan menciptakan manusia dan seluruh alam semesta ini secara plural, tidak satu-tunggal dan sama persis. Dalam tradisi kristen kemajemukan sudah sejak awal kehidupan sampai dengan jaman Yesus. Kenyataan semacam ini tidak bisa dihindari apalagi ditolak, ditentang, tetapi perlu diakui, dijalani bersama, dikembangkan dan dibangun. Romo Budi juga menambahkan kalau Allah menghendaki adanya kerukunan, damai dan keselamatan bagi semua orang (1Tim 2:4; Yoh 17:11, 21, Nostra Aetate no 2). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menurut Tedi, kalau dalam Islam, dasar teologis itu sebenarnya ada dalam al-Qur’an. Seperti dalam ayat ”Bagimu Agamamu, Bagimu Agamaku, Tidak ada Paksaan dalam Agama. Ada juga ayat yang berbunyi “Kepada setiap kamu sekalian kami berikan aturan hukum (syir’ah) dan jalan hidup (minhaj). Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu semua dijadikan satu komunitas, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu sekalian lalu diberritahukan kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” (QS. 5: 48).&lt;br /&gt;Kemudian hal ini menurut Tedi juga dicontohkan dalam perilaku yang pernah ditunjukan Nabi dalam Perjanjian Madinah (mitsaq al Madinah) yang menjadi teladan lain penerimaan terhadap pluralisme. Dalam Piagam Madinah terdapat rumusan tentang kesepakatan umat Islam di bawah pimpinan Nabi dengan berbagai kelompok non muslim untuk membangun masyarakat yang tertib, dimana semua kalangan baik yang berasal dari kaum Muslim Quraisy Mekkah, Muslim Madinah dari suku Aus dan Khazraj serta Yahudi membentuk satu komunitas. Semangat penerimaan terhadap perbedaan itulah yang seharusnya dilihat sebagai karakter fundamental dari Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prakteknya di Indonesia &lt;br /&gt;Sedangkan ketika ditanya mengenai praktek kebebasan beragama di Indonesia ketiganya sepakat bahwa memang sudah ada undang-undang yang menjamin tetapi praktek kebebasan beragama di Indonesia masih memprihatinkan. Mbak Elga, yang sudah bekerja di INTERFIDEI sejak awal berdirinya lembaga lintas iman pertama di Indonesia ini, menuturkan bahwa “di sana-sini masih terdapat diskriminasi, karena pelaksanaan undang-undang dan peraturan tidak konsekuen, terutama oleh negara (aparat dan berbagai institusi terkait). Selain itu juga terjadi pembiaran terhadap praktek kekerasan dan juga adanya pemaksaan terhadap penyeragaman beragama dan berkeyakinan, yang nampak melalui kekerasan yang sama sekali tidak tidak beradab.” &lt;br /&gt;Meski sudah ada landasan Undang-undang yang menjamin kebebasan, namun Mbak Elga dan Tedi sependapat tentang masih banyaknya Undang-undang yang diskriminatif. Satu contoh adalah UU No.1/PNPS/1965 tentang pencegahan penyalahgunaan dan atau penodaan agama. UU ini kalau bisa dilihat sebagai benteng agama-agama resmi dari aliran kebatinan yang merebak saat itu. Tedi yang baru saja menulis buku “Kuasa Negara atas Agama: Politik Pengakuan, Diskursus Agama Resmi dan Diskriminasi Hak Sipil” ini lantang mengatakan bahwa ”Undang-undang ini diskriminatif dan hal itu dipelihara sampai sekarang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo Budi yang sehari-hari menjadi pastor paroki Gereja Katolik Tanah Mas ini menyoroti masih kuatnya tekanan dari kelompok dan pihak-pihak tertentu terhadap kelompok beragama yang lain, menurut Romo Budi inilah penyebab belum idealnya praktek kebebasan beragama di negeri ini. Sementara itu Tedi yang baru saja melakukan penelitian bersama The Wahid Institute tentang kebebasan beragama di Jawa Tengah menegaskan kalau di Jawa Tengah secara umum sebenarnya masih cukup ideal. Namun secara nasional praktek kebebasan beragama masih memunculkan banyak persoalan. Umumnya problem kebebasan itu dikaitkan dengan tiga persoalan pokok. Yang pertama, bahwa Negara hanya “mengakui” enam agama yang berimbas kepada jaminan hak sipil penganut diluar enam agama “resmi”. Kedua, soal peminggiran terhadap aliran Ahmadiyyah dalam Islam. Ketiga, merebaknya Peraturan Daerah (Perda) Berbasis Syari’at. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperjuangkan Kebebasan Beragama      &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melihat masih carut-marutnya praktek kebebasan beragama di Indonesia ini maka perlu sebuah upaya serius untuk mengkaji dan memperjuangkannya. Mbak Elga bersama INTERFIDEI selama ini telah aktif mengadakan seminar, lokakarya maupun pelatihan bagi aktivis dari berbagai agama dan keyakinan di Indonesia. Namun selain peran dari para agamawan juga diperlukan keseriusan dari seluruh aparat pemerintahan untuk mengimplementasikan perundang-uandangan dengan baik dan benar. Mbak Elga juga mengingatkan kalau lembaga-lembaga keagamaan seringkali secara langsung atau tidak langsung ikut dalam praktek dan politik diskriminasi, karena kerap kali ada semangat "ingin dibela tetapi tidak mau ikut membela".   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak bisa berjuang sendiri, diperlukan kerjasama antar elemn masyarakat dan institusi agama. Jaringan yang solid dan menepis kecurigaan diperlukan untuk memperjuangkan kebebasan beragama, itulah saran praktis diberikan oleh Romo yang jago meniup Saxophone ini.  &lt;br /&gt;Sedangkan Tedi yang sedang menempuh studi doctoral (S3) di UKSW Salatiga ini menyarankan agar para agamawan berani memberi dasar teologis terhadap perilaku bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sehingga pergumulan teologis tidak hanya dalam ranah privat namun masuk ke ruang publik. Antara lain ialah bagaimana kita memberikan landasan teologis terhadap konstitusi yang memberikan jaminan terhadap kebebasan beragama. Dengan demikian kita bisa melihat konstitusi Indonesia sebagai sesuatu yang tidak bertentangan dengan ajaran agama dan jika iman kita sudah bisa membenarkan, maka mari kita jalankan dan jaga konstitusi itu, sebagai manifestasi dari ajaran agama juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan ini adalah tanggung jawab setiap warga bangsa, itulah mengapa dengan aktif Gereja Isa Almasih Pringgading terlibat dalam upaya berjejaring, melakukan kajian, menggelar berbagai kegiatan, publikasi, serta berdialog dengan berbagai pihak. Melalui keterlibatan inilah kita sebagai Gereja melakukan peran sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa ini, sekaligus menjalankan mandat Ilahi dari Allah yang telah memberi kemerdekaan sejati itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-6151543787632980090?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/6151543787632980090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/08/menyoal-kebebasan-beragam-di-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/6151543787632980090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/6151543787632980090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/08/menyoal-kebebasan-beragam-di-indonesia.html' title='Menyoal Kebebasan Beragama di Indonesia'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-8941927600373382003</id><published>2009-08-21T22:58:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T23:02:52.280-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni'/><title type='text'>Tangan Kiri, Ikon dan Tas Biru</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CRonny%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CRonny%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CRonny%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="footnote reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Arial Unicode MS"; 	panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-134238209 -371195905 63 0 4129279 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"\@Arial Unicode MS"; 	panose-1:2 11 6 4 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:128; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-134238209 -371195905 63 0 4129279 0;} @font-face 	{font-family:""; 	mso-font-alt:"Times New Roman"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-hyphenate:none; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Arial Unicode MS"; 	mso-bidi-font-family:""; 	mso-font-kerning:.5pt; 	mso-fareast-language:AR-SA;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-link:"Footnote Text Char"; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:14.15pt; 	text-indent:-14.15pt; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan no-line-numbers; 	mso-hyphenate:none; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Arial Unicode MS"; 	mso-bidi-font-family:""; 	mso-font-kerning:.5pt; 	mso-fareast-language:AR-SA;} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-parent:""; 	vertical-align:super;} span.footnotereference 	{mso-style-name:"footnote reference"; 	mso-style-unhide:no; 	vertical-align:super;} span.FootnoteCharacters 	{mso-style-name:"Footnote Characters"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-parent:"";} p.footnotetext, li.footnotetext, div.footnotetext 	{mso-style-name:"footnote text"; 	mso-style-unhide:no; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-line-height-alt:5.0pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-hyphenate:none; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-fareast-font-family:"Arial Unicode MS"; 	mso-bidi-font-family:""; 	mso-font-kerning:.5pt; 	mso-fareast-language:AR-SA;} span.FootnoteTextChar 	{mso-style-name:"Footnote Text Char"; 	mso-style-unhide:no; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Footnote Text"; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:"Arial Unicode MS"; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:""; 	mso-font-kerning:.5pt; 	mso-fareast-language:AR-SA;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Ronny/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Ronny/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") fcs; 	mso-endnote-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Ronny/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") es; 	mso-endnote-continuation-separator:url("file:///C:/DOCUME~1/Ronny/LOCALS~1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_header.htm") ecs;} @page Section1 	{size:8.5in 790.4pt; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Tangan Kiri, Ikon dan Tas Biru&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style="" href="#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Rony C. Kristanto&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;a style="" href="#_ftn2" name="_ftnref2" title=""&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Symbol;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="footnotereference"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Symbol;" lang="IN"&gt;*&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Tangan Kiri dan Keutuhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Setahu saya, menulis dengan tangan kiri (bagi yang terbiasa dengan tangan kanan dan berlaku sebaliknya) adalah proses mengutuhkan diri. Tangan kanan sebagai tangan yang produktif, sehingga ketika menulis dengan tangan kanan maka kita bisa menulis dengan cepat dan umumnya lebih rapi dibanding menulis dengan tangan kiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Namun berbeda kalau kita menulis dengan tangan kiri. Karena tidak terbiasa, maka prosesnya seperti kembali ke taman kanak-kanak ketika kita belajar menulis abjad satu persatu. Selain lambat, tulisan yang dihasilkan juga jauh dari rapi, bahkan kadang terbaca saja sulit. Coba saja kalau tidak percaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Karena terbiasa bekerja dengan tangan kanan dan otak kiri saja, maka orang hanya mengejar pencapaian produktif dengan pertimbangan matematis logis. Sedangkan proses menulis dengan tangan kiri ini dihubungkan dengan kerja otak kanan yang lebih imajinatif dan kreatif. Itulah sebabnya untuk menyeimbangkan diri orang diajak belajar menulis dengan tangan kiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Yang menarik Romo Danang tidak hanya menulis dengan tangan kiri, namun bahkan melukis. Ketika belajar menulis dengan tangan kiri sebagai bagian dari upaya mengutuhkan diri, saya merasakan ketidaksabaran saya yang memuncak. Bayangkan saja bagaimana kalau harus melukis dengan tangan kiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Apalagi proses melukis dengan tangan kiri ini dilakukan oleh Romo Danang dalam meditasinya. Maka, bagi saya, lukisan yang dihasilkannya adalah bagian dari proses pengutuhan itu. Melalui lukisannya Romo Danang sedang berbincang, terutama dengan dirinya sendiri. Maka pertama-tama lukisan-lukisannya mesti dilihat dalam narasi ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Seperti dalam latihan menulis dengan tangan kiri, maka bisa jadi ketika melukis dengan tangan kiri Romo Danang perlahan membiarkan Danang kecil dalam dirinya bebas berkisah. Danang kecil yang senang melukis dan ingin menjadi pelukis, namun mungkin ditekan oleh Danang dewasa yang menjadi Pastur. Yang dikelilingi oleh suara-suara yang menolak minat dan bakat Danang kecil tadi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Apakah setelah membiarkan Danang kecil lebih leluasa barulah Romo Danang bisa mendamaikan “kanvas dan jubah”? Saya pikir biar Romo Danang sendiri yang menjawabnya. Namun, setidaknya melalui pameran ini, sementara Romo bisa melukis tanpa menanggalkan jubah dan berjubah sekaligus melukis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Saya mengamini kesan Pak Donny tentang lukisan tangan kiri Romo yang impresif. Beberapa lukisan kecil yang dilukis dengan pastel/krayon itu memang punya nuansa tersendiri. Sehingga yang saya pertanyakan ialah mengapa tidak lukisan-lukisan tangan kirinya saja yang dipamerkan? Bukankah tajuk utamanya adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“perziarahan” mengapa harus dilukis ulang, apalagi dengan tangan kanan? Tidakkah jejak-jejak perziarahan itu justru terlacak lewat lukisan meditatifnya. Bukankah lukisan itu adalah buku hariannya? Mengapa tidak ditampilkan apa adanya saja? Atau, menurut saya, disandingkan saja antara lukisan meditatif dan pelukisan ulang dengan tangan kanan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Memandang Ikon&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Sesungguhnya, ketika lukisan tangan kiri tersebut lebih impresif maka bisa jadi hal itu bukan semata-mata ditimbulkan oleh aspek estetisnya. Dalam tradisi kekristenan timur dikenal yang namanya ikon. Ikon bukan sekedar lukisan. Tapi ia adalah jendela untuk memandang ‘dunia seberang’. Karena itu ikon haruslah dilukis dalam suasana doa. Pelukisannya diiringi dengan tirakat tertentu, termasuk puasa dan pelantunan doa yang tak kunjung putus. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Itulah sebabnya pergulatan batin dalam meditasi yang dituangkan dalam kanvas juga menjadikan lukisan-lukisan meditatifnya sebagai “ikon”. Ketika orang melihat pada lukisan-lukisan meditatif tersebut maka mereka diajak memandang ke dalam sebuah jendela. Yang melaluinya kita diajak mencicipi perjalanan mencari yang telah dan masih dilakukan oleh Romo Danang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Ketika memandang “ikon”, kita belum tentu ‘mendapat sesuatu’ darinya. Mungkin orang bahkan bingung dan sulit melihat pesan dari lukisan tersebut. “ikon” perlu dilihat berkali-kali, dalam waktu yang lama, perlu juga ditolong oleh kisah dibalik pelukisan “ikon” tersebut. Namun tidak ada janji bahwa anda akan mendapat sesuatu setelah melihatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Disinilah melihat “ikon” menjadi sejajar dengan ziarah. Karena sesungguhnya perziarahan adalah proses melihat dan mencari itu sendiri. Perziarahan bukanlah terutama mencapai tempat tujuan, namun sejatinya perjalanan itu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Maka melukis itu sendiri juga perziarahan, ketika yang dimaknai tidak hanya hasilnya namun terutama prosesnya. Sejatinya perziarahan tidak menuntut pencapaian apa-apa. Karena itu semestinya lukisan meditatif Romo Danang juga tidak tendensius ingin memukau orang lain. Lukisan-lukisan itu pertama-tama sangat personal dan bahkan transendental.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Kisah Tumpukan Koper dan Tas Biru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Namun agak berbeda untuk lukisan tas biru yang khusus dibuat untuk pameran ini. Bagi saya perjalanan tas biru adalah semacam sketsa perziarahan. Mengikuti perjalanan tas biru itu lebih mudah bagi saya. Apalagi setelah melihat tumpukan koper-koper tua yang berat dan usang itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Tumpukan koper itu mestinya menjadi titik berangkat melihat seri tas parasit biru. Koper-koper yang bisa dikenali melalui label nama itu, menunjukkan siapa pemiliknya. Yakni para Jesuit senior yang telah mendahului Romo Danang dalam perziarahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Mungkin tumpukan koper-koper itu di gudang hanya menjadi peninggalan yang bingung mau diapakan. Namun di antara lukisan tas biru, bagi saya koper-koper itu justru nyaring berteriak. Lukisan tas biru dan tumpukan koper itu saling berkisah. Kisah tas biru menjadi ada, karena koper-koper itu pernah ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Koper-koper dalam tumpukan itu adalah kumpulan kisah perziarahan yang kini sedang dilanjutkan dan dijalani oleh tas biru. Koper-koper itu tanpa makna dan akan dilupakan tanpa adanya tas biru. Namun tas biru juga berada di ruang hampa tanpa kehadiran tumpukan koper-koper itu.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Namun perjalanan tas biru tidak hanya terkait dengan tumpukan koper yang adalah objek riil. Tas biru juga di&lt;i style=""&gt;cangklong &lt;/i&gt;dan dipeluk oleh seorang perempuan. Kalau tumpukan koper itu bisa dihadirkan, lalu dimana si perempuan dalam lukisan itu? Objek riil juga atau sekedar personifikasi? Dengan keberadaan Danang Bramasti sebagai seorang Pastor, maka sulit rasanya membayangkan sosok perempuan itu secara riil, meskipun kemungkinan selalu ada&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; font-family: Wingdings;" lang="IN"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Dalam tradisi Katholik sosok Maria sang Bunda tampil secara cukup dominan. Maka apakah sosok perempuan ini adalah personifikasi sang Bunda? Kemungkinan itu tetap ada. Namun bagi saya sosok ini terlalu ‘nakal’ untuk menjadi gambaran sang Bunda, kecuali kalau disandingkan dengan Monica Belluci (yang berperan sebagai Maria dalam “&lt;i style=""&gt;The Passion of The Christ&lt;/i&gt;”). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Melihat munculnya sosok Maria dari Magdala dalam lukisan sebelumnya &lt;i style=""&gt;(in memory of her) &lt;/i&gt;maka personifikasi dari sosok ini mungkin lebih pas. Karena ia bisa menjadi representasi keberdosaan. Namun keberdosaan disini tidak harus dipahami secara tradisional dogmatis. Keberdosaan adalah kondisi riil keterikatan dan kemelekatan manusia terhadap kesementaraan, maupun terhadap egoisme yang meniadakan keberadaan sesama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;" lang="IN"&gt;Tapi, bagaimana kalau kenyataannya perempuan itu memang riil dan kini sedang ‘berangkat’ dalam perziarahan bersama tas biru. Apalagi kalau sedang ‘menanti’, sambil mengharap, agar tas biru menyudahi perziarahan itu dalam dekapannya. Sebelum mengeruhkan persoalan, saya akhiri saja uraian saya dan anda bisa langsung bertanya pada Romo, yang mana objek riilnya?&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div style=""&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;  &lt;hr size="1" width="33%" align="left"&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style="" id="ftn1"&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;&lt;span class="FootnoteCharacters"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;span class="footnotereference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="IN"&gt;Tulisan untuk pengantar diskusi lukisan Romo Danang Bramasti, S.J di Rumah Seni Yaitu, Semarang, 21 Agustus 2009.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;  &lt;div style="" id="ftn2"&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;a style="" href="#_ftnref2" name="_ftn2" title=""&gt;&lt;span class="FootnoteCharacters"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;span class="footnotereference"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;                        &lt;/span&gt;**&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="IN"&gt;Rohaniwan di Gereja Isa Almasih Pringgading, Semarang dan Pengajar di STT Abdiel, Ungaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-8941927600373382003?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/8941927600373382003/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/08/tangan-kiri-ikon-dan-tas-biru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/8941927600373382003'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/8941927600373382003'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/08/tangan-kiri-ikon-dan-tas-biru.html' title='Tangan Kiri, Ikon dan Tas Biru'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-6985717833795233732</id><published>2009-03-12T18:51:00.000-07:00</published><updated>2009-03-12T18:53:27.905-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='merenung'/><title type='text'>Eksis di Tengah Krisis</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Eksis di Tengah Krisis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(Dimuat di Majalah INSPIRASI Vol 55/2009)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Oleh: Rony C. Kristanto, M.Th &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum reda benar sisa badai krisis moneter di tahun 1998, tiba-tiba kita sudah dihadapkan pada terpaan badai yang baru. Kali ini krisis di negara adidaya Amerika Serikat sebagai sumbernya. Negara kita pun tak urung juga terkena imbasnya. Penurunan daya beli di Amerika juga berdampak pada penurunan jumlah ekspor yang dapat kita lakukan. Sebagai akibatnya efisiensi dilakukan oleh sejumlah perusahaan, termasuk perampingan karyawan yang berujung pada pemutusan hubungan kerja.&lt;br /&gt;Situasi krisis semacam ini bisa ditanggapi secara beragam, persoalan yang dihadapi tetap sama, namun respon yang muncul akan bergantung pada persepsi dan perspektif yang kita pakai dan pilih dalam menyikapi krisis tersebut. Karena krisis selalu ada, dalam berbagai tempat dan waktu yang berbeda, maupun dalam bentuk yang beragam. Salah satunya adalah krisis kelaparan yang melanda tanah Israel ketika para hakim memerintah (Rut 1: 1). Artinya kita bukan satu-satunya yang menghadapi kesulitan, karena para pendahulu iman juga tidak hidup dalam kemudahan dan kenyamanan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merespon Krisis&lt;br /&gt;Dalam catatan kitab Rut, dikisahkan sebuah keluarga yang dalam masa kelaparan itu memilih meninggalkan tanah Israel untuk pindah ke Moab. Kisah ini tidak menuturkan bagaimana respon dari orang Israel lainnya, apakah mereka tetap memilih tinggal dalam kelaparan, atau ada juga yang bermigrasi seperti keluarga Elimelekh dan Naomi. Tetapi setidaknya kisah ini mengajak kita untuk belajar dari orang yang mau dan berani mengambil sikap yang berbeda dibanding kebanyakan orang lainnya. Keputusan untuk berpindah ke Moab, sebuah negeri asing yang dalam pandangan orang Israel dianggap kafir, sehingga kepergian keluarga Elimelekh dan Naomi bisa saja diartikan sebagai pengkianatan terhadap Tuhan.&lt;br /&gt;Tetapi saya ingin mengajak kita melihat sisi lain kisah ini, yakni keberanian berinisiatif dan berikhtiar. Mereka tidak menyerah oleh krisis pangan, namun mencari jalan keluar dari kelaparan. Pilihan mereka adalah Moab. Tetapi apakah ada jaminan di Moab tersedia pangan? Jawabannya: belum tentu, karena tentunya pada waktu itu informasi tidak bisa didapat semudah hari ini, tinggal menyalakan televisi atau internet kita sudah dapat mengetahui perkembangan terkini dari pelosok bumi. Informasi pada waktu itu diperoleh dari para pedagang dan perantau yang bisa berselang minggu bahkan bulan, sehingga sulit diprediksi akurasinya. Lalu mengapa keluarga ini berani pindah ke Moab? Karena kenekatan semata, sehingga nothing to loose? Bisa jadi. Tetapi diperlukan mentalitas yang kuat, daya juang dan keberanian menghadapi tantangan untuk memasuki tempat baru dan “menetap di sana sebagai orang asing.” (Rut 1:1)&lt;br /&gt;Kalau anda pernah berpindah untuk menetap dari satu kota ke kota yang lain, maka anda akan tahu betapa tidak mudah untuk memulai segala sesuatu yang baru. Selain masih kuatnya ikatan dan kenangan dengan tempat yang lama, juga dibutuhkan berbagai penyesuaian diri dengan lingkungan, tetangga, tempat kerja, makanan, dan kultur.  Jangankan berpindah untuk menetap, saya masih menemukan cukup banyak orang yang sulit tidur di malam hari ketika keesokan paginya akan bepergian entah untuk wisata atau tugas kerja, padahal itu hanya untuk beberapa hari saja. Mungkin anda termasuk diantaranya? Tapi tidak mengapa, itu artinya saya tidak sendirian, karena saya juga masih mengalami hal yang sama. Meskipun dalam beberapa tahun ini hampir setiap dua tahun berpindah kota, tetapi saya masih saja mengalami kesulitan dan ketegangan secara emosional setiap kali akan pindah ke tempat yang baru. Itulah sebabnya saya merasa bahwa keluarga Elimelekh dan Naomi bukan sekadar pindah karena melarikan diri dari kesulitan, tetapi kepindahannya ke Moab justru bisa dibaca sebagai keengganan mereka berada dalam rasa aman yang semu (mangan ora mangan asal kumpul?), keberanian menyongsong tantangan dan berhadapan dengan kultur yang sama sekali baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis Tetap Ada&lt;br /&gt;Setelah mereka pindah ke Moab kita tidak lagi mendengar cerita kelaparan. Artinya, sementara bisa disimpulkan bahwa persoalan krisis pangan sudah teratasi. Sepertinya cerita ini berakhir bahagia seperti kisah-kisah para motivator kesuksesan yang menjanjikan hidup bebas kesulitan dengan mengikuti beberapa tips saja dari mereka. Sehingga kalau kita tidak takut mencoba hal baru, memiliki daya juang maka sukses menjadi hak anda! Benarkah begitu? Rupanya alur kisah ini berbeda. Kelaparan tidak lagi menjadi persoalan, namun “kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya” (Rut 1:3). Krisis yang satu teratasi, krisis yang lain menghampiri. Kisah pilu ini belum berakhir sampai disini, karena sekitar sepuluh tahun kemudian “... matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya” (Rut 1:5).&lt;br /&gt;Sementara orang yang memandang sinis keluarga ini sebagai oportunis karena meninggalkan Israel mungkin akan berkata: ‘begitulah nasib orang yang meninggalkan Tuhan.’  Tetapi, siapakah yang bisa menghindari kematian? Apakah ada jaminan mereka tidak mati kalau tetap tinggal di Israel? Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kematian akan datang menjemput. Sehingga bagi saya dari peristiwa ini dapat dipahami bahwa selama manusia hidup dia akan berhadapan dengan krisis, tidak hanya secara material dan finansial, tetapi juga secara sosial, psikologis dan spiritual. Pergi ke Moab bukan menyelesaikan segala persoalan. Karena itu jangan mudah terkecoh dengan mantra dan rumus jitu solusi krisis yang diobral murah dengan mengirim SMS bertarif premium. Karena itu yang lebih penting adalah kejernihan pikir dan ketenangan batin dalam menyikapinya.&lt;br /&gt;Naomi bisa saja frustrasi dan berandai-andai kalau dia tetap tinggal di Israel, mungkin dia kelaparan tetapi keluarganya tetap utuh. Tetapi penyesalan dan pengandaian juga tidak mengembalikan suami dan kedua anaknya. Tetapi kemampuan memandang persoalan dari sudut yang berbeda bisa menghasilkan sikap yang berbeda pula. Coba saja perhatikan, siapa kedua menantunya? Keduanya orang Moab, sehingga bisa saja kalau dia tinggal di Israel dia malah tinggal sendiri. Tetapi sekarang Naomi masih punya dua orang menantu, itu hikmah dari kepindahan ke Moab. Tentu tidak semudah itu bersikap terhadap duka dan kematian, tetapi kita dihadapkan pada pilihan: berkubang pada penyesalan atau bangkit dari keterpurukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Bagaimana?&lt;br /&gt;Kalau kita menjadi Naomi, mungkin kematian suami dan dua orang anak akan menjadi pengalaman traumatis yang selalu membayangi. Dalam kondisi semacam ini akan lebih mudah untuk menyerah pada keadaan. Cukup sekali saja pindah ke tempat yang baru, karena kelaparan teratasi tetapi justru kematian menghampiri. Bisa jadi pilihan bagi Naomi adalah menghabiskan hari tuanya di Moab, menjalani saja apa yang ada. Toh usia sudah bertambah, hidup juga sudah mulai nyaman dan mapan, masa adaptasi kultural sudah lewat, mau apa lagi? Tapi tunggu dulu, dari Ibu yang satu ini kita akan menerima kejutan. Karena begitu “ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka”, maka “kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab.” (Rut 1: 6)&lt;br /&gt;Orang yang sinis masih akan mencela dan berpantun ‘Hujan emas di negeri orang, masih lebih enak hujan batu di negeri sendiri.’ Tetapi seperti kisah keberangkatan mereka ke Moab, maka berita yang didengar itu juga sulit dipastikan akurasinya, belum lagi trauma kematian suami dan anaknya, ditambah relasi dan kemapanan yang sudah dijalani lebih dari sepuluh tahun di Moab, apalagi kalau membayangkan reaksi tetangga dan saudaranya di Betlehem sana, bisa jadi bahan pergunjingan kalau Naomi pulang tanpa suami dan anaknya, ditambah membawa dua orang perempuan Moab pulang bersamanya. Pilihan logis dan nyamannya adalah: abaikan saja berita itu dan lanjutkan sisa hidupmu di Moab. Tetapi Naomi berbeda, ia justru berkemas, mengambil risiko untuk dicela dan bahkan berani menghadapi pengalaman traumatis dari migrasinya yang pertama. Ia tidak dibayang-bayangi ketakutan dari masa lalu, tidak menyerah oleh krisis, namun bangkit dan kembali berjuang.&lt;br /&gt;Dari kisah keluarga Elimelekh dan Naomi kita belajar bahwa krisis akan selalu ada, pilihannya ada di tangan kita untuk merespon. Krisis juga bisa melanda berbagai bidang kehidupan, selama kita hidup di dunia maka tidak ada tempat yang bebas krisis. Ketika sekarang kita dihadapkan pada krsisi ekonomi global, maka jika kita masih tetap mendapat kesempatan bekerja, siapkah memperbaiki kualitas dan prestasi kerja sehingga jika terjadi perampingan, kita akan menjadi orang yang tetap dipertahankan oleh perusahaan? Bahkan ketika harus mengalami PHK, beranikah menjadikan pengalaman ini sebagai peluang untuk menggali potensi diri, mengembangkan kemampuan berwirausaha yang selama ini tidak berani dilakukan dan tidak ada cukup waktu untuk menekuni?&lt;br /&gt;Krisis ekonomi juga menjadi sebuah kesempatan untuk mengevaluasi gaya hidup dan mengatur kembali perencanaan keuangan, memilah antara kebutuhan dan keinginan. Realitas krisis tetap sama, tetapi pilihan cara memandang dan menyikapinya bergantung pada kita. Mana yang anda pilih?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-6985717833795233732?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/6985717833795233732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/03/eksis-di-tengah-krisis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/6985717833795233732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/6985717833795233732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/03/eksis-di-tengah-krisis.html' title='Eksis di Tengah Krisis'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-4421089612500561092</id><published>2009-03-12T18:42:00.000-07:00</published><updated>2009-03-12T18:49:03.897-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja dan masyarakat'/><title type='text'>Kemerdekaan Berpendapat</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Kebebasan Berpendapat&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;By: Rony C. Kristanto&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca Reformasi tahun 1998, maka rakyat Indonesia mengalami kebebasan yang melimpah dalam menyatakan pendapat. Kebebasan ini dapat diamati dengan maraknya demonstrasi oleh berbagai kalangan sebagai bentuk penyaluran pendapat; penerbitan berbagai media massa baru seperti koran, majalah dan tabloid; terbitnya berbagai buku yang dulu dilarang beredar, serta muncul juga penulisan sejarah dari sudut pandang yang berbeda dengan versi penguasa Orde Baru; juga lahirnya partai-partai politik baru yang mengusung berbagai ideologi.&lt;br /&gt;Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa rakyat negeri ini telah mendapat haknya untuk menyatakan pendapatnya dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan baik secara langsung maupun tidak. Inilah yang disebut demokrasi, yaitu jika semua anggota dalam sebuah kelompok, lembaga, organisasi ataupun negara memiliki hak dan ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan.&lt;br /&gt;Adanya proses memberi hak berpendapat dan ikut terlibat dalam pengambilan keputusan ini dapat diamati dalam proses pembaruan perjanjian yang ditawarkan oleh Yosua kepada bangsa Israel (Yos 24:1-28).&lt;br /&gt;Yosua tidak secara sembrono menggunakan wewenangnya untuk mengambil keputusan dan mengabaikan pendapat bangsa Israel. Tetapi ia terlebih dahulu mengumpulkan “semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua orang Israel, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya, lalu mereka berdiri di hadapan Allah.” (Yos 24:1)&lt;br /&gt;Kemudian Yosua mulai menuturkan kisah panjang sejarah perjalanan Israel, mulai dari  jaman " Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain.” Hingga kini bangsa itu  telah mendiami (Yos 24:13) “...negeri yang kamu peroleh tanpa bersusah-susah dan kota-kota yang tidak kamu dirikan, tetapi kamulah yang diam di dalamnya; juga kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun yang tidak kamu tanami, kamulah yang makan hasilnya.”&lt;br /&gt;(Yos 24:2)&lt;br /&gt;Barulah setelah itu Yosua memberikan ajakan bagi bangsa Israel untuk takut akan Tuhan dan beribadah kepadaNya (Yos 24:14). Meskipun Yosua sudah memiliki pilihan yang pasti yakni “... aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”(Yos 24:15) Namun Yosua tidak memaksa bangsa itu mengikuti ajakannya dan pilihannya, melainkan ia memberikan tawaran dan pilihan “...kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini.” (Yos 24:15)&lt;br /&gt;Inilah sebuah proses demokrasi dimana semua anggota dilibatkan, mendapat sosialisai, mendapat penawaran, dan diberi kesempatan memutuskan pilihannya. Proses semacam ini perlu dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam keluarga, lingkungan, maupun organisasi. Dengan demikian semua anggota dapat belajar berpendapat dan memutuskan, sedangkan para pemimpin juga belajar kerendahan hati menghargai perbedaan pendapat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-4421089612500561092?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/4421089612500561092/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/03/kemerdekaan-berpendapat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4421089612500561092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4421089612500561092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/03/kemerdekaan-berpendapat.html' title='Kemerdekaan Berpendapat'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-7526393113239446478</id><published>2009-02-23T19:14:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T19:15:42.627-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='merenung'/><title type='text'>Taat dan Kritis</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Taat dan Kritis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;By: Rony C. Kristanto&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt; Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. (KPR 4:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam budaya kita, masih sulit untuk menghargai orang yang berani bersikap kritis dan mempertanyakan banyak hal yang terjadi. Misalnya seorang bawahan yang mempertanyakan keputusan atasan, seorang murid yang meragukan jawaban gurunya, atau seorang anak yang mendiskusikan pendapatnya yang berbeda dengan pendapat orangtuanya.&lt;br /&gt;Orang yang berani mempertanyakan, meragukan dan mendiskusikan dianggap sebagai pembangkang, sering juga berbagai upaya bersikap kritis tadi dianggap sebagai bentuk ketidaktaatan alias memberontak. Hal ini berdampak pada kurang dan lemahnya keberanian untuk bersikap kritis dan tidak jarang menghasilkan sikap ‘ABS’ (Asal Bapak Senang/Asal Menyenangkan Pimpinan).&lt;br /&gt;Di sisi lain, para pemimpin, pendidik dan orangtua juga merasa lebih senang dan aman jika memiliki bawahan, murid dan anak yang selalu menurut tanpa pernah sekalipun mempertanyakan keputusan maupun pendapatnya. Sikap semacam ini merugikan kedua pihak, karena keduanya tidak dapat berkembang dan menghadirkan berbagai potensi diri secara alami.&lt;br /&gt;Sikap Petrus dan Yohanes (KPR 4:19-20) nampaknya menjadi sebuah kritik bagi yang ‘gila hormat’ maupun ‘suka menjilat’. Keberanian mengungkapkan kebenaran dan keyakinan di hadapan para penguasa agama pada jaman itu tentu berisiko besar. Karena Yesus mengambil sikap yang sama dan berakhir dengan tergantung di salib. Namun pilihan ada di tangan kita, ketika berhadapan dengan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, apa sikap kita? Memilih untuk ‘taat kepada kamu atau taat kepada Allah’(KPR 4:19).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-7526393113239446478?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/7526393113239446478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/02/taat-dan-kritis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/7526393113239446478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/7526393113239446478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/02/taat-dan-kritis.html' title='Taat dan Kritis'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-3768447092928620388</id><published>2009-02-23T19:02:00.001-08:00</published><updated>2009-02-23T19:03:26.701-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja dan masyarakat'/><title type='text'>Menyampaikan Kabar Baik</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Menyampaikan Kabar Baik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh: Rony C. Kristanto, M.Th&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya." (Lukas 4:16-21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengutip dan membaca ayat tersebut, Yesus mengajukan sebuah pernyataan yang menjadi sebuah penanda bagi pelayanan-Nya dan sebuah penggenapan dari nubuatan nabi Yesaya. Urapan yang dari Allah menjadi sebuah pengesahan akan otoritas bagi pelayanan yang dilakukan oleh Yesus, dan dengan adanya Roh Tuhan maka awal dari sebuah pelayanan baru yang penuh dengan kuasa telah dimulai.&lt;br /&gt;Pelayanan yang merujuk pada Kitab Nabi Yesaya itu rupanya memang sebuah pelayanan yang tidak mudah dan membutuhkan dedikasi serta kerja keras dan berbagai resiko juga menghadang. Mengapa? Karena pelayanan ini terkait dengan orang-orang terpinggirkan, yakni kaum miskin, para tawanan, orang buta, dan orang tertindas. Lalu pertanyaannya ialah siapa sebenarnya ‘kaum terpingirkan’ yang menjadi sasaran pelayanan Yesus ini?&lt;br /&gt;Banyak orang yang membaca ayat-ayat ini memilih untuk ‘merohanikan’ orang-orang yang menjadi sasaran pelayanan Yesus ini. Maksudnya ialah mereka mencoba memahami bahwa yang dimaksud dengan ‘orang miskin’ ialah mereka yang miskin secara rohani, ‘orang tawanan’ ialah mereka yang tertawan oleh kuasa si jahat, demikian seterusnya. ‘Merohanikan’ segala sesuatu semacam ini tanpa sadar sebenarnya telah mengurangi kadar dan jangkauan dari teladan pelayanan yang diberikan oleh Yesus sendiri.&lt;br /&gt;‘Kaum terpinggirkan’ ini benar-benar orang-orang yang miskin secara ekonomi, status sosialnya rendah, tidak mendapat kesempatan bersekolah, tidak mendapat akses pelayanan kesehatan, yang rumahnya digusur, yang tanahnya dirampas para pemilik modal untuk dijadikan pusat perbelanjaan, mereka yang harus hidup di kolong jembatan dan di bantaran sungai, yang mengais makanan dari tong sampah, bahkan mereka yang terpaksa memakan daging kadaluarsa dari hotel berbintang.&lt;br /&gt;Memang ada berbagai alasan mengapa orang Kristen mencoba menghindar dari sebuah pemahaman literal/harafiah mengenai siapa yang dimaksud sebagai ‘kaum terpinggirkan’ dalam pelayanan Yesus tersebut. Salah satunya ialah resiko yang terlalu besar. Resiko apa? Terlibat dalam upaya pelayanan bagi ‘kaum tertindas dan terpinggirkan’ berarti berhadapan dengan mereka ‘yang menindas dan meminggirkan’. Padahal ‘kaum penindas’ ini biasanya adalah orang-orang yang berkuasa, baik pada bidang politik, ekonomi, sosial, bahkan agama.&lt;br /&gt;Bukankah lebih aman dan nyaman ketika kita ada bersama dengan para pemimpin dan penguasa. Semua kebutuhan dan kepentingan kita terjamin. Kehidupan kita juga akan lebih terpandang ketika kita memiliki koneksi dengan orang-orang penting tersebut. Ya memang tidak setiap penguasa dan pemimpin adalah ‘kaum penindas’. Namun kalau kita melihat kenyataan hidup kita di Indonesia, tidakkah kita melihat sebuah seruan yang menggema dari nats nabi Yesaya yang menjadi panggilan pelayanan Yesus? Kenyataan yang menyesakkan bagi orang-orang yang masih berhati nurani. Kita melihat transaksi jual beli kasus di lembaga peradilan, suap menyuap di lembaga legislatif, penebangan hutan ilegal yang tanpa batas, perdagangan perempuan dan anak-anak, kerusuhan yang menunggangi dan memakai agama sebagai kedok demi kepentingan segelintir orang, biaya sekolah dan kesehatan yang semakin melambung dan tidak terjangkau oleh lebih dari seperempat penduduk negeri ini.&lt;br /&gt;Benarkah Roh Tuhan juga ada dalam diri kita? Sungguhkah urapan Tuhan telah memenuhi kita? Kalau jawabnya adalah ‘ya’. Maka yang ditunggu ialah perwujudan secara nyata dari urapan dan penyertaan Roh Tuhan itu dalam memenuhi panggilan yang sama seperti yang diteladankan oleh Yesus. Sebuah panggilan bersama bagi orang yang mengaku diurapi dan dipimpin Roh Tuhan untuk masuk dalam pelayanan seperti yang dilakukan oleh Yesus, sebuah pelayanan yang beresiko, yakni membawa sampai ke salib dan kematian. Karena besarnya resiko inilah maka mustahil melakukan semua bentuk pelayanan ini tanpa urapan dan penyertaan Roh Tuhan. Lalu peran apa yang bisa kita ambil sebagai Gereja dan orang Kristen? Misi apa yang ada di pundak dan hati kita? Panggilan apa yang menggema di sanubari kita mendengar jeritan mereka yang terpinggirkan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-3768447092928620388?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/3768447092928620388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/02/menyampaikan-kabar-baik-oleh-rony-c.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/3768447092928620388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/3768447092928620388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/02/menyampaikan-kabar-baik-oleh-rony-c.html' title='Menyampaikan Kabar Baik'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-724332709504022973</id><published>2009-02-23T18:50:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T18:51:32.402-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja dan masyarakat'/><title type='text'>Misi Kontekstual</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Misi Kontekstual&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oleh: Rony C. Kristanto, M.Th&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tidak Berakar&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Gereja di Indonesia sampai dengan saat ini masih sering diidentikkan dengan  Barat (baca: Eropa/Belanda), dianggap sebagai agama penjajah, dan membawa budaya asing. Mengapa demikian? Karena kenyataan sejarah menunjukkan bahwa kekristenan dibawa masuk bersamaan dengan kolonialisme yang menguasai Nusantara. Badan-badan misi yang bekerja di Indonesia juga berasal dari Eropa (Belanda dan Jerman).&lt;br /&gt;Selain karena kenyataan tersebut, misionaris pada waktu itu juga memiliki pandangan bahwa menjadi Kristen berarti meninggalkan hidup yang lama, termasuk di antaranya berbagai tradisi dan budaya yang biasa dijalani. Kemudian orang-orang Kristen baru ini dibawa pada sebuah budaya baru seperti yang dihidupi oleh para misionaris, sebab budaya itu dianggap lebih tinggi dan beradab dibanding budaya lokal. Bahkan budaya para misonaris itu, yang sebenarnya adalah budaya Barat/Eropa, dianggap sebagai budaya Kristen.&lt;br /&gt;Keadaan semacam ini memang didukung oleh cara pikir dan teologi para misionaris pada waktu itu yang memandang rendah dan bahkan jahat segala sesuatu yang berasal dari budaya lokal. Tidak mengherankan jika hingga saat ini Gereja dan orang Kristen di Indonesia masih terpengaruh cara berpikir semacam itu. Warisan cara berpikir semacam inilah yang membawa gereja dan kekristenan di Indonesia jauh dari akar budayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dualistis&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Situasi ini masih ditambah dengan akar gereja di Indonesia yang umumnya mewarisi cara berpikir dan berteologi yang dualistis. Artinya ada pemisahan antara hal rohani dan kehidupan sehari-hari. Hidup bergereja atau menjadi orang Kristen hanya dikaitkan dengan kehidupan di sekitar ibadah pada hari Minggu. Sedangkan di hari Senin-Sabtu ia memiliki cara hidup yang tidak terkait dengan nilai-nilai Kristen.&lt;br /&gt;Kekristenan yang dualistis hanya melihat pertobatan sebagai masalah individual dan tidak ada kaitannya dengan masalah sosial. Sebagai contoh, seorang dapat saja menjadi individu kristen yang saleh dan aktif terlibat dalam pelayanan gerejawi (menjadi usher, kolektan, singer, pemimpin pujian, bahkan majelis gereja) namun di kantor atau di pekerjaannya ia bisa saja menjelma menjadi seorang atasan yang kejam dan menindas pegawainya, seorang pengusaha yang tidak memperhatikan kesejahteraan karyawan, seorang pemilik usaha yang membuang limbahnya sembarangan hingga merusak lingkungan, atau menjadi seorang pegawai yang korup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas Gereja sebagai Misi&lt;br /&gt;Dengan demikian gereja menjadi asing, tercerabut dari akar budayanya dan juga jauh dari keterlibatan dalam kenyataan kehidupan sehari-hari. Di tengah pergumulan akan pencarian jatidirinya ini, seringkali sikap orang kristen adalah romantisme pada keadaan masa lalu. Kita mulai mengenang jaman ketika misionaris masih mendominasi, banyak sekolah dan rumah sakit yang didirikan, banyak tokoh Kristen yang aktif dalam pemerintahan, kekeristenan mendapat banyak kesempatan, juga berbagai hal lainnya.&lt;br /&gt;Kita tidak mengkoreksi diri untuk memperbaiki peran dan arti kehadiran gereja di negeri ini. Kita tidak memperluas pemahaman dan kesadaran kita akan misi gereja. Misi masih dipahami sekedar dalam batas membawa orang masuk menjadi anggota gereja atau mendirikan gereja baru. Kita belum dapat melihat bahwa kehadiran Gereja itu sendiri adalah sebuah misi. Apa maksudnya? Pemahaman gereja akan siapa dirinya dan apa panggilannya akan menentukan apa yang akan dilakukan oleh gereja. Ketika gereja masih memahami dirinya sebagai yang superior/lebih unggul dibanding yang lain, memandang rendah semua bentuk tradisi, budaya dan bahkan agama-agama yang lain, juga membatasi dirinya dalam hal-hal rohani yang individualis tadi. Maka jangan heran jika kita akan menjumpai penolakan yang begitu keras dan menyakitkan dari masyarakat akan kehadiran gereja.&lt;br /&gt;Karena itu, kita perlu membangun sebuah identitas yang kontekstual. Maksudnya ialah sebuah identitas gereja yang berakar pada tradisi Kitab Suci dan sekaligus terbuka terhadap berbagai situasi dan pergumulan yang ada di sekelilingnya. Identitas semacam ini adalah sebuah identitas yang terbuka untuk terus menerus diperbarui seiring dengan perubahan konteks kita di Indonesia, namun juga tetap setia dan memiliki ciri mendasar dari gereja di segala jaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menuju Misi Kontekstual&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Upaya menggumuli identitas semacam ini tentu tidak mudah. Selain dibutuhkan kesediaan untuk membuka diri terhadap berbagai elemen dalam masyarakat, juga diperlukan keseriusan dan kerja keras untuk menggali landasan teologis yang kontekstual. Untuk ini semua maka gereja perlu meninggalkan ‘zona nyaman’ yang sudah didiaminya selama ini, yakni ruang sempit dalam batas tembok gereja dan juga teologi serta misi tradisional yang tidak menjawab tantangan dan situasi di Indonesia.&lt;br /&gt;Pergumulan kontekstual di Indonesia mencakup kemajemukan agama dan budaya; tingginya tingkat kemiskinan; penderitaan akibat konflik dan kerusuhan, ketidakadilan dalam berbagai bidang kehidupan dan diskriminasi etnis dan gender, serta kerusakan lingkungan. Berbagai permasalahan tadi semestinya adalah “ladang yang menguning” bagi gereja di Indonesia. Kita dipanggil untuk masuk dan bersama-sama dengan elemen bangsa yang lain mengupayakan adanya perubahan dan pembaharuan dalam berbagai krisis kehidupan tersebut.&lt;br /&gt;Gereja diajak memenuhi panggilannya untuk “menyampaikan kabar baik” (Lukas 4: 18-19), yakni bahwa Tuhan berpihak pada mereka yang miskin dan tertindas, bahwa Kristus sendiri berjuang dan berpihak pada kaum terpinggirkan pada jaman-Nya. Kabar Baik ini dinanti oleh mereka yang “lapar, haus, kedinginan, telanjang, sakit dan dalam penjara” (Mat 25: 35-40), dengan kata lain “Kabar Baik” bukan hanya penyampaian secara verbal (melalui kata-kata saja) tentang siapa Kristus (Mat 7:21; Lukas 6:46), tetapi pemberitaan Kabar Baik adalah aksi nyata dan keterlibatan aktif untuk berpihak, berjuang, dan bertindak seperti Kristus sendiri telah memberikan teladan. Inilah Misi Gereja yang Kontekstual dan Transformatif. Kehadiran gereja yang membumi, berakar dan mengubahkan masyarakat secara utuh dan menyeluruh. Sehingga kita tidak hanya menjadi Gereja di Indonesia (yang hanya menumpang hidup dan tinggal), namun sungguh hadir menjadi Gereja Indonesia (yang berakar dan bertumbuh, dirasakan arti dan fungsi kehadirannya secara nyata di masyarakat).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-724332709504022973?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/724332709504022973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/02/misi-kontekstual.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/724332709504022973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/724332709504022973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/02/misi-kontekstual.html' title='Misi Kontekstual'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-4047227882132469175</id><published>2009-02-23T18:47:00.000-08:00</published><updated>2009-02-23T18:50:04.124-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja dan masyarakat'/><title type='text'>Misi dan Keutuhan Ciptaan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Misi dan Keutuhan Ciptaan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;Oleh: Rony C. Kristanto, M.Th&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangkaian bulan misi kali ini, maka salah satu kegiatan yang dilakukan sejak bulan September-Oktober 2008 adalah kunjungan ke TPI (Tempat Pembinaan Iman) yang dimiliki oleh GIA Pringgading. Salah satu aktivitas utama yang dilakukan diberi nama ‘Misi Peduli Lingkungan’, yang diantaranya mencakup kegiatan pembuatan dan pemasangan tempat sampah dan lubang resapan biopori.&lt;br /&gt;Tempat sampah yang dipasang dibuat dari bekas galon cat yang kemudian dibersihkan dan dicat warna-warni. Tempat sampah ini berjumlah sepasang/dua buah, dimana tong yang pertama diperuntukkan bagi sampah organik (sampah yang bisa terurai, dari bahan-bahan alami, misal daun, sisa makanan, kulit buah) sedangkan tong kedua untuk sampah an-organik (sampah yang tidak dapat terurai, seperti plastik, kaca, kertas, logam).&lt;br /&gt;Tujuan dari pemisahan sampah ini berkaitan dengan pemanfaatan sampah agar tidak sekedar dibuang dan ditumpuk di dalam tanah yang akan menyebabkan polusi bagi tanah, karena misalnya sampah plastik ternyata memerlukan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk dapat terurai, sedangkan jika sampah dibakar tentunya mengakibatkan polusi udara. Maka perlu dipikirkan proses daur ulang bagi sampah. Dengan pemisahan sampah organik dan an-organik, maka akan mempermudah proses daur ulang karena tentu diperlukan perlakuan yang berbeda terhadap kedua jenis sampah ini. Di beberapa negara maju, tempat sampah bahkan sudah dipilah menjadi 4-6 macam jenis.&lt;br /&gt;Namun dalam kegiatan ‘Misi Peduli Lingkungan’ kali ini, kami masih berfokus pada pengolahan sampah organik. Proses pemanfaatan sampah terurai ini dikaitkan dengan pembuatan lubang resapan biopori. Apa itu lubang resapan biopori (LRB)? LRB diperkenalkan oleh seorang peneliti dari Institut Petanian Bogor. Bentuknya berupa sebuah lubang dengan kedalaman sekitar satu meter dan diameter sekitar 15 cm. Lubang ini dibuat dengan sebuah alat menyerupai bor yang dilakukan secara manual. LRB bisa dibuat di halaman rumah, di sekitar pohon, dan juga di saluran air/selokan.&lt;br /&gt;Lalu apa fungsi LRB dan apa kaitannya dengan sampah organik? Lubang yang telah dibuat tadi kemudian perlu diisi dengan sampah organik hingga penuh tapi jangan terlalu padat sehingga proses pelapukannya akan lebih mudah dan cepat. Mengapa diisi dengan sampah organik? Karena sampah organik ini akan menjadi makanan bagi organisme/mahluk hidup yang ada di tanah, dengan adanya organisme tanah yang berkembang dengan baik, maka mereka akan melakukan aktivitas dan kemudian membentuk lubang-lubang kecil yang berfungsi seperti pori-pori bagi tanah. Lubang yang dibuat oleh organisme tanah inilah yang bernama lubang biopori.&lt;br /&gt;Dengan adanya lubang biopori ini maka dapat menjadi jalan bagi peresapan air hujan, dengan meningkatnya daya serap tanah terhadap air maka tentu kita akan mempunyai cadangan air tanah yang cukup dan selain itu juga mengurangi potensi banjir. Selain itu, sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang dapat diambil jika sudah mengalami pelapukan dan dapat difungsikan menjadi pupuk. Kemudian jika sampah yang menjadi pupuk ini sudah diambil maka perlu diisi dengan sampah yang baru. Keberadaan lubang biopori juga menyuburkan tanah, karena selain adanya sampah yang berubah menjadi kompos, tanah juga gembur dengan adanya aktivitas organisme tanah membuat lubang. Di sisi lain dengan mudahnya persesapan air oleh tanah juga mengurangi genangan air di musim hujan, sehingga mengurangi resiko terhadap berbagai penyakit seperti demam berdarah, malaria dan kaki gajah.&lt;br /&gt;Demikian antara lain manfaat dan tujuan dari aktivitas yang dilakukan oleh panitia misi kali ini bersama dengan seksi-seksi yang terlibat dalam kegiatan kunjungan ke TPI. Namun mungkin anda masih bertanya-tanya, memang kegiatan itu baik dan positif tapi apa kaitannya dengan Misi? Apa hubungan antara kepedulian terhadap lingkungan dengan Misi?&lt;br /&gt;Dalam cara ber-Misi yang holistik (utuh/menyeluruh/terpadu), maka panggilan bagi Gereja dan orang Kristen bukan hanya terkait hal-hal yang rohani, gerejawi dan surgawi saja. Tetapi juga bukan berarti bahwa hanya memikirkan dan melakukan yang terkait dengan hal jasmani, sekuler atau duniawi saja. Namun cara berpikir dan bertindak yang bisa melihat keutuhan dan kesalingterhubungan antara dua hal tersebut. Bahwa keberadaan manusia yang hidup di dalam dunia tidak dapat dilepaskan keterkaitannya dengan bumi dan mahluk-mahluk ciptaan yang lain. Manusia tidak hanya mahluk rohani tetapi juga hidup secara nyata dengan memerlukan air, udara, tanah, tumbuhan, dan hewan.&lt;br /&gt;Itulah sebabnya mengapa dalam kisah penciptaan bisa didapati bahwa manusia justru diciptakan paling akhir. Ini seharusnya menjadi perenungan bagi manusia bahwa kelangsungan hidupnya terkait erat dan ditopang oleh ciptaan-ciptaan yang lain. Sehingga pernyataan Tuhan bahwa “...segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” (Kej 1:31) tidak hanya terkait dengan penciptaan dan keberadaan manusia saja. “Sungguh amat baik” diungkapkan ketika semua ciptaan hidup dalam keselarasan, keseimbangan, dan keutuhan. Ungkapan “sungguh amat baik” tidak hanya ditujukan bagi manusia sebagai ciptaan tertinggi, namun ketika manusia dan ciptaan-ciptaan yang lain itu ada dalam harmoni.&lt;br /&gt;Tetapi kini kita melihat terjadinya eksploitasi terhadap alam, penebangan liar, pembuangan limbah ke sungai, pembuangan sampah sembarangan, pemborosan sumber daya alam, perburuan hewan tanpa batas, penambangan tanpa melakukan pengelolaan, berkurangnya resapan air karena tanah sudah disemen/beton, pengeprasan bukit untuk perumahan demi mengejar pemandangan, berkurangnya jalur hijau dan tanaman di sekitar rumah. Ini semua diakibatkan oleh dosa, yakni ketidakadilan dan ketamakan. Manusia dengan arogansi dan kesombongannya merasa bahwa dia diberi hak untuk "...; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:28)&lt;br /&gt;Cara memandang yang tidak utuh ini mengabaikan mandat Tuhan bagi manusia yang ditempatkan di bumi ini “untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kej 2:15) Berabad-abad penekanan pada perintah menaklukan dan berkuasa sedemikian mendominasi, hingga ketika bumi ini sudah mengalami krisis dan kerusakan sedemikian parah, barulah Gereja menyadari pentingnya keseimbangan dalam mandat untuk mengusahakan dan memelihara. Inilah salah satu tugas dan panggilan Gereja, mandat yang diberikan oleh Tuhan sendiri sebagai bentuk kepercayaan-Nya kepada manusia yang dijadikan rekan sekerja-Nya.&lt;br /&gt;Dengan demikian kita dipanggil untuk hidup dalam keselarasan dan keutuhan dengan ciptaan yang lain, Gereja dan orang Kristen dipanggil untuk menjalankan fungsi dan tanggungjawab serta kepercayaan yang diberikan Tuhan untuk mengupayakan keutuhan ciptaan. Sehingga kita tidak lagi memisahkan antara hal duniawi dan rohani, tidak lagi memandang rendah upaya pelestarian lingkungan sebagai hal yang semata-mata bersifat sosial dan sekular. Namun mampu mengenali dan menyadari bahwa panggilan untuk memelihara kehidupan yang utuh dan selaras antara manusia dengan alam, tanaman dan hewan adalah bagian dari amanat Tuhan, sebuah Misi untuk kita jalani.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-4047227882132469175?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/4047227882132469175/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/02/misi-dan-keutuhan-ciptaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4047227882132469175'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4047227882132469175'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/02/misi-dan-keutuhan-ciptaan.html' title='Misi dan Keutuhan Ciptaan'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-6544202984266045375</id><published>2009-01-22T06:24:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T06:27:17.480-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja dan masyarakat'/><title type='text'>Menggereja dalam Konteks Postmodern</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Menggereja dalam Konteks Postmodern&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3650371330665813845#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;§&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Upaya mencari dan menghidupi praksis menggereja kontekstual&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Oleh: Rony Chandra Kristanto, M.Th&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3650371330665813845#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;ª&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul yang diberikan pada saya dalam sesi ini adalah “Permasalahan yang dihadapi Gereja di Era Postmodern” dengan tujuan untuk mencermati tantangan apa yang dihadapi gereja dan upaya menghadapinya. Namun, saya memilih sebuah bentuk/judul yang tidak mengandung pertentangan, yakni bukannya menganggap postmodernitas sebagai sesuatu yang perlu ‘dihadapi’ atau bahkan ‘ditantang’, namun sebagai sebuah kenyataan dimana kita dapat hidup bersama dengan, di dalam, dan bahkan postmodernitas memberi kontribusi bagi praksis menggereja kita, sebagai GIA dan sebagai gereja yang hidup di Indonesia. Untuk itu secara ringkas saya akan menguraikan mengenai konteks postmodern dan kemudian memaparkan beberapa bentuk pemikiran postmodern yang coba dipakai untuk memberi kontribusi bagi praksis menggereja kita, dan kemudian kita akan berdiskusi mengenai konteks lokal kita dan bersama-sama berupaya mendiskusikan kontribusi postmodernisme bagi hidup menggereja kita bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Modern ke Postmodern&lt;br /&gt;Postmodern, atau beberapa menerjemahkanya sebagai pasca modern. Tentu hal ini terkait dengan modernitas itu sendiri. Era modern mucul sebagai reaksi terhadap Abad Pertengahan, demikian dengan Postmodern yang merupakan penolakan terhadap modernitas. Karena itu untuk mengenalinya kita perlu melihat sekilas ciri jaman modern. Era Modern ditandai dengan diposisikannya ‘manusia menjadi tolok ukur segala sesuatu’ (Grenz, Tth: 9). Di dalam diri manusia itu rasio mendapat tempat utama untuk memberi jawab bagi keraguan. Maka muncul dan berkembanglah manusia modern seperti yang kita kenal hingga abad 20, yakni manusia yang berupaya menaklukan alam dengan hasil olah pikirnya, berupaya menyibak misteri alam semesta hingga ia dapat menjadi tuan atasnya. Keyakinan yang kuat akan sentralitas posisi manusia dan rasio sebagai pengukur telah membawa manusia modern pada keyakinan yang kokoh akan sebuah masa depan yang lebih baik. Mereka hidup dengan sikap optimistik bahwa ‘perkembangan dan kemajuan tidak terhindarkan’ karena itu manusia modern meyakini bahwa ‘Ilmu Pengetahuan, jika dikombinasi dengan pendidikan, akan membebaskan kita dari rasa takut terhadap alam dan dari segala belenggu sosial’ (Grenz, Tth: 12). Sentralitas posisi manusia, rasio dan optimisme ini menghasilkan sikap individualistik, karena ia tidak lagi merasa perlu untuk tunduk pada otoritas lain di luar dirinya. Dengan demikian ia menjadi otonom dan tidak perlu lagi terikat pada tradisi dan komunitas tertentu (Bdk Grenz, Tth:12). Untuk memberi kesimpulan ringkas, saya kutipkan apa yang digambarkan Stanley J Grenz mengenai gambaran manusia modern dari tokoh Spock dalam film Star Trek&lt;br /&gt;“Seorang pahlawan dari Star Trek adalah Spock. Meskipun ia hanya anggota kru yang datang dari planet lain (ia adalah setengah manusia, setengah vulcan), dalam keadaannya itu, ia merupakan gambaran ideal manusia. Spock adalah manusia pencerahan yang ideal, seorang yang rasional tanpa emosi (setidak-tidaknya selalu mengontrol emosinya). Rasionya selalu memberikan jalan pemecahan bagi masalah-masalah yang dihadapi kru pesawat Enterprise. Kesimpulannya: segala persoalan dan masalah kita dapat dipecahkan dan diselesaikan melalui penggunaan rasio” (Grenz, Tth: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Postmodern&lt;br /&gt;Pada dasarnya adalah penolakan terhadap asumsi-asumsi modernitas. Pengagungan terhadap rasio, mulai ditinggalkan, bukan dengan menolak rasio, namun dengan menyadari bahwa ada jalan-jalan lain selain rasio yang perlu digunakan bersama, yakni diantaranya emosi dan intuisi. Muncul kesadaran mengenai keutuhan, sehingga bagian-bagian lain dari manusia diperhatikan. Selain itu juga manusia menyadari bahkan mengalami keadaan dunia yang tak juga kunjung membaik, perang dunia adalah pencetusnya, kemudian diiringi industrialisasi dan berbagai penemuan produk modernitas yang justru menghasilkan kerusakan dan polusi, pemanasan global dan juga perubahan iklim. Ini semua membawa manusia pada kesadaran bahwa dirinya bukan pusat lagi, namun perlu ada dalam relasi dengan ciptaan yang lain. Karena itu pendekatan yang dilakukan terhadap alam tidak lagi eksploitatif, namun restoratif. Dengan demikian manusia dibawa pada kesadaran hidup yang tidak lagi individualistik namun komunal, karena sadar bahwa dirinya bukan lagi sentral dan otonom, namun ada dalam ketergantungan dengan yang lain. Ini membawa manusia postmodern ‘menghentikan usaha Pencerahan untuk mencari kebenaran yang absolut, universal dan permanen’ dan beralih kepada pemahaman bahwa  kebenaran ‘hanyalah aturan-aturan dasar demi kesejahteraan komunitas tempat kita berada.’ (Grenz, Tth:17). Dalam meringkaskan ciri psotmodern ini, kembali saya kutipkan kisah Star Trek: Next Generation yang dipakai Grenz untuk menggambarkan manusia postmodern:&lt;br /&gt;“ Para kru pesawat Enterprise yang kedua ini jauh lebih beraneka ragam daripada yang pertama, bahkan mencakup mahluk-mahluk dari planet lain.[...] Dalam The Next Generation, Spock digantikan oleh Data, sebuah robot. Meskipun kemampuan intelek Data lebih tinggi daripada Spock (karena ia adalah robot), tetapi ia bukan manusia ideal karena ia hanyalah sebuah mesin. Berbeda dengan Spock, ia bukan hanya ingin mengerti apa artinya manusia tetapi juga apa artinya menjadi manusia. Ia sadar bahwa dalam dirinya ada kekurangan karena ia tidak punya rasa humor, emosi dan kemampuan untuk bermimpi. Kelak ia merasa lebih lengkap setelah diprogram sanggup bermimpi. Meskipun Data sering membantu memecahkan masalah, ia tidak sendirian. Ada orang lain juga yang membantu memecahkan masalah. Dalam daftar orang yang ahli, keahlian yang ada bukan hanya berdimensi rasional, tetapi juga berdimensi perasaan dan intuisi. Khususnya Konselor Troi, seorang wanita yang mampu melihat perasaan tersembunyi dalam diri orang lain” (Grenz, Tth: 18-19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari sumbangan Postmodernitas dalam Praksis Menggereja (di Indonesia)&lt;br /&gt;Apakah postmodernitas adalah konteks kita di Indonesia sekarang ini? Ini pertanyaan yang patut kita diskusikan tidak hanya dalam wacana pemikiran filosofis namun justru dalam realitas kehidupan yang kita hadapi sehari-hari. Kalau kita menilik ciri modernitas yang menempatkan manusia dan rasionya sebagai sentral, sudahkah era semacam ini terjadi dan terlewati di tengah kultur hidup kita di Indonesia? Kita dapat melihat produk modernitas yang melibas segala sendi kehidupan kita, namun bukan spirit pencetusnya! Sekalipun kita sudah mencicipi kecanggihan temuan peradaban modern dan juga gaya hidup yang diusungnya, namun menurut pengamatan saya, masyarakat kita belumlah sepenuhnya tersentuh dan ‘tercerahkan’ oleh modernisme. Tengok saja, betapa otoritas di luar diri manusia masih mendapat ruang besar, baik itu mitos, tradisi, maupun kekuatan alam. Masih banyak yang perlu melakukan ritual tertentu sebelum menebang sebatang pohon yang dikeramatkan. Ini menunjukkan manusia dan rasio belum jadi sentral. Juga bagaimana seseorang masih sangat kuat ikatannya dengan nilai-nilai kekerabatan dan kekuatan komunitas yang mengkonstuksi pola pikir dan gaya hidup anggotanya. Sebuah cerita yang pernah saya dengar dari seorang Ph.D (saya lupa namanya, tapi ia sekarang menjadi dekan pascasarjana sebuah Universitas di Jakarta) dalam sebuah talkshow di TV cukup memberi gambaran dari masyarakat kita:&lt;br /&gt;“ pada abad 16, Isaac Newton, ketika melihat ada buah apel jatuh, mengamatinya dan menemukan hukum gravitasi. Namun kini, di abad 21, orang Indonesia ketika kejatuhan cicak, maka apa yang dilakukan? Membuka Primbon!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan betapa jauh bedanya, sekalipun selisih 5 abad, namun cara pikir masyarakat kita ‘sepertinya’ masih pra modern.&lt;br /&gt;Modernitas akan mengangap hal semacam ini sebagai takhayul dan berupaya menaklukannya dengan penjelasan rasional, namun tidak demikian yang dilakukan dalam era postmodern. Hal semacam itu justru diterima sebagai local wisdom yang punya peran penting dalam menempatkan manusia sebagai bagian dari sistem yang saling tergantung, dimana peran akal tidak menjadi norma tunggal. Jadi mungkin kita tidak menjumpai postmodernitas seperti di dunia barat. Namun yang perlu kita sadar bukan hanya konteks lokal kita, namun juga keberadaan kita sebagai gereja di Indonesia. Gereja dan Teologi kita merupakan warisan budaya barat yang dipengaruhi pencerahan dan merupakan anak jamannya. Itu sebabnya tidak heran jika pendekatan yang dilakukan oleh gereja terhadap berbagai macam budaya, mitos dan tradisi lokal ialah melibasnya dan sama sekali tidak memberinya ruang. Kemudian menggantikannya dengan ‘budaya’ Kristen yang sebenarnya adalah budaya Eropa produk pencerahan. Teologi Kristen tradisional/konservatif yang mencuat sebagai evangelicalisme sebenarnya juga anak jaman dari modernisme yang mengagungkan rasio, karena itu berupaya memberi jawab atas segala pertanyaan yang ditujukan terhadap iman Kristen dengan penjelasan dan pendekatan apologetis, yang sekali lagi menggunakan segala dalil rasional-logis. Melihat kenyataan semacam itulah, maka saya memandang bahwa postmodern adalah sebuah konteks yang patut diajak berdialog oleh gereja di Indonesia. Sebagai sebuah sumbangsih bagi hidup menggereja kita yang ada dalam ‘masa peralihan’ tak jelas antara era pramodern, modern dan postmodern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini saya paparkan sifat postmodern, merujuk pada paparan Grenz(Tth: 272-281) yang patut kita ajak berdialog bagi praksis menggereja kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Post Individualistik&lt;br /&gt;Postmodern menolak paradigma modern dan fokusnya terhadap diri yang berpikir, menentukan dan otonom, yang lepas dari tradisi atau kelompoknya. Sebagai gantinya postmodern menawarkan alternatif yang membangun individu dalam komunitas. Peran komunitas/kelompok sosial penting dan sangat mendasar dalam proses mengetahui, karena individu mengetahui sesuatu melalui kerangka berpikir yang diajarkan oleh komunitas tempat individu berada. Pembentukan identitas individu pun dibentuk dan berkembang melaui riwayat bersama yang ada dalam cerita/narasi komunitas (tradisi kebajikan, kebaikan, dan makna hidup tertinggi). Grenz menegaskan bahwa ‘kita harus waspada agar iman kita senantiasa bersifat sosial. Allah adalah Tritunggal yang sosial ini harus membuat kita melihat maksud penciptaan yang ditujukan untuk mencapai hubungan antar individu.’ Karena orientasi hidup pada komunitas, maka orang dan anggota gereja tidak lagi berorientasi pada perkataan namun mengharapkan sebuah penerapan nyata dari berita Kitab Suci mengenai ‘sekelompok orang yang sedang menerapkan Injil dalam hubungan yang utuh, otentik, dan saling membangun.’&lt;br /&gt;Diskusi: Bagaimana dengan praktek menggereja kita selama ini, apakah kita mendasarkan pemberitaan kita pada aspek verbal/perkataan atau tindakan konkrit? Model hidup berkomunitas macam apa dalam Kitab Suci yang dapat dijadikan pola bagi hidup menggereja kita sekarang ini? Cobalah menerapkan model komunitas dalam Kitab Suci tersebut dalam konteks kita, bentuk macam apa yang bisa kita wujudkan, pikirkan dan berilah contoh nyata. (berdasarkan pengalaman dan juga pemikiran sebagai usulan bagi kita semua)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Post Rasionalistik&lt;br /&gt;Era modern berfokus pada argumentasi logis dan metode ilmiah, sehingga membebaskan orang dari takhayul masyarakat pamodern. Karena itu logika dan sains menjadi penentu bagi kelangsungan masyarakat modern. Namun postmodern melancarkan kritik bahwa manusia tidak hanya terdiri dari dimensi kognitif, karena sekalipun berpikir, namun manusia lebih dari sekedar “binatang yang berpikir”.  Karena itu pendekatan terhadap manusia, kebenaran, Kitab Suci dan Allah, tidak dapat sekedar memakai kategori rasional, namun perlu membuka ruang bagi aspek-aspek lain, baik emosional maupun intuitif. Jika sebelumnya kita mengenal Intelektualitas sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan, maka kini kita dihadapkan pada kecerdasan emosional, spiritual, sosial, bahkan penemuan mengenai kategori-kategori kecerdasan ini terus berkembang.&lt;br /&gt;Diskusi: Apakah masyarakat dan gereja kita selama ini sudah hidup dengan pendekatan rasionalistik? Apakah kategori rasional dan argumentasi logis adalah cara pendekatan yang kita pakai selama ini terhadap manusia, kebenaran, Kita Suci dan Allah? Coba cari kisah dalam kitab suci mengenai aspek-aspek selain rasio yang perlu dijadikan sebagai cara pendekatan. Bagiamana pendekatan multidimensi tersebut diterapkan dalam pola ibadah, pola kotbah, dan pola hidup menggereja kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Post Dualistik&lt;br /&gt;Modernitas dibangun dengan melakukan pemisahan antara ‘pikiran’ dan ‘materi’, pemisahan ini mempengaruhi cara pandang terhadap pribadi manusia, yakni ‘jiwa’ (substansi yang berpikir) dan ‘tubuh’ (substansi fisik). Dualisme semacam ini rupanya sangat berpengaruh terhadap kekristenan produk jaman modern yang menghidupi Injil dan gerak menggerejanya secara dualistis. Sehingga tujuan utama gereja adalah menyelamatkan ‘jiwa’ dan menomorduakan ‘tubuh’ (bahkan beberapa mengabaikan dan menganggapnya jahat). Generasi postmodern hidup dalam cara pandang yang semakin melihat manusia sebagai keutuhan. Dengan adanya keutuhan ini maka bukan satu aspek saja yang ditekankan (misal: Tubuh, atau emosi atau aspek lain, diberi tempat yang tinggi) namun mencakup integrasi antara aspek-aspek yang ada. Bahkan tidak hanya keutuhan dalam pribadi, namun juga antar pribadi dan dengan konteks sosial dan lingkungan/alam. Pemikiran post dualistik membawa manusia postmodern hidup dalam keseimbangan dan keutuhan antara jiwa dan tubuh, aspek eskatologis dan kekinian, manusia dan ciptaan yang lain.&lt;br /&gt;Diskusi: Bagaimana pola pendekatan gereja terhadap manusia, apakah masih dualistik? Carilah berita Kitab Suci yang mengajak manusia untuk hidup dalam keutuhan jiwa-tubuh, manusia dan ciptaan lain, masa kini dan masa depan. Bagaimana pola pikir post dualistik ini dipraktekkan dalam pola pemberitaan dan hidup menggereja kita? Apakah ada pengalaman konkret, kalau belum maka usulan macam apa yang bisa kita aplikasikan bersama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Post Noetisentrik&lt;br /&gt;Artinya tidak sekedar pengumpulan pengetahuan, modernitas sangat mengagungkan pengetahuan, fokus pada pencarian pengetahuan dianggap baik. Bahkan kekristenan modern menganggap bahwa tolok ukur kekristenan sejati hanyalah pada kepatuhan dan konsistensi terhadap doktrin-doktrin tertentu. Pengetahuan tidak disangkali peran dan kebaikannya, namun pengetahuan perlu dilanjutkan ke tahap kebijaksanaan. Menurut Grenz, ‘Injil Postnoetisentrik menempatkan dengan benar antara aktivisme dan quietisme. Kita tidak dapat lagi mengikuti cara pandang modern yang menekankan aktivitas, tingkah laku atau keputusan spesifik sebagai tolok ukur kerohanian.[...] Etos Postmodern memahami bahwa aktivisme harus lahir dari sumber batiniah kita.’ Dengan demikian maka pengetahuan sifatnya sekunder, dalam artian dia bernilai jika membentuk perilaku.&lt;br /&gt;Diskusi: Apakah teologi dan hidup menggereja kita selama ini menjadikan pengetahuan (termasuk pengetahuan teologis dan biblis) sebagai pengukur bagi segala sesuatu? Carilah kisah dalam Kitab Suci dimana kebijaksanaan dan perilaku adalah hal yang menjadi perwujudan pengetahuan, atau pengetahuan harus menghasilkan aksi nyata. Bagaimana penerapan pola pikir post noetisentrik ini terhadap cara berteologi dan bergereja kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian&lt;br /&gt;Kiranya tulisan ini menjadi stimulus awal yang dilanjutkan dalam tindakan konkret, dalam interaksi yang terus menerus dengan pemikiran-pemikiran yang lain, namun tidak untuk menantang maupun menaklukan yang lain, tetapi dalam sebuah kesadaran akan keterbatasan kita dan perlunya hidup dalam keutuhan sebagai individu yang hidup dalam komunitas yang terhubung dengan komunitas lain bahkan dengan ciptaan lain. Demi kehidupan jiwa dan tubuh manusia yang lebih baik di masa kini juga di masa mendatang. Semoga...  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3650371330665813845#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;§&lt;/a&gt; Disampaikan dalam Workshop Leadership STT Abdiel, Senin 14 Januari 2008, sebagai stimulus diskusi guna mencari dan menghidupi praksis menggereja dalam konteks postmodern. Dalam tulisan ini saya terutama mengacu pada pemaparan Stanley J. Grenz, A Primer on Postmodernism (Terjemahan), Yogyakarta:Andi, tth. Namun demikian sekalipun tidak dikutipkan secara langsung, saya juga berdialog dengan beberapa pengantar mengenai postmodern lainnya, seperti  David Ray Griffin, Visi-visi Postmodern dan Tuhan dan Agama dalam era Postmodern, Yogyakarta: Kanisius, 2005. Artikel Sridadi Atiyanto, ‘Globalisasi dan Dampaknya Bagi Kehidupan Kristen’ dalam Jurnal Pengarah edisi 4, Bandung: IAT, 2002. Serta tulisan-tulisan mengenai kekristenan Pentakosta-Kharismatik, yakni Wilfred J Samuel, Kristen Kharismatik: Refleksi atas berbagai kecenderungan pasca Kharismatik, Jakarta: BPK, 2006., dan Yahya Wijaya, ‘Kata Pengantar: Kekristenan “Gelombang Ketiga” ‘ dalam Rijnardus A. van Kooij, Bermain dengan Api, Jakarta: BPK, 2007.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=3650371330665813845#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;ª&lt;/a&gt; Rony Ch. Kristanto, melayani bidang Sosio Religio Kultural di GIA Pringgading, Semarang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-6544202984266045375?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/6544202984266045375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/01/menggereja-dalam-konteks-postmodern.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/6544202984266045375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/6544202984266045375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/01/menggereja-dalam-konteks-postmodern.html' title='Menggereja dalam Konteks Postmodern'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-2888737214528891563</id><published>2009-01-22T06:19:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T06:24:16.189-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dialog'/><title type='text'>Membumikan (kembali) Pluralisme</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Membumikan (kembali) Pluralisme&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wawasan, Jumat, 15 Agustus 2008&lt;br /&gt;Oleh: &lt;em&gt;M Najibur Rohman&lt;/em&gt; (Divisi riset eLSA Semarang) dan &lt;em&gt;Rony Chandra Kristanto&lt;/em&gt; (Rohaniwan Gereja Isa Almasih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARUSLAH diakui betapa tak mudahnya membangun kerukunan dalam tubuh umat beragama. Hampir tiap langkah dan waktu kita disuguhi panorama ketidakmesraan dan penuh kecurigaan antarumat beragama. Tidak hanya dalam relasi eksternal antaragama, bahkan internal umat beragama pun tak luput dari ketidakharmonisan dan klaim kebenaran (truth claim) sepihak. Kondisi ini seolah makin menyempitkan saja ruang untuk membina kebersamaan penuh cinta yang hakekatnya merupakan nilai dasar dari setiap agama.&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu (8-10/8) berlangsung sebuah pertemuan Jaringan Antar Iman seIndonesia di Yogyakarta. Pertemuan ini serasa istimewa karena mencoba menatap masa depan pluralisme di tengah masyarakat kita. Ini sangat penting, karena pluralisme -baik sebagai perspektif maupun paham sejatinya hadir sebagai salah satu jalan menjaga kemajemukan penafsiran, kehidupan damai dan keutuhan bangsa ini jauh dari konflik akibat agama.&lt;br /&gt;Sekalipun realitas kemajemukan itu hadir dalam keseharian kita, namun perasaan kikuk untuk menghargai kemajemukan tersebut diakui atau tidak memang tetaplah ada.&lt;br /&gt;Meski secara esensial spirit pluralisme tidak hilang, namun beragam fenomena seperti kasus Monas, terus berlangsungnya diskriminasi terhadap kaum minoritas keagamaan dan aliran kepercayaan serta konflikkonflik yang memakai simpul keagamaan, justru menjadi indikasi belum tergelarnya -meminjam istilah Karel Steenbrink- pesta pluralisme (pluralism party) di negeri ini.&lt;br /&gt;Padahal Hans Kung (1997), salah seorang pejuang perdamaian, telah mewanti-wanti kepada kita bahwa kedamaian negara dan dunia akan sulit terjadi jika tidak ada kerukunan dalam agama. Sebab itulah, sentimen keagamaan harus dieliminasi dan terus dilangsungkan dialog yang intensif sehingga memunculkan promosi bersama tentang keluhuran martabat manusia (respect for human dignity) yang cinta perdamaian dan keadilan (Yong Ohoitimur: 2008).&lt;br /&gt;Dengan kata lain, agama merupakan bagian dari mekanisme untuk membangun kondisi dunia yang sejahtera, tenteram dan saling menghargai. Bahwa potensi awal dari setiap agama meminjam bahasanya Clifford Geertz sejatinya menstimulasi terhadap perdamaian, bersifat integratif dan penuh penghargaan terhadap manusia serta lingkungan. Agama diturunkan bukan untuk menjadikan umat manusia berperang, bertikai, dan saling mencurigai.&lt;br /&gt;Agenda bersamaPluralisme tentulah tidak hanya terhenti dalam level teoritis dan kesadaran umat beragama. Perlu arena praksis sebagai langkah mengimplementasikan gagasan tersebut dalam kerja kebersamaan sehingga tampil secara nyata. Tampilan ini kami rasa sangat urgen, karena secerdasnya gagasan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok, tetapi jika tidak diterima oleh masyarakat luas, ia akan terkubur bersama lalunya waktu.&lt;br /&gt;Inilah mengapa sebuah gagasan perlu ditopang oleh benteng sosial yang kuat. Benteng sosial yang dimaksud adalah daya serap masyarakat terhadap sebuah gagasan yang memungkinkan mereka bergerak untuk terus melakukannya secara bersama-sama. Ini sama halnya dengan, ide membangun Indonesia dan merebut kemerdekaan yang kemudian dibarengi oleh upaya serentak dari rakyat Indonesia melakukan itu hingga perjuangan terakhir.&lt;br /&gt;Demikian pula dengan pluralisme, hanya akan berhasil optimal jika masyarakat dapat menerima ide tersebut dan kemudian melakukan upaya-upaya untuk terus memperjuangkannya.&lt;br /&gt;Karena itulah yang menurut kami penting dilakukan, relasi damai atau kerja-kerja kebersamaan antaragama ini, dengan meminjam gagasan Paul F Knitter (2005) dapat dilakukan dalam wilayah common responsibility, sebuah respon terhadap problem yang kita hadapi sebagai manusia secara umum. Dengan konsep ini maka dalam bahasa Th Sumartana (2003) akan ditemukan visi etik yang sebenarnya sama dalam setiap agama dan kepercayaan. Bahwa setiap agama merupakan ruang yang sangat ekspresif untuk membantu sesama dan bahu-membahu membangun peradaban yang lebih santun dan penuh kebajikan.&lt;br /&gt;Dalam pengakuan Abu Hapsin, ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Jawa Tengah ketika menjadi keynote speaker sebuah acara di Semarang belum lama ini, konsep Knitter itu dapat mengilhami kita untuk membentuk sebuah national  responsibility . Bahwa umat beragama tidak lagi disibukkan dengan perdebatan teologis pada ranah elit yang rentan konflik, tetapi saling membahu pada tingkat akar rumput dalam tugas-tugas kemanusiaan; pendidikan, kesehatan, pengiriman bantuan bencana alam, mengurangi kemiskinan dan sebagainya.&lt;br /&gt;Dengan langkah semacam inilah diharapkan konsep pluralisme dapat membumi dan benar-benar implementatif di masyarakat luas. Sekaligus, ini juga menjadi otokritik terhadap konsep pluralisme yang selama ini acap terhenti dalam pertemuan kelompok-kelompok elit keagamaan atau para aktivisnya saja. Karena hal ini, ada indikasi pluralisme justru makin dijauhi, apalagi ada prasangka gagasan ini sengaja diwacanakan sebagai stimulus imperialisasi peradaban Barat terhadap Timur, khususnya Indonesia.&lt;br /&gt;Sebab itu pulalah, memaknai pluralisme tidak harus diawali melalui gagasan dari bangsa atau peradaban lain. Pluralisme dengan pluralitasnya dapat menjadi esensi, sebuah substansi, dan ia tidak merupakan tema yang aktif untuk menumbuhkan fanatisme gagasan.&lt;br /&gt;Apalagi bangsa Indonesia hakikatnya telah memiliki kearifan-kearifan lokal dalam menjaga kehidupan bersama yang tidak saling mengganggu antar yang lain dan dipraktikkan sejak lama oleh masyarakat di nusantara.&lt;br /&gt;Jika kita ingin jujur, bukankah Bhinneka Tunggal Ika lahir dengan semangat menghargai pluralitas itu? Spirit menghargai kemajemukan itu sebenarnya sangat lokal dan sungguh mengakar sebagai warisan kultural.&lt;br /&gt;Bukankah hal itu sangat mencerminkan betapa elegannya bangsa kita untuk menerima setiap perbedaan yang ada demi kesejahteraan hidup bersama? Maka yang harus kita cemaskan sekarang ini adalah setiap upaya penyeragaman perbedaan, yang bisa jadi justru diusung dari luar dan hendak meniadakan kekayaan kemajemukan yang selama ini telah kita warisi bersama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-2888737214528891563?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.wawasandigital.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=25291&amp;Itemid=62' title='Membumikan (kembali) Pluralisme'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/2888737214528891563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/01/membumikan-kembali-pluralisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/2888737214528891563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/2888737214528891563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2009/01/membumikan-kembali-pluralisme.html' title='Membumikan (kembali) Pluralisme'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-875060058658840706</id><published>2008-12-15T23:04:00.000-08:00</published><updated>2008-12-15T23:07:39.540-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Antara Reality Show Televisi dan Real Christianity</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Antara &lt;em&gt;Reality Show&lt;/em&gt; Televisi dan &lt;em&gt;Real Christianity&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;by: Rony C. Kristanto, M.Th&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tersungkur, berteriak histeris sambil meneteskan air mata dan terkadang sampai pingsan. Kehebohan apa yang sedang terjadi? Mungkin beberapa waktu yang lalu kita pernah menyaksikan kejadian tadi dalam sebuah acara reality show di layar televisi. Dalam tayangan itu sengaja dipilih orang-orang sederhana mulai dari pengayuh becak, penjaja asongan, penjual koran, hingga buruh cuci serabutan. Mereka adalah orang-orang yang menjalani keseharian hidupnya dengan aktivitas itu-itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan tertentu mungkin pernah terbersit dalam impian mereka untuk menikmati berbagai kenyamanan hidup yang selama ini hanya bisa mereka saksikan melalui layar televisi ataupun di perumahan elit yang mengepung perkampungan kumuh tempat mereka tinggal. Ataupun keinginan memiliki setumpuk uang yang memudahkan mereka membeli kebutuhan hidup sehari-hari dan mungkin beberapa peralatan elektronik yang bisa memudahkan dan menghibur hidup mereka, atau mungkin sekedar sebagai peningkat gengsi penanda status sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau angan dan impian tadi menjadi kenyataan? Ya, kehebohan seperti yang saya sebutkan di atas itulah yang biasanya mengisi episode demi episode tayangan tersebut. Bagaimana tidak heboh kalau biasanya hanya memegang uang beberapa lembar ribuan atau puluhan ribu saja, kini mereka disodori setumpuk uang bernilai total sepuluh juta rupiah. Belum juga selesai terkaget dengan kejutan itu, mereka diminta segera membelanjakan uang itu sampai habis dalam waktu tigapuluh menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tergopoh mereka berlarian menuju pasar atau swalayan terdekat, membeli bermacam barang yang selama ini sekedar hadir dalam impian. Ada yang segera membeli sepeda motor, kulkas, televisi, kipas angin, radio tape, perhiasan emas, baju, beberapa bahkan membeli beras, gula, mie instan dan rokok, ada juga yang membeli sandal dan beberapa barang lain yang mungkin terlihat tidak terlalu berharga, tapi bisa jadi itu yang terpendam dalam hasrat mereka selama ini. Biasanya selesai berbelanja maka tangis keharuanlah yang meliputi mereka, tak jarang diikuti sujud syukur dan pelukan serta ucapan terima kasih tiada henti kepada si pembawa acara yang tampil dengan samaran kostum serba hitam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima kejutan memang bisa memuncukan beragam tanggapan apalagi bagi mereka yang terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Seperti itu juga rupanya kisah dan pengalaman para gembala yang dituturkan oleh penulis Injil Lukas dalam Lukas 2: 8-20. Dalam Ensiklopedi Perjanjian Baru, Xavier Leon-Dufour menuturkan bahwa “semasa kehidupan Yesus, para gembala termasuk masyarakat yang paling sederhana; mereka tidak mengenal dan tidak mempraktekkan Hukum” (Kanisius, 1993: 239). Selain menduduki strata bawah secara sosial, bisa jadi mereka juga termasuk orang yang tidak berpendidikan, karena ‘tidak mempraktekkan Hukum’ juga bisa bermakna tidak mengenal ilmu dan tradisi agama dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para gembala juga lebih sering hidup dengan ternak-ternaknya di luar kota daripada berjumpa dengan manusia lain yang ada dalam lingkup kota. Mereka menjalani keseharian hidupnya dengan ternak, padang rumput, ancaman binatang liar, serta petikan kecapi yang mengiringi rutinitas kesehariannya. Hidupnya biasa-biasa saja, jauh dari istimewa, hingga sering mereka tidak diterima sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah keseharian dan kesederhanaan hidup itu, kejutan datang dalam hidup mereka. Bukan reality show yang menawarkan segepok uang, tetapi “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka” (Luk 2:9). Kalau sorotan kamera dan tawaran uang sepuluh juta bisa menimbulkan kehebohan sedemikian, bagaimana kalau dengan kunjungan malaikat? Rupanya Kitab Suci mencatat bahwa “mereka sangat ketakutan” (Luk 2:9). Sebuah respon yang wajar, karena bisa jadi selama ini yang mereka jumpai dan ajak berkomunikasi hanyalah domba gembalaan saja.&lt;br /&gt;Malaikat yang melihat respon ketakutan para gembala rupanya kembali menyapa untuk meneduhkan mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Luk 2:10-11). Mungkin sambil mencubit lengannya dan mengusap-usap kedua matanya, para gembala ini masih meragukan yang mereka dengar dan lihat. Belum hilang keterkejutannya akan kehadiran malaikat, tiba-tiba ada berita mengenai: kesukaan besar, Juruselamat, Kristus, Tuhan. Breaking News!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kalimat selanjutnya dari berita malaikat itu mungkin menimbulkan tanda tanya dan keraguan besar di benak mereka. Karena malaikat kemudian berkata kepada para gembala “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Luk 2:12). Ah, yang benar saja, penyampai beritanya saja istimewa, bahkan sampai membuat ketakutan hingga mungkin terkencing di celana, beritanya juga luar biasa tentang kesukaan besar, bukan hanya bagi para gembala, tapi bahkan bagi seluruh bangsa. Lha kok tandanya hanya bayi yang dibungkus lampin dan dibaringkan dalam palungan? Para gembala mungkin saja menggumam dalam logat Semarangan “kami memang bodo dan miskin, tapi kalau mau menipu mbok yang rada masuk akal, pembukaannya saja keren mosok tandanya cuma bayi, lampin dan palungan, koq yo ono-ono wae.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin untuk menjawab keraguan tadi, malaikat merasa perlu memberi kejutan lagi bagi para gembala “Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." “ (Luk 2:13-14). Tapi apa istimewanya bayi, lampin dan palungan. Bayi bisa lahir kapan saja dan di mana saja, lampin juga bisa dibeli oleh siapa saja, sedangkan palungan tiap hari ada di depan mata mereka dan mengenai baunya, uughh, lebih baik cepat-cepat tutup hidung bagi yang tidak terbiasa. Coba saja kalau bayi itu dibungkus kain sutra, dalam istana penguasa, dan dibaringkan di atas ranjang berhias permata. Penanda itu akan memudahkan siapa saja untuk percaya bahwa yang lahir itu bukanlah bayi biasa, setidaknya orangtuanya pastilah dari kalangan berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya para gembala tidaklah seperti dalam imajinasi saya. Mereka memiliki respon yang berbeda, alih-alih mengabaikan berita dan tanda itu, “...gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita” (Luk 2: 15). Mereka bukanlah jenis manusia yang mau mudahnya saja, tapi berani mencoba dan menguji tawaran yang datang dan disodorkan. Keraguan mungkin saja meliputi, namun hasrat keingintahuan yang besar (curiosity) mengalahkan gelayut tanda tanya di benak dan batin mereka. “Ayo ke Betlehem!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bergegas mereka berangkat “Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu” (Luk 2:17). Ah, rupanya tidak percuma mereka menempuh perjalanan mencari pembuktian. Meskipun semua orang, kecuali Maria, hanya bisa heran, entah takjub atau sekedar bengong, mendengar cerita mereka. Para gembala tidak lantas bertanya keuntungan apa yang akan kami terima? Jabatan apa yang akan kami sandang? Atau fasilitas apa yang bisa kami nikmati? Tetapi, malahan mereka pulang “sambil memuji dan memuliakan Allah” (Luk 2: 20) bukan karena mengantongi sekerat permata, tapi “karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.” (Luk 2: 20). Pujian yang mengalun dari hati lantaran ada kesetiaan yang teruji. Inilah Real Christianity (kekristenan sejati) dan bukan sekedar Reality Show televisi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-875060058658840706?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/875060058658840706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/antara-reality-show-televisi-dan-real.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/875060058658840706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/875060058658840706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/antara-reality-show-televisi-dan-real.html' title='Antara Reality Show Televisi dan Real Christianity'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-9192331105152453150</id><published>2008-12-14T21:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T21:46:16.543-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='merenung'/><title type='text'>Mengapa Memuji Tuhan?</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Mengapa Memuji Tuhan? &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;by: Rony C. Kristanto&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;(Mzm 135: 1-7)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalau ada seseorang yang menolong ataupun memenuhi harapan maupun kebutuhan kita, maka kita akan mudah untuk memuji orang tersebut. Pujian kita tidak muncul karena keberadaan maupun kepribadian orang tersebut, namun karena apa yang dilakukannya. Bagaimana jika orang tersebut tidak melakukan sesuatu yang memenuhi keinginan kita, ataupun justru melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan kita? Biasanya respon kita ialah mengeluhkan keberadaan orang tersebut. Padahal kita seringkali belum tahu apa alasan maupun tujuan dibalik tindakan yang dilakukan oleh orang tadi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Begitupun seringkali yang terjadi dalam hubungan kita dengan Tuhan. Pujian kita kepada-Nya hanya lantang, semarak dan antusias ketika Ia memenuhi keinginan maupun harapan kita. Namun apa yang kita lakukan ketika yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita? Bisakah kita tetap memujinya? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dari pemazmur kita dapat belajar bahwa memuji Tuhan tidak hanya berkait dengan apa yang dilakukan-Nya bagi kita, namun seluruh keberadaan-Nya patut untuk dipuji. Itu sebabnya pemazmur dapat mengenali keberadaan dan kehadiran Tuhan dalam hal dan peristiwa yang dekat, namun kerap kita abaikan. Dengan mengamati kabut, kilat, hujan dan angin, yang sebenarnya juga akrab dengan kehidupan kita, pemazmur dapat mengenali keberadaan Tuhan, dan bahkan memuji Tuhan karena “Ia yang menaikkan kabut,” “membuat kilat mengikuti hujan,” dan “mengeluarkan angin dari perbendaharaan-Nya.” Dengan mengamati peristiwa alam seperti itu pemazmur bisa memuji kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan. Tuhan layak dipuji, bukan karena Ia melakukan melakukan sesuatu bagi kita, namun justru karena “Tuhan melakukan sesuatu yang dikehendaki-Nya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-9192331105152453150?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/9192331105152453150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/mengapa-memuji-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/9192331105152453150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/9192331105152453150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/mengapa-memuji-tuhan.html' title='Mengapa Memuji Tuhan?'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-3805155441441308164</id><published>2008-12-14T21:29:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T21:33:40.545-08:00</updated><title type='text'>Berjumpa dengan Kristus</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Berjumpa dengan Kristus&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;by: Rony C. Kristanto&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;“… Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”Mat 25:40&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan adalah sebuah kenyataan sosial di negeri ini. Semakin hari jumlah orang miskin dan juga mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan semakin bertambah. Kalau tinggal di kota besar maka kita dapat mengamati bahwa jumlah pengemis, pemulung, anak jalanan, pengamen dan gelandangan semakin bertambah, begitu pula dengan jumlah hunian liar dan perkampungan kumuh. Mungkin dengan mudah kita dapat berkata “Bukankah hal itu adalah tanggung jawab pemerintah, karena pemerintah yang harusnya memlihara fakir miskin dan anak terlantar.” Mengapa kita perlu repot-repot memikirkan kemiskinan? Apakah itu juga bagian dari panggilan kita sebagai pengikut Kristus?&lt;br /&gt;Di bulan Desember ini, ketika dengan meriah dan penuh sukacita kita merayakan kelahiran Kristus, tidakkah kita juga diingatkan bahwa kelahiran Kristus merupakan wujud nyata dari solidaritas Allah kepada manusia. Di dalam dan melalui kehadiran serta kehidupan Allah yang menjadi manusia itulah kita dapat melihat dan mengalami kepedulian Allah terhadap mereka yang lemah, disisihkan, dianiaya, kekurangan dan diabaikan. Allah yang memilih untuk lahir di kandang domba dan berkenan untuk dijumpai dalam mereka yang lapar, haus, tidak memiliki tempat tinggal, telanjang, sakit dan terpenjara. Karena itulah jika kita rindu untuk mengalami kehadiran Tuhan dan menyenangkan hati-Nya, maka melalui aksi dan kepedulian terhadap mereka yang terabaikan itulah kita dapat berjumpa dengan Kristus sendiri. Hingga kita mendengar sapaan Allah “…Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan.”(Mat 25:34)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-3805155441441308164?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/3805155441441308164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/berjumpa-dengan-kristus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/3805155441441308164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/3805155441441308164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/berjumpa-dengan-kristus.html' title='Berjumpa dengan Kristus'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-2452970235857753480</id><published>2008-12-14T21:20:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T21:23:37.885-08:00</updated><title type='text'>Take and Give</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Take and Give&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;by: Rony C. Kristanto&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan" &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;(2 Kor 8:14)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup ini kita perlu keseimbangan, segala sesuatu yang kita terima meskipun itu sangat penting, misalnya udara yang kita hidup perlu juga untuk dihembuskan keluar. Makanan yang kita makan, seenak apapun itu, perlu juga nantinya setelah diserap oleh tubuh, maka sisanya dikeluarkan. Begitu juga dengan air yang kita minum, maka sisanya akan dikeluarkan juga oleh tubuh. Kalau kita hanya menghirup napas, makan dan minum tanpa proses pengeluaran kembali, maka akan berakibat fatal pada kehidupan kita.&lt;br /&gt;Begitu pula proses pengaturan sirkulasi untuk rumah tinggal, perlu sinar matahari dan udara yang cukup, karena itu perlu jendela, lubang angin, dan juga pengaturan cahaya serta pengaturan ruangan yang seimbang. Tanpa sinar matahari yang cukup, maka rumah menjadi lembab, tanpa udara yang cukup maka rumah menjadi pengap. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan demikian kita diingatkan bahwa hidup ini perlu sebuah proses keseimbangan, termasuk dalam kehidupan dan pelayanan kita. Misalnya dalam mengelola keuangan, perlu ada arus yang seimbang antara pemasukan dan pengeluaran, pemasukan yang bertambah juga perlu diikuti dengan peningkatan jumlah tabungan dan juga berkat yang disalurkan bagi mereka yang membutuhkan. Dalam pelayanan, karunia yang telah diberikan oleh Tuhan perlu untuk dikenali, diasah, dikembangkan dan kemudian diaktifkan untuk dapat menjadi berkat di dalam Tubuh Kristus. Pengalaman kehidupan bersama dengan Tuhan perlu untuk direnungkan, dijadikan kekuatan dalam menjalani kehidupan dan kemudian dibagikan kepada saudara yang lain melalui kesaksian. Siapkah untuk mulai membagikan apa yang telah kita terima selama ini?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-2452970235857753480?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/2452970235857753480/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/take-and-give.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/2452970235857753480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/2452970235857753480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/take-and-give.html' title='Take and Give'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-5274591715891710409</id><published>2008-12-14T21:17:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T21:29:03.913-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='merenung'/><title type='text'>Melintasi Batas</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:180%;"&gt;Melintasi Batas&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;by: Rony C. Kristanto&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;"...Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir. Itulah sebabnya aku tidak berkeberatan ketika aku dipanggil, lalu datang kemari." (KPR 10: 28-29)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang sering berkata bahwa sekarang kita hidup di sebuah ‘dusun global’. Apa maksudnya? Bukankah dusun identik dengan tempat terpencil, terasing, dan tradisional. Sedangkan global menunjuk pada keadaan dunia yang semakin borderless (tanpa batas). Dengan kemajuan komunikasi, maka berbagai kejadian di seluruh dunia dapat diikuti secara langsung, baik melalui televisi maupun internet. Sedangkan dengan mudah, murah dan cepatnya sarana transportasi maka perjalanan antar negara dan benua dapat ditempuh dalam hitungan jam saja. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam dunia ‘tanpa batas’ ini, maka dunia ini seakan mengecil dan menjadi laksana ‘dusun’ dimana antar penduduk saling kenal satu dengan yang lain, tidak seperti dusun tradisional yang cenderung homogen, dusun global ini sangat heterogen. Kita akan berjumpa dengan orang dari berbagai latar belakang etnis, agama, bahasa, dan budaya yang berbeda dalam keseharian hidup kita, baik itu perjumpaan secara langsung maupun melalui media massa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam era seperti ini, maka kesiapan kita untuk menjadi saksi Kristus juga perlu diikuti dengan kesadaran akan adanya ‘jurang’ budaya maupun bahasa, yang dapat menjadi kendala bagi kesaksian kita. Ketidaksiapan untuk berjumpa dengan mereka yang kita anggap ‘lain’ dan ‘asing’, seringkali terjadi karena kita belum terbiasa berjumpa dan hidup berdampingan dengan mereka yang berbeda dengan kita. Kegagapan budaya semacam inilah yang dialami oleh Petrus, ketika ia yang tadinya hanya hidup dan bergaul dengan masyarakat Yahudi, tiba-tiba harus berjumpa dan bahkan menyaksikan Kristus pada orang asing. Tetapi dari pengalaman inilah Petrus kemudian belajar bahwa Allah mengasihi semua bangsa dan tidak menganggap satu etnis, bahasa maupun budaya lebih tinggi dibanding yang lain. Ketidaksiapan untuk memahami ‘mereka yang berbeda’ dapat menjadi hambatan untuk bersaksi dan melayani secara lintas budaya. Siapkah kita?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-5274591715891710409?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/5274591715891710409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/melintasi-batas-by-rony-c.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/5274591715891710409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/5274591715891710409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/melintasi-batas-by-rony-c.html' title='Melintasi Batas'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-4909441280894112368</id><published>2008-12-13T19:41:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T21:42:42.628-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='merenung'/><title type='text'>Berbagi Kehidupan</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Berbagi Kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;by: Rony C. Kristanto&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu masa, ada sekelompok orang yang hidup dalam kecukupan. Dalam kelompok itu tidak ada orang yang berkekurangan. Wah ini sesuatu yang luar biasa, mungkin kita pikir ini hanya terjadi dalam dongeng atau kelak seperti gambaran dalam kitab Wahyu.&lt;br /&gt;Ternyata tidak, sekelompok orang itu hidup dalam sebuah komunitas yang bersedia membagikan apa yang mereka miliki terhadap sesama mereka.&lt;br /&gt;Ada orang yang kaya, ada yang miskin, ada yang cerdas ada yang kurang terpelajar, ada yang memiliki banyak kemampuan namun juga ada yang biasa saja. Kelompok ini bukan kelompok manusia super yang semua anggotanya adalah orang kaya, terpelajar, dan bisa melakukan apa saja. Namun sekelompok orang dengan beragam latar belakang status sosial, tingkat pendidikan dan kondisi ekonomi. Kelompok macam apakah ini?&lt;br /&gt;Menurut catatan sejarah kelompok ini pernah ada dan hidup sekitar 2000 tahun yang lalu, mereka selalu berkumpul untuk menerima pengajaran, memecahkan roti dan berdoa. Sekalipun mengalami berbagai tekanan dan aniaya, mereka tetap bersatu dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Bahkan yang lebih mencengangkan adalah “selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” (KPR 2: 42-45)&lt;br /&gt;Lalu bagaimana awal mula ceritanya sehingga kelompok orang itu dapat menjalani bentuk kehidupan semacam itu. Rupanya kelompok orang itu pada awalnya adalah orang-orang yang “telah percaya”. Tapi pertanyaannya percaya kepada apa atau siapa? Mereka rupanya telah percaya kepada Yesus Kristus dan kemudian dibaptiskan dalam Nama-Nya (KPR 2: 38; 41). Bukankah kita juga demikian, lalu mengapa begitu besar perbedaan pola hidupnya? Bukankah kita mengikuti Kristus yang sama dan juga dibaptis dalam Nama yang sama? Sesungguhnya ketika jemaat Yerusalem menerima Kristus dan dibaptis, itu juga berarti mereka mengikuti gaya hidup, teladan dan perjuangan Yesus. Jadi tidak sekedar mengucapkan pengakuan melalui perkataan, namun dibuktikan dengan kehidupan.&lt;br /&gt;Di sekeliling kita banyak yang hidup dalam segala kelimpahan dan kelebihan harta, mungkin anda salah satunya? Tapi kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan bahwa banyak yang sangat papa, kekurangan, kelaparan, sakit, dan tidak mampu melanjutkan pendidikannya. Apa tanggapan kita terhadap permasalahan semacam ini? Ada orang yang memilih untuk mendoakan orang yang menderita, ada yang tidak punya harta namun bersedia mendampingi dan melayani dengan tenaganya, ada pula yang membantu dengan keuangannya, namun tidak sedikit yang justru mencemooh dan mengatai mereka sebagai orang yang malas, dan sebagainya. Apa tanggapan anda terhadap penderitaan dan kemiskinan di sekeliling kita? Sungguhkah kita ini layak disebut sebagai orang yang telah percaya dan dibaptis dalam Nama-Nya?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-4909441280894112368?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/4909441280894112368/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/berbagi-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4909441280894112368'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4909441280894112368'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/berbagi-kehidupan.html' title='Berbagi Kehidupan'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-8566191148260971874</id><published>2008-12-13T19:28:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T19:31:21.438-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='merenung'/><title type='text'>Belajar dari Cemara</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Belajar dari Cemara&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;by: Rony C. Kristanto&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami" (2 Kor 4: 17)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kini suasana natal tidak hanya semarak di gereja. Namun bahkan di tempat-tempat perbelanjaan dan pusat-pusat keramaian. Di sana kita bisa menjumpai salah satu simbol yang cukup akrab dengan kita, yakni pohon natal. Di Indonesia kita sering memasang pohon natal yang terbuat dari plastik, dengan bentuk pohon yang menyerupai cemara. Tradisi ini sebenarnya pengaruh dari daratan Eropa yang sejak sekitar abad ke 16 mulai menghias pohon cemara untuk dekorasi natal di dalam rumah.&lt;br /&gt;Pohon cemara dipilih sebagai penghias rumah dalam suasana natal, bukan terkait dengan keindahan bentuknya, ataupun keharuman baunya. Cemara tidak memiliki itu semua, namun dalam iklim Eropa, cemara adalah pohon yang dapat tetap hijau daunnya dalam musim dingin sekalipun, yakni ketika hampir semua pohon yang lain berguguran daunnya.&lt;br /&gt;Cemara yang tak tergoyahkan oleh cuaca inilah yang mengingatkan kita akan kekekalan. Yaitu akan adanya sebuah kehidupan yang tak lekang oleh perubahan. Keyakinan akan adanya kehidupan dalam kekekalan inilah yang memampukan kita untuk bertahan dalam berbagai iklim kehidupan. Ada kalanya hidup ini bersemi, semua bunga mekar indah, namun ada kalanya daun berguguran, suatu ketika mentari bersinar cerah, namun di lain waktu tak nampak secercah cahayanya. Dengan memandang cemara kita diingatkan, bahwa ada yang melampaui segala macam perubahan dan kesulitan yang menerpa. Ada pengharapan akan kekekalan, dan kita diajak mencicipnya dengan memandang cemara.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-8566191148260971874?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/8566191148260971874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/belajar-dari-cemara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/8566191148260971874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/8566191148260971874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/belajar-dari-cemara.html' title='Belajar dari Cemara'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-7729067852947985149</id><published>2008-12-13T19:22:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T19:26:31.134-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='merenung'/><title type='text'>Bercahaya di dalam Kegelapan</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;"&gt;Bercahaya di dalam Kegelapan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;by: Rony C. Kristanto&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;"Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya" (Yoh 1:5)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kapankah terang itu menjadi efektif? Apakah ketika terang itu memiliki kualitas yang besar, misalnya lampu dengan daya ribuan watt? Lampu yang digunakan untuk menerangi pertandingan sepakbola di sebuah stadion pada malam hari dapat mengubah suasana stadion itu menjadi terang benderang laksana siang hari. Tapi cobalah nyalakan lampu itu pada siang hari yang cerah. Meskipun lampu itu berdaya ribuan watt, namun itu tidak mengubah dan mempengaruhi kualitas terang yang sudah dipancarkan oleh matahari. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun berbeda situasinya ketika suatu malam aliran listrik di rumah kita tiba-tiba padam, kita segera berupaya mencari sumber cahaya, biasanya senter atau korek api, cahaya dari sebatang korek api itu mampu menuntun kita untuk menemukan lilin, menyalakan lampu emergensi, ataupun generator. Cahaya sekecil itu cukup, karena ada di tempat yang tepat.&lt;br /&gt;Jadi permasalahannya tidak terletak pada berapa besar daya dari terang itu, namun lebih pada dimanakah terang tersebut ditempatkan? Acapkali kita merindukan untuk dapat menerangi kehidupan sesama dan sekeliling kita, namun tidak jarang pula kita merasa sinar yang kita pancarkan tidak lagi efektif. Karena bisa jadi sekeliling kita sudah begitu terang. Maka, berhentilah sejenak, evaluasi diri dan amatilah sekeliling, apakah terang kita dibawa ke dalam kegelapan atau jangan-jangan kita nyalakan di tengah siang hari yang cerah? Kalau ternyata selama ini kita sebatas berkumpul dan memancarkan cahaya di antara sesama terang, maka mari kita langkahkan kaki, menjadi seperti sebatang korek api tadi, kecil nyalanya namun berkualitas dan banyak berguna, karena mau berada di dalam kegelapan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-7729067852947985149?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/7729067852947985149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/bercahaya-di-dalam-kegelapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/7729067852947985149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/7729067852947985149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/bercahaya-di-dalam-kegelapan.html' title='Bercahaya di dalam Kegelapan'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3650371330665813845.post-4445359924098696514</id><published>2008-12-13T19:04:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T19:20:29.552-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='merenung'/><title type='text'>Ukuran Kesuksesan</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Ukuran Kesuksesan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;(2 Tim 4: 6-9)&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;by: Rony C. Kristanto&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman" (2 Tim 4: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang segera diingat dan melintas dalam benak kita ketika membaca ayat tersebut? Sebuah kolom di surat kabar, yang berisi sebuah foto dan sederet nama, ya sebuah berita duka. Begitu seringnya kita membaca ayat ini dikutip, sehingga kita sudah menjadi begitu terbiasa dengan ayat tersebut dan bahkan ayat itu mungkin sudah kurang bermakna lagi bagi kita. Sehingga kita hanya mengenali ayat tersebut sebagai ‘penghias’ sebuah berita duka dan ungkapan bela sungkawa. Padahal sebenarnya ayat ini mengungkapkan isi hati Rasul Paulus yang setia dan konsisten dalam menjalani keyakinan yang dihidupinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika kita mendengar seseorang mengkisahkan tentang kerja keras dan semua jerih lelah serta perjuangan hidupnya selama ini, maka biasanya kisah itu diakhiri dengan sebuah &lt;em&gt;“success story”,&lt;/em&gt; dimana orang tersebut kini tidak lagi hidup dalam kesusahan, bergelimang harta, serta menikmati masa senjanya dengan bahagia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kesuksesan dalam hidup ini kerapkali hanya diukur dengan capaian secara materi. Sehingga kadang kita jadi kehilangan kekritisan untuk mempertanyakan asal muasal dari materi yang dikumpulkan oleh seseorang. Apakah benar sebagai buah kerja keras dan kesetiaannya pada iman dan nilai yang diteladankan oleh Kristus sendiri. Atau hasil dari korupsi, penggelapan pajak, ataupun dengan menekan upah buruh di bawah kebutuhan layak mereka? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bagaimana kita mengukur dan memaknai kesukesan dalam hidup kita? Sungguhkah nanti ketika ‘pertandingan’ hidup kita sudah berakhir dan ayat tersebut dicantumkan dalam kolom berita duka, maka memang hidup kita sudah berpadanan dengan ayat tersebut. Kesuksesan kita bukan sekedar yang dilihat oleh orang lain, namun terlebih karena meter demi meter dan kilometer demi kilometer sebelum mencapai garis akhir itu kita jalani dengan meneladani Kristus. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3650371330665813845-4445359924098696514?l=rony-chandra.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rony-chandra.blogspot.com/feeds/4445359924098696514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/ukuran-kesuksesan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4445359924098696514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3650371330665813845/posts/default/4445359924098696514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rony-chandra.blogspot.com/2008/12/ukuran-kesuksesan.html' title='Ukuran Kesuksesan'/><author><name>Rony C. Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10947482159780180388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_k2DOl71UiB4/SUDnpikaAtI/AAAAAAAAABg/PDNnj8vVe1E/S220/rony.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
